Teknopolis

Transformasi Digital untuk Indonesia

Sabtu, 11 March 2017 15:30 WIB Penulis:

MI/PUTU

MICROSOFT yang sedang mengembangkan sistem komputasi awan baru saja merilis studi mengenai transformasi digital yang bertajuk The Microsoft Asia Digital Transformation: Enabling The Intelligent Enterprise.

Studi ini melibatkan hampir 1.500 pemimpin bisnis di Asia-Pasifik.

Komputasi awan ialah sebuah terobosan yang menggabungkan sistem teknologi komputer dengan pengembangan berbasis internet.

Sistem komputasi awan memang mulai banyak digunakan di Indonesia pada 2013.

Dalam studi yang dilakukan Microsoft, ada 113 pemimpin perusahaan bisnis di Indonesia yang dilibatkan.

Studi ini menunjukkan sebanyak 90% pemimpin bisnis di Indonesia meyakini pentingnya peranan transformasi digital bagi kesuksesan organisasinya.

Sayangnya, hanya 27% perusahaan yang sejauh ini telah memiliki strategi transformasi digital secara menyeluruh.

"Organisasi yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan menjadi kurang kompetitif. Oleh sebab itu, Microsoft mendorong setiap organisasi untuk segera melakukan transformasi digital," ujar Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Andreas Diantoro, di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (28/2).

Selain itu, masih berdasarkan data studi tersebut, sebanyak 51% pemimpin bisnis baru sampai tahap merencanakan proses transformasi digital, sementara 22% lainnya bahkan belum memiliki strategi apapun.

Selain pola pikir, pemimpin ada pula beberapa kendala lain yang menjadi permasalahan perusahaan bisnis di Indonesia dalam menghadapi transformasi digital.

Di antaranya minimnya kemampuan digital karyawan, sistem yang masih rentan serangan siber, tidak menemukan mitra teknologi yang tepat, lingkungan ekonomi yang tidak pasti, dan kurangnya kebijakan pemerintah serta infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang memadai.

Oleh karena itu, ada empat pilar penting yang menjadi kunci transformasi digital, yakni memprioritaskan pelanggan dengan memahami dan memprediksi kebutuhannya, memberdayakan karyawan agar lebih meningkatkan keahlian digital, mengoptimalkan kegiatan operasional, serta mentransformasi produk dan model bisnis.

"Kalau kita sudah tahu konsumennya, dan karyawan sudah dilatih, maka sistem dan prosedur juga harus diperbaharui, karena kalau tidak, konsumen tidak akan datang dan tidak terlayani dengan baik. Setelah itu barulah perusahaan dapat melakukan transformasi terhadap produknya dalam rangka menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi konsumen," kata Andreas.

Transformasi pelayanan pemerintahan

Transformasi digital perlahan juga sudah diterapkan di lingkungan pemerintahan.

Seperti di Direktorat Jendral Pajak (DJP) dengan e-registration, e-biling, e-filing, dan e-tracking.

Lalu baru-baru ini ada penerapan sistem baru berskala nasional yang diadaptasi dari terobosan yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Kediri.

Polres Kediri bekerja sama dengan PT Trimaxindo Abadi dan Microsoft menciptakan sistem pelayanan masyarakat baru bernama e-tilang.

Fungsinya ialah mencatat setiap pelaku pelanggaran lalu lintas secara transparan.

Setelah diberi putusan oleh petugas di lapangan, pelanggar akan dijelaskan soal jenis pelanggaran dan biaya awal tuntutan.

Lalu pelanggar bisa mentransfer biaya tersebut melalui e-banking.

Jika nantinya setelah proses persidangan ternyata biaya yang dijatuhkan tidak sesuai dengan di awal, sisa uang akan ditransfer kembali ke rekening pelanggar.

Aplikasi itu diharapkan mampu menekan angka pungli. (*/M-3)

Komentar