Features

Siapa Penggerak Dunia?

Selasa, 14 March 2017 08:18 WIB Penulis:

MI/Duta

RABU pekan lalu, selama sehari seluruh dunia membicarakan perempuan. Hari itu bertepatan dengan 8 Maret, Hari Perempuan Internasional. Momen tersebut, terutama di negara-negara maju, dirayakan cukup semarak sebagai tanda solidaritas akan masih seringnya kontribusi perempuan terhadap perekonomian dan masyarakat diabaikan. Padahal, perempuan bisa jadi merupakan penggerak perekonomian dunia yang sesungguhnya.

Hal itu terbukti saat para perempuan di AS merayakannya dengan gerakan mogok kerja selama sehari. Mereka tidak bekerja, berhenti mengurusi orang lain, juga menahan diri berbelanja. “Tujuan dari tindakan tersebut untuk menunjukkan kekuatan ekonomi signifikan yang dimiliki wanita AS sembari mengingatkan akan ketidakadilan ekonomi yang mereka alami,” ujar pihak Women’s March Organizers, seperti dilansir dari situs World Economic Forum (WEF), akhir pekan lalu.
Lantas, apa yang akan terjadi andai perempuan benar-benar berhenti bekerja? WEF pun mencoba memberi gambaran.

Salah satunya ialah lebih sedikit uang yang berputar untuk hal-hal yang benar-benar penting. Ketika perempuan menghasilkan uang, mereka akan menggunakannya untuk sesuatu yang bisa memberi perbedaan dalam hidup, umpama pendidikan anak dan kesehatan. Studi Bank Dunia di Brasil menyimpulkan, tatkala perempuan jadi pengendali anggaran rumah tangga, daya hidup anak di rumah tangga tersebut naik 20%.

Hal senada dikemukakan peraih Nobel Ekonomi Muhammad Yunus. Dari interaksi dengan nasabah pinjaman mikronya selama bertahun-tahun, ia menemukan, jika sang istri menjadi ‘manajer’ rumah tangga, pemanfaatan uang keluarga lebih optimal.

“Kami melihat uang yang diberikan kepada perempuan akan memberi lebih banyak manfaat kepada keluarga daripada jika diberikan kepada laki-laki. Untuk itu, kami mengubah kebijakan pinjaman sehingga kini lebih memprioritaskan perempuan,” kata Yunus.

Besarnya kontribusi wanita dalam perekonomian sesungguhnya juga terdapat dalam tugas-tugas mereka yang tidak dibayar. Bila perempuan di rumah Anda mogok belanja, bersih-bersih, ataupun memasak, Anda tentu harus menggaji seseorang untuk pekerjaan rumah tangga tersebut dengan upah sesuai dengan standar berlaku.

Adalah fakta, perempuan rata-rata bekerja 4 jam dan 47 menit pada kegiatan-kegiatan tidak dibayar. Bandingkan dengan laki-laki yang hanya menjalankan 1,5 jam pekerjaan rumah.

Dengan wanita diam di rumah pada Hari Perempuan Internasional, penjualan industri ritel pun terpukul jatuh. Di beberapa negara, wanita mengendalikan mayoritas dari belanja konsumen, sekitar 85% yang terjadi di AS. “Pemogokan berpotensi mengakibatkan kerugian ekonomi yang serius,” ujar Joe McCarthy menekankan dalam blog Global Citizen.

Sebaliknya, bagi perempuan pemilik bisnis, yang mencapai 40% dari total perusahaan swasta di AS, aksi mogok itu bisa jadi anugerah lantaran para pemogok kerja diajak untuk berbelanja di tempat mereka sebagai tanda solidaritas. (Try/E-1)

Komentar