Kuliner

Lembutnya Wagyu Gifu

Ahad, 12 March 2017 00:14 WIB Penulis: (Ros/M-1)

DOK HIDA BEEF

SAKING lembutnya, rahang nyaris tak bergerak saat mengunyah seiris daging sushi Hida Beef. Teksturnya yang juicy dan lembut membuat daging asal Gifu, Jepang, itu seakan meleleh saat dikunyah dalam mulut. Selain sushi, daging dihidangkan dalam menu sukiyaki, shabu-shabu, dan steik. Setiap kali usai menikmati jenis hidangan, para tamu undangan yang terdiri dari chef di beberapa restoran high-end di Jakarta harus mengisi form penilaian.

“Hasil penilaian para chef itu termasuk yang akan kami analisis terkait dengan potensi peluang pasar daging Hida Beef di Indonesia yang berpenduduk 250 jiwa,” ujar Tomohito Hayano, Manager of Agricultural Products Distribution Division, Department of Agricultural Policy dari pemerintahan Prefektur Gifu, pada acara food tasting, di Jakarta, Selasa (7/3).

Paling premium
Menurut Hayano, sertifi kasi Hida Beef berstandar tinggi dan tidak semua ternak sapi yang dikembangbiakkan di Prefektur Gifu (terletak antara Tokyo dan Kyoto) dapat meraih sertifi kat itu. Bahkan di antara daging sapi di Jepang, Hida Beef sudah dua kali memenangi National Wagyu Cattle Expo. Hal itu membuatnya sebagai daging wagyu kelas atas di Jepang. “Faktor air sangat penting. Sapi kami minum 18 liter per hari dan daerah Gifu yang berada di kaki pegunungan memiliki sumber air bersih. Di dalam daging ada serat dan lemak, semakin dingin suatu daaerah semakin banyak lemaknya. Itulah hubungan antara kelezatan dan alam di sekitar peternakan sapi,” jelas Hayano lagi.

Sementara itu, pakan ternaknya, kata chief engineer di peternakan itu Shunsuke Inagaki, berupa jerami dan jagung. Sapi baru disembelih ketika berusia 28-29 bulan. Saat ini, lanjutnya, Hida Beef memproduksi 11 juta ekor per tahun. Dari volume produksi tersebut, sebanyak 23 ton diekspor ke 11 negara, yakni ke Hong Kong, Makau, Singapura, Filipina, Vietnam, Belanda, Inggris, Prancis, AS, dan Kanada. Sisanya untuk konsumsi dalam negeri Jepang.

Mendominasi rasa
Saat menikmati empat jenis menu yang disajikan, aroma kelezatan daging sangat kentara. Bahkan saat menikmati shabu-shabu yang sedikit tawar, rasa orisinal daging tetap muncul. Begitu juga dalam menu sukiyaki yang dimakan bersama baluran telur mentah. Kelembutan daging betul-betul bisa dirasakan saat menikmati steik. Menurut Hayano, di restoran-restoran di Jepang, umumnya seporsi steik tersaji seberat 150 gram. Saat ditanya soal harga, Hayano enggan menjelaskan. Namun bila melihat form penilaian, ada pertanyaan kira-kira berapa harga yang pantas jika dipasarkan di Indonesia, yakni US$100, US$70, atau US$40 per porsi.

“Semua masih kami analisis, tapi alasan kami memilih Indonesia adalah jumlah penduduknya yang empat besar dunia, dan dari segi jarak tidak terlalu jauh dari Jepang. Jadi Indonesia dipilih sebagai pasar yang potensial,” tambah Hayano. (Ros/M-1)

Komentar