PIGURA

Jitabsara

Ahad, 12 March 2017 03:00 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

INTEGRITAS para dewa di Kahyangan Jonggring Saloka jadi perhatian serius Kurawa dan Pandawa menjelang pecahnya Bharatayuda. Dua pihak trah Abiyasa yang berseteru itu sama-sama waswas atas skenario yang dibuat dewa. Dalam konteks ini, selain itu merupakan domain dewa, mereka sebagai penyelenggara serta wasit Bharatayuda. Kurawa mencurigai dewa emban cinde emban siladan (pilih kasih) alias berpihak kepada Pandawa. Sebaliknya, Pandawa khawatir, dengan besarnya kekuasaan, para dewa dikhawatirkan malah kurang profesional sehingga Bharatayuda justru tidak akan bermuara pada keadilan.

Situasi demikian ini yang kemudian membuat Kurawa berkeras merekrut Kresna dalam barisannya. Titah berdarah Mandura titisan Bathara Wisnu dewa keadilan ini menjadi ‘magnet’ karena berkemampuan ngerti sak durunge winarah, mengetahui segala hal yang belum terjadi. Dengan kelebihannya itu Kresna dipercaya mengetahui secara detail isi skenario Bharatayuda. Maka, dari sini diyakini bahwa siapa yang memiliki pendamping Kresna, bakal berjaya di Kurusetra.

Lanceng putih
Syahdan, pemimpin Kurawa yang juga penguasa Negara Astina Prabu Duryudana menggelar rapat paripurna di ruang tengah istana. Pertemuan membahas upaya ‘menculik’ Kresna dari tapa ‘tidur’ di Balekambang. Hadir tamu penting Prabu Baladewa yang memang secara khusus diundang. Peserta rapat lain dari kalangan internal istana, di antaranya Begawan Durna, senapati Karna Basusena, dan sejumlah keluarga teras Kurawa. Dalam pertemuan itu, Duryudana dengan rendah hati memohon Baladewa berkenan membantu Kurawa memboyong Kresna. Permintaannya tersebut, selain alasan kedekatan pribadi dan sesama menantu Prabu Salya, juga Baladewa ialah kakak kandung Kresna. Perhitungannya, Baladewa lebih mudah membujuk adiknya agar bersedia menyeberang ke Kurawa.

Baladewa dikenal temperamental, tapi hatinya halus dan gampang terenyuh serta enteng mengayomi waris karib. Maka, ketika dimintai tolong Duryudana, dengan enteng ia menyanggupi. Malah Baladewa mewanti-wanti Kurawa tidak cawe-cawe dalam urusan tersebut. Sikapnya itu dilatarbelakangi watak Kurawa yang tidak tahu etika dan kesopanan serta biasa grusa-grusu (ngawur). Ini yang justru dikhawatirkan akan menyulitkan Baladewa membujuk Kresna. Setelah satu demi satu acara protokoler rampung, Baladewa minta pamit untuk kembali ke Mandura. Ia berharap Duryudana dan Kurawa memanjatkan puja dan doa kepada Sanghyang Manon agar misinya berhasil. Pertemuan lalu diakhiri dengan kembul bujana andrawina (makan bersama).

Di lain hari, di luar sepengetahuan Duryudana, Patih Sengkuni dan Karna membawa bala tentara Kurawa mendahului datang di Balekambang. Namun, sebelum sampai di tempat yang dituju, mereka dihadang Setyaki dan Udawa. Kedua orang kepercayaan Kresna itu mengusir mereka. Maka, terjadilah perkelahian. Akan tetapi, meski memiliki kekuatan besar, rombongan yang dipimpin Sengkuni dan Karna terpaksa menyerah. Tidak lama kemudian datanglah Baladewa. Betapa kagetnya ia mendapati elite Astina dan Kurawa berada di tempat tersebut. Ini berarti tidak mengindahkan pesannya. Karena itu, ia naik pitam dan membentak Sengkuni, Karna, serta bala Kurawa untuk segera pulang ke Astina.

