Teknopolis

Saat Pilihan Transportasi Begitu Banyak

Sabtu, 11 March 2017 15:00 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

ILUSTRASI: DOK. APAJA

ANDREW, wisatawan asal Belanda kebingungan tentang rute Trans-Jakarta yang sesuai dengan tujuannya. Informasi rute yang ada di atas pintu-pintu halte memang bisa membingungkan, terutama untuk para pendatang. Informasi itu pun hanya berisi keterangan rute tanpa jadwal kedatangan seperti yang lazimnya di layanan transportasi umum negara maju. Hal ini pula yang semula diharapkan Andrew.

“Ada orang yang mau membantu, tapi malah diarahkan ke tempat yang salah. Jadi, saya hanya bisa menunggu dan tidak bisa memastikan kapan saya sampai,” ujar Andrew jengkel, Senin (6/3).

Tidak hanya orang asing, warga Ibu Kota sendiri sesungguhnya juga berharap adanya layanan informasi yang lebih detail dan tidak hanya tersedia di stasiun atau halte, tetapi terhubung dengan sistem daring.

Sebab, di stasiun pun saat keadaan riuh, orang akan sulit mendengar jurusan kereta yang sedang mendekat. Begitu juga, ketika di dalam kereta, orang bisa saja sulit membaca nama stasiun yang saat itu tengah dalam perhentian keretanya.

Keluhan-keluhan itu memberikan gambaran bahwa informasi seputar layanan transportasi, sama pentingnya dengan transportasi itu sendiri. Tanpa informasi mengenai rute, jadwal, ataupun status keberadaan, transportasi itu belum bisa menjadi moda yang mempercepat dan mengefektifkan arus manusia.

Keluhan mengenai transportasi di Ibu Kota tidak berhenti di situ. Banyaknya pilihan transportasi menimbulkan dilema baru. Banyak orang yang berharap dapat dengan mudah dan cepat membandingkan berbagai pilihan transportasi di berbagai kondisi.

Dengan begitu, mereka bisa tepat memilih transportasi yang sebaiknya diambil sesuai dengan kondisi lalu lintas saat itu, kondisi volume penumpang di stasiun ataupun halte, atau sesuai dengan bujet yang dimiliki.

Keluhan-keluhan terkait dengan transportasi itulah, yang dalam beberapa hal, telah mampu dipecahkan aplikasi-aplikasi daring transportasi.

Beragam Aplikasi Transportasi

KRL Access
Aplikasi ini milik PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) yang diciptakan tiga peneliti Universitas Indonesia, yakni Dr Nadia Yovani, Himawan Pratama, Msi, dan Tridianto Subagia, S Kom. Aplikasi ini menyediakan jadwal real time dari KRL.

Meski tampilannya lebih sederhana dan seolah lebih kaku, aplikasi ini justru memiliki ketepatan paling baik untuk waktu kedatangan kereta. Formatnya yang sederhana itu justru mempermudah masyarakat. Sayangnya hanya satu jenis kendaraan yang dibahas dalam aplikasi ini.

“Jadi, kelebihannya tidak ada aplikasi lain yang memiliki jadwal real time KRL selain KRL Access ini. Ini memang dibuat kami sendiri. Melalui aplikasi ini kami menyatukan seluruh informasi sehingga pengguna tidak perlu mengakses berbagai media sosial karena aplikasi ini sudah terhubung ke berbagai media sosial kami, seperti Instagram, Facebook, dan Twitter,” jelas Vice President Komunikasi PT KCJ, Eva Chairunisa, saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (8/3).

Aplikasi yang diluncurkan tahun 2015 ini juga memberin informasi terbaru soal peraturan ataupun gangguan perjalanan. Pengguna akan mendapatkan notifikasi langsung di ponselnya.

Seorang dari 300 pengunduh KRL Access, Daniel Krisnavy mengaku cukup puas pada aplikasi itu. “Karena setiap hari saya naik kereta jadi saya lebih memilih menggunakan KRL Access, waktu keberangkatannya tepat banget jadi saya bisa mempertimbangkan estimasi keberangkatan”, ucap Daniel Krishnavy soal aplikasi yang berukuran 9,5 megabita tersebut.

Info KRL
Aplikasi ini dikembangkan secara mandiri oleh Gede Hendra Saputra. Aplikasi yang dibuatnya 2013 tersebut dibuatnya sebagai bentuk perhatian dirinya sebagai seorang pegawai swasta yang beraktivitas sehari-hari menggunakan KRL. “Tadinya itu karena saya pakai KRL juga untuk ke kantor, cuma saya waktu itu masih bingung gimana cara kerjanya KRL itu sama rute-rutenya. Saya buat sendiri (aplikasi ini). Awalnya cuma di-share ke teman-teman kantor pengguna KRL juga, lalu sama bos saya disuruh dimasukin ke Google Play,” jelas Hendra yang saat ini bermukim di Belfast, Irlandia Utara, tersebut.

