Tifa

Permainan Kata di Atas Tembaga

Ahad, 12 March 2017 03:29 WIB Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2)

MI/ABDILLAH M MARZUQI

ADAKAH yang lebih tinggi dari kasih, sayang, ikhlas, dan cinta? Tidak ada yang lebih tinggi dari itu. Setidaknya begitulah kesepakatan yang banyak diikuti. Namun, betapa terkejutnya jika ada yang bilang bahwa ternyata ada yang melebihi semua itu. Keterkejutan itulah yang kemudian digambarkan Rocka Radipa dalam bentuk karya yang elok. Pelat tembaga yang kaku dan beku, ia ubah sedemikian cantik. Tentu dengan latar konsep dan ide yang matang dan makna yang dalam.

Itu ialah salah satu karya Rocka berjudul Affection (100 cm x 200 cm). Rocka Radipa tidak sendirian dalam berpamer karya. Ia bersama dengan seniman muda lain, yakni Kemalezedine. Keduanya menggelar karya dalam tajuk Solidfusion di Edwin’s Gallery pada 8–19 Maret 2017. Pameran ini dikuratori oleh Leonhard Bartolomeus. Tajuk pameran merupakan permainan kata yang terbentuk dari solid dan fusion. Kata ini mencoba untuk menggambarkan proses kreatif dari dua seniman, Kemalezedine dan Rocka Radipa. Keduanya memilih bahan yang terbilang unik. Keduanya tertarik untuk meng­eksplorasi permukaan pelat logam sebagai sosok media.

“Pameran ini hendak menyajikan hasil eksplorasi tersebut. Dengan menggunakan lembaran logam, baik pemadatan ide mereka dalam sesuatu yang keren, tangguh, dan sulit. Oleh karena itu penggunaan istilah pengganti kanvas dalam kondisi ini kurang tepat,” terang Bartolomeus. Berdasarkan catatan Bartolomeus, penggunaan pelat logam sebagai lukisan bukanlah hal yang sama sekali baru. Setidaknya dapat ditelusuri kembali ke abad ke-15. Jenis pekerjaan secara teknis dikenal sebagai enamel. Logam ini memang cukup keras di masa lalu karena sifat material yang padat dan halus sehingga penggunaan pelat logam ini cukup sulit.

Simbol khas Bali
Menurut Bartolomeus, Kemal mendapat pengaruh kuat dari Bali. Hal ini konsisten ditunjukkan dengan garis tebal-tipis yang mengisi hampir seluruh bidang seni lukis. Selain itu, Kemal juga sering menyiratkan simbol khas Bali, sedangkan Rocka memiliki kecenderungan lain. Ia menggunakan pelat tembaga sebagai media berkarya. Itu membuat komposisi menjadi salah satu elemen penting. Rocka menempatkan banyak benda dan unsur-unsur dalam pelat tembaga dan memberikan intensitas visual yang kuat.

“Saya mencoba untuk melihat dan membandingkan visual pendekatan dengan cara orang membuat batik. Pertama, ia menempatkan komponen utama dalam bidang gambar, dan kemudian dilanjutkan dengan memberikan elemen tambah­an yang memperkuat narasi dari komponen utama, baru kemudian diisi dengan komponen yang lebih kecil,” lanjut Bartolomeus. Karya-karya dua seniman ini mencoba memanfaatkan ruang, intensitas, serta rasa yang berbeda. Penggunaan pelat logam ke dalam sebuah pernyataan yang kuat dari ekspresi mereka terhadap materi sekitarnya dan tentu saja memberikan rasa yang berbeda.

“Saya pikir kemampuan mereka untuk memperkuat ide, fusi ide, dan menggabungkan unsur-unsur yang berbeda adalah hal-hal yang dapat menambah daftar panjang artis potensial di ranah seni kontemporer kita,” pungkas Bartolomeus. Mengingat bahan material dan teknik yang digunakan, akan sangat susah untuk merubah ataupun menambahkan gambar pada lempeng yang telah dicetak. Itulah sebabnya, metode brass etching dalam pembuatan karya Rocka sangat tidak mentoleransi kesalahan desain. Itu pula yang membuat Rocka punya pendapat tersendiri tentang makna berkarya dan arti sebuah karya. “Jadi kalau saya menciptakan karya dan saya merasa bersalah, maka saya belum berkarya. Karya itu tidak pernah salah untuk saya sendiri. Apa pun yang sudah keluar,” tegas Rocka.(Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar