Polkam dan HAM

Perjanjian Dulu, Salat Kemudian

Selasa, 14 March 2017 06:43 WIB Penulis: Mal/Nic/Gol/X-4

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berbicara dengan keluarga almarhum Nenek Hindun di Kelurahan Karet, Jakarta, Senin (13/3). -- MI/Galih Pradipta

YOYO Sudaryo, 56, warga Pondok Pinang, Jakarta Selatan, enggan berkomentar banyak ihwal kabar adanya penolakan untuk menyalati jenazah ibu mertuanya, Siti Rohbaniah, 80, di masjid tempat ia tinggal, Masjid Darussalam.

Ia lebih memilih melupakan kejadian yang viral di media sosial itu. Yoyo sendiri tidak mengerti adanya tudingan ia sebagai pendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat oleh warga sekitar. Apalagi, ibu mertuanya itu tidak memilih saat pemilihan putaran pertama pada 15 Februari 2017 lalu.

“Saya enggak pernah ikut-ikut politik. Saya enggak mengerti kenapa. Bagi saya, siapa pun gubernurnya enggak ada pengaruhnya untuk kehidupan keluarga saya,” ujar Yoyo saat ditemui di rumahnya, Jalan Pondok Pinang 3, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Ihwal kabar adanya surat pernyataan dukungan untuk pasangan calon gubernur muslim (Anies Baswedan-Sandiaga Uno) yang disodorkan Ketua RT 05/02, Makmun Ahyar, Yoyo membenarkannya. Surat itu sebagai syarat agar jenazah ibu mertuanya itu bisa disalati di masjid oleh warga sekitar. “Memang benar ada (surat dukungan) itu,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengusaha kayu itu.

Surat pernyataan itu berbentuk tulisan tangan sebagai pernyataan dukungan ke pasangan Anies-Sandi yang disodorkan pada Kamis (9/3) setelah jenazah dikafani.

Saat akan dimintai konformasi kemarin, Ketua RT 05/02 Makmun Ahyar tidak ada di rumah.

Nasib tak sedap juga dialami keluarga Hindun binti Raisan, 77. Musala Al-Mu’minun yang berjarak sekitar 100 meter dari Masjid Al-Jihad juga tidak diperkenankan menjadi tempat untuk menyalati jenazah warga sekitar, Hindun binti Raisan, lantaran berbeda pilihan politik.

Anak keempat Hindun, Sunengsih, 46, menceritakan kronologi pengurusan jenazah ibunya yang meninggal pada Selasa (7/3). “Saya izin minta ibu saya disalati di musala, terus Ustaz Syafi’i (pengurus musala) bilang ‘Enggak usah, enggak ada orang’,” ujar Neneng.

Menurut Neneng, selanjutnya Ustaz Syafi’i pun memimpin salat jenazah di ruang tamu rumah Neneng. Keluarga mengira bahwa penolakan menyalati jenazah ibunya di musala beraroma politis.

Saat pilkada DKI putaran pertama, Neneng menyebut ibunya tak bisa berangkat ke TPS lantaran sudah lanjut usia. Petugas TPS pun kemudian datang ke rumah Neneng untuk memfasilitasi pencoblosan. Hindun saat itu mencoblos calon nomor urut 2, Basuki-Djarot. Satu hal yang disayangkan pihak keluarga ialah proses pencoblosan dilakukan tidak secara tertutup.

Kemarin, cagub Basuki Tjahaja Purnama menyambangi kediaman almarhumah Hindun di Jalan Karet Karya II, Setiabudi, Jakarta Selatan. Basuki kemudian menggelar pertemuan tertutup dengan pihak keluarga.

Menurut dia, peristiwa penolakan untuk menyalati jenazah merupakan sebuah tindakan yang memalukan bagi bangsa. “Sudahlah, sebaiknya kita ikuti saja ajaran agama yang benar. Jangan dipolitisasi. Teman-teman media juga jangan tulis lagi, tutup saja kasus itu,” ujar Basuki. (Mal/Nic/Gol/X-4)

Komentar