Travelista

Bertandang ke Desa Warisan Dunia

Ahad, 12 March 2017 08:00 WIB Penulis: Fario Untung fario@mediaindonesia

MI/FARIO UNTUNG

TAK terasa, perjalanan selama kurang dari satu setengah jam sudah saya lewati. Dengan pemandangan salju yang begitu menyejukkan mata, bus melaju bak tanpa hambatan. Meski saat itu jalanan terbilang sangat lowong dan mulus, tak membuat sopir bus melaju dengan kecepatan tinggi. Lajunya masih dalam kisaran maksimal 60 kilometer per jam. Perjalanan ke arah barat laut dari ibu kota Jepang, Tokyo, itu membawa saya menuju salah satu tempat yang mendapat predikat UNESCO World Heritage Village sejak 1995, yakni Desa Ainokura di Distrik Gokayama, Prefektur Gifu, Jepang.

Ketepatan waktu dan disiplin di ‘Negeri Sakura’ memang patut diacungi jempol. Durasi perjalanan waktu yang sudah ditentukan, yakni 75 menit dari stasiun keberangkatan saya di Shin Takaoka itu, sama sekali tidak meleset. Bus yang saya tumpangi pun akhirnya berhenti di Halte Ainokura Village yang sudah tampak diselimuti salju di kanan kirinya. Mengikuti arahan petunjuk yang diberikan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 500 meter.

Dilatari salju
Meski salju sudah menutupi seluruh bagian kanan kiri jalan, suhu udara siang itu saya anggap masih cukup bersahabat karena tidak berangin. Saya pun semakin bersemangat dengan mempercepat langkah kaki meski harus menggeret koper di jalanan yang cukup mendaki itu. Ya, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya muncul. Beberapa bangunan rumah dengan atap kayu berwarna cokelat yang sudah tertutup salju sebagian mulai terlihat dari pandangan mata saya. Sekejap, seorang pria paruh baya pun langsung muncul menghampiri.

“Where do you go, sir?” tanya pria yang berdiri di tempat semacam pos informasi itu. Saya pun mengeluarkan bukti pemesanan tiket penginapan di Gassho atau rumah penduduk asli Desa Ainokura, yang sudah saya pesan dari tiga bulan lalu. Setelah melihat, pria tersebut langsung mengeluarkan peta dan menunjukkan rumah yang akan saya tinggali selama satu malam itu. “Ok, Goyomon Gassho. Just go straight about 500 meter and pass the three Gassho,” tutur pria tersebut yang menjelaskan Gassho saya akan ada setelah melewati tiga ryokan.

Saya pun langsung bergegas menuju arah yang sudah diinformasikan. Namun, kedua kaki saya seakan sulit melangkah karena pemandangan yang disajikan begitu luar biasa indahnya untuk dilewatkan. Saya pun memperlambat langkah untuk mengabadikan foto dari kamera yang sudah saya siapkan dari Jakarta. Gassho dengan latar gunung yang sudah ditutupi salju pun menjadi sangat sayang untuk dilewatkan.

Telapak tangan berdoa
Tak hanya menawarkan panorama alam dan pemandangan yang luar biasa di setiap musimnya, yang juga menarik dari Desa Ainokura ialah bentuk seluruh Gassho. Atap dari jerami yang membubung tinggi menjadi daya tarik utama karena bentuknya menyerupai telapak tangan orang berdoa. Menurut salah seorang penduduk lokal bernama Iwao, rumah-rumah di Desa Ainokura dengan gaya Gassho ialah salah satu desa yang terkenal dengan arsitektur rumah kuno dengan bubungan atau atap rumah yang berbentuk tangan orang berdoa. Bentuk itulah yang menjadikan Desa Ainokura terdaftar menjadi salah satu warisan budaya dunia.

“Bentuknya seperti tangan orang berdoa. Namun, itu juga ada maksudnya, karena untuk menurunkan salju saat musim dingin tiba di saat salju bisa mencapai ketinggian 3-5 meter,” tutur Iwao dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Menurut Iwao, suasana tradisional dan kehidupan desa ini dipelihara dengan baik serta pemandangan asli Jepang yang indah. Kondisi itulah yang membuat rakyat Jepang seperti sedang bernostalgia di zaman dulu sembari menikmati sebanyak 24 Gassho yang ada di Ainokura.

Museum rakyat Ainokura
Di desa tersebut, terdapat juga museum rakyat Ainokura, rumah-rumah pribadi yang menyediakan makanan dan penginapan, dan toko-toko suvenir di desa. Wisatawan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan penduduk lokal terkait dengan budaya tradisional mereka. Tak hanya itu, ada juga salah satu tempat yang menjadi daya tarik utama wisatawan termasuk saya, yakni spot untuk mengambil foto keseluruhan Desa Ainokura dari ketinggian. Namun, untuk mencapai spot foto tidaklah mudah, terlebih seperti sekarang ini di saat salju bisa mencapai ketiggian 2-3 meter. Saya pun harus menggunakan sepatu bot yang sudah disiapkan pemilik Gassho untuk menembus jalan salju.

Perjalanan menanjak yang berbelok-belok kurang lebih 500 meter dengan hamparan salju di setiap sudutnya cukup menyulitkan. Namun, semua terbayar ketika sudah berhasil mencapai spot foto tersebut. Akan tetapi, apa yang sudah dibayangkan untuk mengabadikan foto keseluruhan Desa Ainokura seperti di kartu pos pun buyar karena salju yang semakin lebat. Hal itu membuat pemandangan tertutup salju yang cukup pekat yang membuat hamparan Gassho tidak terlihat jelas. Ketika malam tiba, kesunyian begitu terasa, apalagi saat seperti ini yakni musim dingin ketika salju akan turun dengan lebatnya. Karena itu, menginap di Ainokura sangatlah cocok sebagai tempat peristirahatan dari kesibukan kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka.

Merasakan tinggal bersama pemilik Gassho, ada yang ketinggalan jika sudah jauh-jauh ke Desa Ainokura tetapi hanya berkunjung dan menikmati alamnya saja. Sisipkanlah waktu untuk bermalam di desa warisan budaya dunia ini agar bisa lebih mengenal kehidupan masyarakat lokalnya. Saya sendiri memang sudah mempersiapkan dari tiga bulan lalu untuk bisa merasakan bermalam di tempat ini. Semakin seru karena ketika saya bermalam, cuaca setempat sedang turun salju yang cukup lebat. (M-1)

Komentar