Tifa

Makna di Balik Keteduhan Karya

Ahad, 12 March 2017 03:14 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi abdi_zuqi@mediaindonesia.com

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KESAN teduh langsung terasa ketika ruang pamer ini dimasuki. Terbukti sudah ungkapan yang menyebut lukisan bukan hanya tumpukan warna belaka, melainkan pembawa rasa dan jiwa. Paduan warna yang harmonis meski menggabungkan beberapa warna yang sebenarnya sangat bertolak belakang. Tidak ada yang menegasi barang satu bingkai. Semua berpadu memanjakan mata. Setidaknya begitulah kesan pertama saat melihat karya Sidik Martowidjojo dalam pameran tunggal Iluminate di Museum Nasional pada 2-20 Maret 2017. Helatan itu dikuratori Jim Supangkat. Lalu apa yang menjadikan Sidik begitu teduh dalam karya-karyanya. Ketenangan memuncul dan memancar dalam setiapnya. Tak kurang dari 77 lukisan dipamerkan menegaskan hal itu. “Jadi, kejernihan dari karya itu karena kejernihan hati,” ungkap Sidik.

Sidik tercatat sebagai penerima penghargaan dalam pameran di Caroussel du Louvre Paris pada 2014. Ia mendapat dua sekaligus, yakni Painting Gold Prize dan Medaille d’Orc dari Caroussel du Louvre. Proses panjang dilewati Sidik untuk menjadi seorang seniman besar. A Anzieb menjelaskan bagaimana perjalanan Sidik menapaki jalan menjadi seorang seniman besar. Dalam tulisan berjudul Sidik W Martowidjojo, Anzieb menjabarkan garis besar perjalanan Sidik. Sidik W Martowidjojo lahir di Malang, Jawa Timur, pada 1937 dengan nama Ma Yong Qiang.

Sebagai orang Tionghoa yang di tengah kebudayaan Tionghoa, Sidik mengenal seni lukis Tiongkok sejak kecil dan mula melukis pada masa remaja. Dari masa kecil Sidik, ketika ia baru mengenal aksara kanji dan ia selalu memperoleh nilai jelek dalam mata pelajaran tersebut, sampai ketika ia menjadi guru sekolah dasar. Sidik juga melakoni berbagai profesi sebelum akhirnya memutuskan untuk berpenuh di jalan seni. Ia pernah terjun ke dunia bisnis menjadi seorang pedagang yang selalu merugi dan ditipu orang lain. Pada 1993 Sidik melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk mengunjungi tanah leluhurnya di Fuging, Provinsi Pujian di Tiongkok Selatan. Bersentuhan dengan alam di Tiongkok dan kebudayaan Tiongkok pada jarak dekat membuat Sidik merasa menemukan realitas dan keindahan yang tecermin pada lukisan-lukisannya yang mengopi karya-karya para master seni lukis Tiongkok.

Dihargai di Tiongkok
Pengalaman ini lalu membuatnya mengambil keputusan untuk bekerja sepenuhnya sebagai pelukis. Kini Sidik dikenal sebagai pelukis Indonesia yang diakui dan dihargai di Tiongkok. Dalam catatan kuratorial, kritikus terkemuka Tiongkok Liu Xilin mengemukakan kecenderungan Sidik mengangkat tema gunung, laut, dan awan pada lukisan-lukisannya menunjukkan Sidik masih mengembangkan estetika seni lukis Tiongkok klasik yang melihat alam sebagai gerakan dinamis yin dan yang. Dualitas kenyataan yang diyakini mendasari keseimbangan alam semesta pada filsafat Tiongkok.

