KICK ANDY

Merayakan para Pejuang Kehidupan

Sabtu, 11 March 2017 16:45 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/SUMARYANTO BRONTO

INDONESIA tidak pernah kekurangan sosok-sosok yang rela berjuang untuk sesama maupun lingkungan.

Tanpa banyak membuat gaduh dan tidak pula haus pamrih, sosok-sosok ini telah banyak membuat perubahan.

Demi merayakan sekaligus terus memotivasi semangat serupa di berbagai daerah, Kick Andy kembali menggelar Kick Andy Heroes.

Tahun ini sebanyak 18 nomine telah lolos penyaringan dan proses verifikasi.

Dari situ, delapan orang terpilih menjadi Kick Andy Heroes 2017.

1. Erni Suyanti

Dengan meninggalkan kehidupan nyaman dan fasilitas di kota,

Erni Suyanti justru terpikat untuk membantu menyelamatkan satwa liar.

Ia menjadi satu-satunya perempuan di dalam patroli hutan yang bisa tinggal selama berbulan-bulan di dalam hutan.

Sudah 14 tahun dirinya bergabung dalam tim penyelamatan satwa liar.

Tak terhitung berapa banyak satwa, seperti orang utan, gajah, beruang, dan harimau, yang dapat diselamatkan perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga itu.

Berawal dari kegemarannya menonton film dokumenter satwa sejak kecil dan besar dalam keluarga pecinta satwa,

Erni ikut aktif menyosialisasikan pentingnya konservasi satwa liar dan habitatnya kepada masyarakat sekitar.

2. Brigadir Rochmat Tri Marwoto

Mengasuh anak kurang mampu menjadi keinginan kuat Rochmat, anggota Detasemen C Satbrimob Polda Jawa Timur, mulai satu anak hingga sudah sekitar 50 anak yang telah diasuhnya untuk tetap mendapatkan pendidikan dan juga kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat ini Rochmat tinggal bersama sembilan anak asuh di rumahnya mulai usia balita hingga remaja.

Bahkan, beberapa anak asuhnya kini sudah bekerja, mulai karyawan perbankan, kepala sekolah, hingga menjadi anggota polisi.

Untuk menambah pemasukan agar tetap bisa membiayai anak asuh, Rochmat menyambi pekerjaan sebagai guru ekstrakurikuler di beberapa sekolah di Madiun.

Sementara itu, sang istri membuka warung sembako dan warung konter pulsa.

Ia pun merasa berterima kasih kepada atasan-atasannya karena mendukung apa yang dikerjakannya.

3. Dr Aznan Lelo

Sudah hampir 40 tahun, dokter bernama Aznan Lelo mengabdikan diri kepada masyarakat marjinal.

Ia memiliki pemikiran dokter ialah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif atas jasa yang diberikan.

Karena itu, ia hanya meminta pasien untuk memasukkan amplop ke kotak yang tersedia dengan besaran seikhlasnya.

Terkadang, Aznan menerima amplop kosong, tapi hal itu tidak membuatnya marah karena ia sudah ikhlas atas semua yang dilakukan.

Sejak kecil dokter yang bermukim di Medan ini memang memiliki tujuan bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Namun, tujuan itu tidak mudah dilakukan.

Ia kerap dituding sebagai ekstremis dan itu sempat menghambat dirinya meraih gelar Phd Farmakologi di Universitas Australia.

Semangat yang tak surut membuatnya tetap berhasil meraih gelar tersebut pada 1987.

Anak pertama dan enam bersaudara ini pun sudah membuka praktik di garasi rumahnya sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, pada 1978.

Meskipun tak ada papan nama, pasien yang datang selalu ramai dan berasal dari berbagai penjuru Sumatra.

Ia bekerja dengan bantuan sukarela dari istri dan mahasiswa kedokteran mulai pukul 17.00 hingga dini hari.

4. Alex Waisimon

Komitmennya tak mau meninggalkan air mata untuk generasi penerus.

Karena itu, ia rela tinggal di sebuah gubuk demi menjaga hutan dan fauna yang ada di dalamnya, khususnya burung cenderawasih.

Pria yang juga berhasil menjadikan Hutan Nimbokrang di Kabupaten Jayapura, Papua, sebagai salah satu tempat pengamatan burung cenderawasih ini tampil di ajang KTT Perubahan Iklim, COP 22 di Marakesh, November tahun lalu.

Sebagai tokoh masyarakat adat, Alex berhasil merangkul warga serta sembilan kepala suku untuk memberikan 98 ribu hektare tanah hutan adat kepada pemerintah untuk dijadikan taman nasional.

Kini inisiasinya membangun taman nasional sedang dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Alex mengaku meninggalkan pekerjaannya di lembaga internasional karena teringat pesan sang ayah untuk membangun kampung halaman.

Ia miris melihat pohon yang ditebang secara liar.

