Kesehatan

Berpetualang Mengabdi ke Pelosok Negeri

Senin, 13 March 2017 03:30 WIB Penulis:

DOK KEMENKES RI

TINGGAL menunggu hari, Franciska Ivana, 38, akan meninggalkan gemerlapnya kehidupan kota untuk mulai mengabdi di pelosok negeri.

Dokter yang baru saja lulus pendidikan spesialis obstetri dan ginekologi pada akhir tahun lalu itu diwajibkan mengikuti program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS).

Lulusan program spesialis Universitas Sam Ratulangi itu ditugasi di RSU Karel Sadsuitubun.

Letak RS tipe C tersebut tepatnya di Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, atau ribuan kilometer ke selatan, dari tempat Franciska bersama suami dan anak semata wayangnya tinggal di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Saat pembekalan menjelang keberangkatan, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, wanita berkulit putih ini tampak ceria dengan selalu menebar senyum.

Namun, dari sorot matanya, terlihat dia juga sedikit menyimpan rasa khawatir.

Berkali-kali lulusan dokter umum Universitas Atma Jaya, Jakarta, itu melirik ke layar telepon pintarnya.

Sekadar mencari gambaran kondisi di tempat penugasan barunya.

"Sepertinya pantai di sana bagus-bagus," ujarnya sembari tersenyum.

Sebagai seorang yang telah mantap memilih profesi sebagai dokter, dia menyadari tugasnya ialah mengabdi.

Bertugas di wilayah pelosok yang masuk kekurangan dokter spesialis, menurut dia, ialah risiko yang dia sadari sejak kuliah.

Namun, di sisi lain, Franciska juga merasa berat harus meninggalkan keluarganya di Manado.

"Suami dan anak tidak bisa ikut. Suami bekerja dan si kecil sudah masuk sekolah."

Masa pembekalan di Jakarta dia manfaatkan sepenuhnya untuk menggali sebanyak-banyaknya info terkait dengan tempat tugasnya yang baru.

Saat bertemu dengan Dirut RSU Karel Sadsuitubun, dia mengetahui ada seorang lagi spesialis bedah yang ikut program itu bersama dirinya.

"Ada kolega dari bedah ikut bersama saya di sana. Tetapi di RSU itu belum ada dokter anestesi. Jadi, kalau ada kasus operasi, akan didatangkan dari Ambon," ujarnya.

Kendati mengaku sedikit khawatir, Franciska tetap bangga ditugasi ke pelosok.

Menurutnya, masyarakat di Indonesia Timur membutuhkan sosok dokter spesialis seperti dirinya.

Dia ingin berkontribusi bagi kesehatan masyarakat di sana.

Sebagai kelompok angkatan pertama program WKDS, dia berharap program itu bisa terus berlanjut.

Franciska juga mengaku, setahun bertugas di sana akan menambah pengalaman hidup bagi para dokter untuk menjalankan profesinya.

Namun, Franciska sangat berharap, di wilayah penempatan nanti, sisi keamanan, perumahan, serta sarana bagi dokter untuk bekerja benar-benar diperhatikan.

Minta jaminan

Harapan serupa juga disampaikan Hendra Herizal.

Dokter spesialis bedah lulusan Universitas Padjajaran itu berharap ada jaminan dari pemerintah agar daerah memberikan semua kebutuhan para spesialis untuk bertugas.

Salah satunya ialah kepastian kejelasan insentif dari daerah.

"Saya baca di media per bulan katanya bisa dapat Rp80 juta dari insentif pusat, daerah, dan jasa medis. Tapi harus ada payung hukumnya soal itu," ujar spesialis yang masih berusia 30 tahun itu.

Dirinya tidak keberatan dengan WKDS.

Terlebih dirinya yang merupakan dosen PNS di Universitas Andalas bersekolah spesialis dibayari pemerintah.

Lagi pula, dia ditempatkan di RS Arosuka, Kabupaten Solok, yang masih satu provinsi dengan tempatnya bekerja, yaitu di Sumatra Barat.

"Visi dan misi dari program ini bagus. Buat saya, yang penting bisa bekerja aman dan nyaman saja di sana," ujar dokter yang masih lajang itu. (Denny Parsaulian/H-3)

Komentar