MI Muda

Tahu Pong, Ojek, dan Instagram

Ahad, 12 March 2017 02:00 WIB Penulis: GREGORIUS GELINO Universitas Bina Nusantara muda@mediaindonesia.com

DOK TAPONG MINIS

MENJADI penerus bisnis kuliner keluarga, menghadirkan banyak tantangan buat Jessica Hani Boediardjo, pemilik Tapong Minis. Ia melakukan banyak inovasi yang semuanya mengikutsertakan internet sebagai pengungkit sajian kebanggaan warga Semarang, Jawa Tengah. Mempertahankan resep warisan keluarga, Jessica sang generasi ketiga Tahu Pong Gereja Ayam memperbaruinya dengan merek Tapong Minis. Ukuran tahu dikecilkan sehingga pas ditempatkan dalam kemasan yang wujudnya sangat kekinian.

Pemasaran pun kini berfokus pada penjualan daring dan layanan pesan antar, menyasar anak-anak muda yang sudah cinta maupun yang ingin menjelajah cita rasa nusantara. Hasilnya, Jessica menjadi salah satu startup kuliner yang akan hadir dalam Festival Jajanan Bango 2017. Ia dianggap mampu menghadirkan kuliner tradisi dalam kemasan yang modern dan muda. Tapong yang kaya kearifan lokal menjadi salah satu dari 40 start-up kuliner nusantara dari berbagai wilayah Indonesia.

Tapong Minis kemudian menjadi salah satu dari 20 finalis yang lolos masuk ke tahap penilaian selanjutnya. Mereka diuji di depan tiga pakar kuliner dan wirausaha, yaitu Arie Parikesit, pengamat dan penggiat komunitas pelestarian kuliner nusantara, Koki Degan Septoadji yang berfokus pada penyajian hidangan khas nusantara, dan Harjono Sukarno pakar pengembangan ekonomi kreatif. Muda berbincang dengan Jessica di sela acara jumpa media, di Jakarta, Selasa (7/3). Simak ya!

Ceritakan dong perjalanan bisnis Tapong Minis?
Usahanya sudah dari 1958. Aku generasi ketiga, papinya papa yang merintisnya, nama rumah makannya Tahu Pong Gereja Ayam yang berlokasi di sebuah ruko, Jakarta Pusat. Ketika lulus, aku meneruskan tapi dengan branding berbeda, perubahan warna, tampilan, hingga konsep pemasaran. Namun, resep semua sama. Jadi, yang aku lakukan lebih fokus ke tampilan produk dan pengemasan merek ini kalau rasanya masih autentik. Pas lulus kuliah, nyari kerja juga enggak semudah itu yang kita pikirkan kan. jadi, aku mikir apa yang bisa kita lakukan dengan yang sudah ada. Aku memutuskan untuk memaksimalkan apa yang sudah ada. Usaha ini kan fasilitas sudah ada. Aku juga menyakini, kuliner nusantara itu lebih sustain, akan bertahan terus karena bakal selalu ada pecintanya. Resto papa yang bernama Tahu Pong Gereja Ayam sudah ditutup, jadi sekarang fokus ke Tapong Minis.

Kenapa namanya Tapong Minis?
Karena tadinya tahu pong itu kan gedegede. Identiknya tahu pong itu memang ukurannya besar, cuma aku bikinnya kecilkecil supaya lebih gampang makannya, lebih grab and go gitu. Pertumbuhan sekarang sudah lumayan karena dulu pecinta tahu pong cuma orang tua, sekarang bisa menarik minat anak muda.

Gimana ceritanya bisa diajak gabung sama festival jajanan ini?
Awalnya saya suka bazaar to bazaar, ini salah satu inovasi yang aku lakukan. Dua tahun intens ikut bazar. Mungkin ada salah satu tim yang mengurasi, mencoba, dan dinilai cocok, tapi memang sejak dua tahun lalu kami pendekatan untuk ikut festival ini. Di awal Tapong Minis, bisa ikut bazar sampai delapan kali setahun, kalau sekarang lebih intens ke pesanan online dan katering. Kiatnya eksis di bazar ya harus coba dulu dan diriset mana yang ramai.

Inovasi lainnya yang kamu lakukan?
Aku sekarang pakai internet juga untuk memperluas pasar. Tapong Minis juga dijual di Instagram, Facebook, dan kerja sama dengan Go Food, dan pernah kerja sama dengan Uber juga. Instagram kita @tahupongsemarang, dan Twitter @tahupongsmg. Pemasaran online ini membuat kami lebih mudah dicari. Online juga membuat pengusaha kuliner dengan modal kecil, bisa maksimal memasarkan.

Bagaimana cara kamu membuat Tapong Minis tetap eksis bahkan jadi pemain utama dalam jajanan tahu pong?
Di bisnis kuliner, harus konsisten menjaga mutu, cara, dan sistemnya. Jaga juga cita rasa supaya tetap sama saat dijual di mana pun, kapan pun. Tapong Minis ini sistemnya sudah ada, jadi kita stand by dengan Go Food dan rutin ikut bazar. Saat ini belum berencana buka outlet karena masih cari pasar terbaik, supaya bisa sustain, bisnis kuliner ini kan cukup tricky.

Apa saja produk yang kamu jual?
Ada tapong komplet dan spesial seharga Rp35 ribu, gimbal Rp33 ribu, telur Rp30 ribu, polos Rp25 ribu. Kami juga jualan pork sambal matah, tetapi alatnya dibedakan dengan peranti masak lainnya.

Berapa omzet Tapong Minis saat ini?
Sekitar Rp30 juta-60 juta per bulan.

Apa ke depannya untuk Tapong Minis?
Mimpi kan harus gede ya? Pengin ada di seluruh Indonesia sih. Pengin Tapong Minis tuh bahkan mungkin di luar negeri, negara tetangga deh seperti Malaysia, Singapura mereka akan tanya, Tapong Minis dari mana nih? Dari Indonesia, dari Semarang. (M-1)

Komentar