Karena itu, ia memberikan ilmu kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya burung dan menjaga lingkungan sekitar.

Anak-anak pun diajari bahasa asing serta pengetahuan tentang satwa agar lebih bisa mencintainya kekayaan alam Papua.

5. Rus Alit

Hanya mampu menamatkan pendidikan hingga sekolah menengah pertama tak lantas membuat Rus Alit berkecil hati.

Berkat ketekunan dan pandai melihat bermacam ilmu yang sudah dipakai masyarakat sejak zaman dahulu yang diabaikan, dirinya mampu mengembangkan teknologi tepat guna.

Salah satunya, pompa tenaga air yang mampu mengalirkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi.

Kini karyanya tersebut sudah digunakan di 54 negara di dunia.

Pada 1981, Rus bergabung dalam LSM yang kemudian mengantarkannya berkeliling Indonesia, juga dunia.

Dalam kunjungannya, ia selalu melihat problem apa yang terjadi dan bagaimana solusi untuk menyelesaikannya. Hingga pada 1998, Rus berhenti bekerja dan mendirikan Bali Appropriate Technology Institute bersama sang istri.

Ia menularkan ilmu tentang teknologi tepat guna kepada setiap yang datang, dengan harapan banyak orang yang semakin menguasai maka semakin banyak yang terbantu.

6. Dea Valencia

Tak sekadar melestarikan batik, perempuan asal Semarang kelahiran 1994 ini juga peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya warga disabilitas.

Lini batik kultur miliknya dimulai ketika ia mencoba-coba berkreasi dengan kain batik miliknya maupun koleksi kuno sang ibu.

Karena sukses dengan kreasi tersebut, Dea tak lupa dengan lingkungan sekitarnya.

Ia pun kini memiliki 40 pekerja disabilitas karena baginya masyasrakat masih memiliki stigma pada warga disabilitas.

Dengan demikian, tidak bisa dilihat dari kelebihannya, padahal mereka orang hebat yang bisa diajarkan untuk mandiri, produktif, dan percaya diri.

Batik kultur Dea Valencia tumbuh berkembang bersama warga disabilitas.

Satu pesan yang paling ia ingat dari orangtuanya, matematika Tuhan tidak pernah salah.

7. Aan Permana

Kebahagiaan tidak hanya diukur dari banyaknya uang yang dikumpulkan, itulah pegangan Aan Permana, pemuda asal Cianjur yang rela mengundurkan diri dari perusahaan migas.

Dua tahun merupakan waktu yang cukup bagi Aan untuk merasakan kenyamanan bekerja di perusahaan migas.

Ia justru mempertanyakan ulang, kenyamanan yang didapat hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk banyak orang, sementara dirinya bisa berada pada posisi tersebut berkat bantuan banyak orang.

"Ayo pulang ke desa, desa membutuhkan pemuda untuk membangun lingkungan sekitar."

Begitu yang kerap Aan suarakan kepada para pemuda.

Seruan itu berkaca pada keberhasilannya melepaskan zona nyaman dan memulai hidup baru, membuka lapangan kerja dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kini usaha Crispy Ikan yang didirikannya melibatkan tenaga kaum ibu yang berumur serta nelayan di sekitar Waduk Cirata untuk membantu perekonomian mereka.

Produk crispy ikan milik Aan sendiri sudah dijual secara daring di beberapa daerah hingga mancanegara.

8. Undang Suryaman aka Bang Jack

Undang Suryaman mendapat penghargaan Kick Andy Heroes 2017 melalui hasil voting yang dilakukan tim Kick Andy melalui media sosial.

Bapak dengan empat anak ini merupakan juru parkir tapi memiliki keinginan untuk memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

Baginya, tidak perlu menunggu kaya dan memiliki banyak ilmu untuk bisa berbagi.

Ia pun segera mengumpulkan uang dari hasil menjadi juru parkir dan dua tahun sebagai tukang cuci mobil bersama sang istri untuk bisa mendirikan TK dan TPA Raudlatul Jannah di Desa Babakan Loa, Rancaekek Kulon, Kabupaten Bandung.

Pengalaman sulit dan tidak mampu bersekolah di masa lalu menginisiasi pendirian TK dan TPA tersebut.

Dengan dua kelas dan empat tenaga pengajar yang datang sukarela, Undang mampu memberikan pendidikan gratis kepada sekitar 180 peserta didik yang berasal dari kampung sekitar dengan tingkat ekonomi rendah.

Undang menggunakan tempat seluas 56 meter persegi di rumahnya serta rumah sang mertua sebagai tempat kegiatan belajar mengajar serta perpustakaan yang terbuka untuk umum.

Berkat tekad dan usahanya, kini ia sudah mendapatkan banyak bantuan donatur dan sedang membangun ruang kelas dari dana tersebut. (M-3)

Komentar