Aplikasi yang berbasis teknologi Android ini juga memiliki kalkulasi perhitungan waktu perjalanan kereta serta peron kedatangannya. Ke depannya Hendra berharap aplikasi buatannya tersebut dapat menjadi wadah bertukar informasi antarpenggunanya guna memberikan informasi terkini dengan cepat. “Inginnya jadi media komunikasi dan diskusi antar pengguna jadi bisa saling kirim update. Misalnya ada pengguna yang lihat gangguan KRL di stasiun bisa kirim informasi itu untuk user lainnya. Sebenarnya sudah ada fitur chat semacam itu, tapi ingin saya perbarui menjadi semacam forum diskusi agar lebih mudah,” tambah pria yang menyisihkan sebagian pendapatan aplikasi itu untuk bantuan ke panti asuhan.

Go-Busway
Ini bukan aplikasi resmi yang dirilis PT Trans Jakarta, melainkan salah satu fitur dari aplikasi Go-Jek. Go-Busway merupakan hasil kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta, Go-Jek, dan Qlue.

Selain jadwal Trans-Jakarta, karena layanan ini terintegrasi dengan layanan Go-jek, pengguna juga turut diberi kemudahan untuk memesan Go-Jek untuk mencapai ke sebuah halte Trans-Jakarta.

“Go-Busway itu kerjasama Qlue Transit, Go-Jek, dan Trans-Jakarta. Namun, sekarang kami lebih fokus untuk produk Qlue yang untuk pelaporan keluhan warga,” jelas Marketing Manager Qlue Indonesia, Elita Yunanda, saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (7/3).

Salah satu pengguna Trans-Jakarta, Fajar Shidiq, 26, menjelaskan pada umumnya pelayanan Trans-Jakarta saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Namun, untuk masalah ketepatan waktu, dia menjelaskan itu masih sulit dicapai karena meskipun di halte ada layar yang menunjukkan kedatangan bus, pada kenyataannya hal itu sering tidak sesuai.

Apaja
Aplikasi ini buatan pria berkebangsaan Prancis, Robin Dutheil, yang tinggal di Jakarta. Kebiasaannya menggunakan berbagai moda transportasi umum, bukan hanya Trans-Jakarta maupun KRL, melainkan juga Kopaja, bahkan angkot, membuatnya menciptakan aplikasi yang bisa memberikan pilihan yang paling efektif dan efisien.

Wajar, transportasi yang masuk ke aplikasi yang diluncurkan 2013 ini sangat beragam. Hanya dengan registrasi lewat alamat Facebook, kita sudah bisa mengakses aplikasi ini secara gratis.

Apaja juga menawarkan jenis rute dari yang paling cepat hingga paling sedikit transit. Selain pilihan itu, aplikasi ini mempunyai bagian action & feed. Action merupakan wadah aspirasi bagi setiap pengguna aplikasi ini baik tentang keluhan dan juga kondisi terbaru di daerah-daerah yang dilalui. Nantinya, keluhan itu muncul di bagian feed yang bisa diakses admin dan pengguna Apaja yang lain. Dengan demikian, informasi yang beredar merupakan informasi terkini.

Trafi
Aplikasi karya empat pemuda Eropa ini sudah menjadi aplikasi kelas dunia. Tawarannya tidak jauh berbeda dengan Apaja. Hanya, Trafi sudah terintegrasi dengan aplikasi ojek daring, seperti Uber, Grab, dan aplikasi karya anak bangsa Go-jek. Dengan demikian, dalam satu aplikasi masyarakat sudah bisa mengakses segala macam jenis kendaraan. Selain mendapatkan rute perjalanan berdasarkan waktu keberangkatan, Trafi menawarkan rute perjalanan untuk waktu sampai yang sudah disiapkan.

Untuk masalah ketepatan, Trafi kadang terlambat 1-2 menit untuk kereta, tetapi bisa dibilang jadwal Trafi untuk Trans-Jakarta cukup tepat waktu. Lagipula informasi yang berisi informasi terkini tentang jalanan di Jakarta dari admin dan sesama pengguna bisa dibilang sangat efektif. Selain itu, ada estimasi harga selama satu perjalanan sehingga pengguna aplikasi ini bisa memilih ingin menggunakan rute yang mana. Yang lebih unik lagi aplikasi Trafi bisa diakses meski tanpa jaringan internet.

Setyo Aji, 22, salah satu pengguna transportasi di Jakarta mengaku paling menyukai aplikasi ini. Aplikasi dinilai cocok bagi orang yang suka gonta-ganti tipe kendaraan sesuai bujet. Ia berharap aplikasi memperluas layanan ke luar Kota Jakarta. (*/M-3)

rizkynoor@mediaindonesia.com

Komentar