Gambaran alam pada lukisan-lukisan Sidik sejak 2003 menunjukkan perubahan. Kadang-kadang figuratif, kadang-kadang abstrak, atau, semiabstrak yang memperlihatkan gambar rekaan tentang alam. Liu Xilin pun berpendapat lukisan-lukisan Sidik tidak lagi sepenuhnya terikat pada estetika seni lukis Tiongkok klasik. Gambaran alam yang tidak realistis pada lukisan Sidik terkesan alegoris (simbolik, metaforis) dan mencerminkan alam pikiran. Perubahan itu terjadi mungkin karena Sidik dipengaruhi seni lukis Barat yang berkembang di Indonesia sejak dikenalkan Belanda sekitar 300 tahun lalu. Kemungkinan lain ialah Sidik dipengaruhi pemahaman seni lokal Indonesia.

Itu pula yang ditegaskan Sidik. Ia mempelajari keindahan dan keharmonisan seni lukis dari Chinese painting. Sidik berangkat dari keseimbangan alam, lalu memadukannya dengan keutuhan bentuk dari lukisan barat. Pada tahap terakhir, ia memaknai semua itu dengan filsafat. “Saya mempelajari lukisan-lukisan barat. Itu semua menjadi suatu utuh 3 dimensi. Kita menggabungkan ketengan dari Timur dengan bentuk dari bari Barat. Lalu saya gabungkan lagi dengan filsafat. Saya gabungkan semua itu,” tegas Sidik.

Filsafat Jawa
Selain itu, sejak mula melukis, Sidik merasa ungkapannya lahir juga dari rasa yang pada filsafat Jawa punya kaitan dengan pemahaman seni. Sidik sudah tidak ingat kapan kesadaran ini muncul pada proses melukisnya karena berbagai paham pada filsafat dan kebudayaan Jawa didapatnya dari kehidupan sehari-hari. Kebudayaan jawa sangat kental dalam diri Sidik. Filsafat Jawa lalu dituangkannya dalam bingkai lukisan. Ajaran tentang keindahan, kesempurnaan, keharmonisan, dan ketenteraman hidup. Seperti corak kabut yang hampir ada dalam setiap lukisan Sidik. Ternyata itu makna tentang hidup yang tidak pasti. Manusia berada di dalamnya, dan harus menyibak kabut itu.

“Hidup ialah pratela. Pratela itu remang-remang, tertutup kabut. Jadi hidup itu semua kita tidak bisa lihat nanti bagaimana. Kita ingin tahu ingin lihat dibalik remang-remang itu.” Bagi Sidik, justru kabut yang tidak menentu dan remang-remang itulah yang menjadikan hidup jadi menarik. Jika semua tahu bakal jadi apa, dan dunia diliputi kepastian, hidup tidak lagi menarik. Dalam hal lukisan bertema bunga, Sidik punya pemaknaan tersendiri. Baginya sebetulnya kehidupan itu indah. Sebetulnya dunia ini seperti surga. Namun, untuk mencapai itu, ada syarat yang harus dipenuhi. “Kalau kita berbunga, mau ­menikmati kebesaran tuhan. Tidak emosi yang dikeluarkan, tapi kelereman hati. Kalau kita bisa legawa, kedamaian akan tercipta,” tegas Sidik.

Tajuk Iluminate dipilih juga bukan berdasarkan pertimbangan matang. Sidik mengaku sangat mencintai filsafat. Itu pula yang lalu ia wujudkan dalam pameran itu. “Saya itu lebih senang ke filsafat. Karena saya mempelajari filsafat. Filsafat saya itu menuju ke kesempurnaan, menuju ke manunggaling kawula lan gusti,” terang Sidik. Pancaran atau iluminate ialah turunan dari filsafat Sidik. “Jadi kita itu pancaran dari ilahi,” tegasnya. Menarik untuk memperhatikan ungkapan Jim Supangkat bahwa kendati mendapat pengakuan di Tiongkok karena dinilai telah mengembangkan seni lukis Tiongkok, Sidik merasa lukisan-lukisannya belum sepenuhnya terjelaskan. “Ia menyadari melukis berdasarkan kaidah-kaidah seni lukis Tiongkok tidak membuat ia tercabut dari kehidupan di Tanah Air,” terang Jim dalam kuratorialnya. (M-2)

Komentar