Baladewa kemudian melangkahkan kaki mendekati tempat Kresna sedang ‘berbaring’. Namun, sebelum melaju lebih jauh, ia dihampiri Udawa. Keduanya tidak saling asing karena pernah hidup prihatin bersama-sama dari kecil hingga berangkat dewasa dalam asuhan Demang Antagopa-Ken Sagopi di Dusun Widarakandang. Maka terjadilah perbincangan hangat, apalagi mereka sudah lama tidak bersua. Baladewa sibuk di Mandura sebagai raja, sedangkan Udawa mengemban amanah sebagai patih di Dwarawati yang dipimpin Kresna. Di antara hal yang disampaikan Udawa adalah fatwa Kresna bahwa siapa pun tidak boleh mendekatinya, apalagi membangunkannya. Apabila itu dilanggar, yang bersangkutan akan terkena walat dahsyat. Tahu akan kesaktian adiknya, Baladewa mengurungkan niatnya.

Dalam kisahnya, Kresna yang tampak sedang tidur itu sesungguhnya sedang tapa ngrogoh sukma. Sosok yang teronggok di Balekambang itu sekadar wadak, sedangkan rohnya sedang terbang menuju Kahyangan. Di kerajaan dewa, sukma Kresna berubah wujud menjadi lanceng (sejenis lebah) putih. Di sana ia menyaksikan langsung rapat para dewa yang sedang menyusun skenario Bharatayuda. Juru tulisnya Bathara Penyarikan. Setelah dirasa tidak ada yang kicir (tertinggal), skenario yang kemudian diberi judul Jitabsara tersebut tinggal disahkan pimpinan dewa, Bhatara Guru. Namun, sebelum tanda tangan, Guru mengoreksi karena belum ada nama Baladewa dan Antareja. Ia perintahkan agar keduanya saling dihadap-hadapkan dalam Bharatayuda.

Namun, ketika Bathara Penyarikan bersiap menulis, lanceng putih datang cepat menghambur dan menyambar tinta sehingga menumpahi kertas. Sigap dengan apa yang terjadi, pasukan dorandara memburunya. Tidak perlu waktu lama, tamu tak diundang tersebut dapat diringkus. Saat tertangkap, lanceng mendadak berubah wujud menjadi sukma Kresna yang kemudian dihadapkan kepada Bathara Guru. Setelah ditanyakan urus­annya ke Kahyangan, Kresna mengaku ingin mendapatkan Jitabsara. Ia juga mengkritik keputusan dewa tentang akan dipertemukannya Baladewa dengan Antareja di kurusetra. Menurut Kresna, bila keduanya terlibat dalam Bharatayuda, justru akan mengacaukan ‘kodrat’ jagat. Perang antara Kurawa, lambang keburukan, dan Pandawa, simbol kebaikan, tidak akan melahirkan keadilan.

Terbuka masukan
Dengan menimbang masukan itu, Guru memutuskan urusan Baladewa dan Anteraja diserahkan kepada Kresna. Kemudian, sebagai barter Jitabsara, Kresna diharuskan mengembalikan pusaka Kembang Wijayakusuma yang kesaktiannya bisa menghidupkan titah yang mati. Dalam perjalanan kembali ke wadaknya, Kresna bertemu sukma Arjuna yang memang sengaja menjemputnya. Arjuna matur bahwa Prabu Puntadewa mengundang Kresna untuk segera berkumpul bersama Pandawa di Wiratha.

Hikmah cerita itu ialah dewa tidak komprehensif menyusun skenario Bharatayuda. Bila Antareja harus turun gelanggang, tatanan perang akan berantakan. Dengan kesaktiannya, Antareja bisa membunuh siapa saja dengan hanya menjilat bekas telapak kakinya. Padahal, ia tidak bisa membedakan mana bekas telapak kawan atau lawan. Poinnya ialah dewa sebagai penyelenggara perang (kompetisi) tetap membuka diri untuk menerima masukan sehingga Bharatayuda akhirnya bisa berlangsung dengan adil, yakni yang baiklah yang menang. (M-1)

Komentar