Jendela Buku

Jurnalisme yang Khidmat pada Keberagaman

Sabtu, 11 March 2017 03:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Ilustrasi--MI/Caksono

SEJAK era reformasi bergulir, pers justru semakin melembagakan prasangka dan diskriminasi di tengah suasana yang semakin tindak kondusif.

Kehadiran jurnalisme keberagaman diharapkan mampu berkontribusi dalam mengawasi kesigapan negara menjalankan peran-perannya, terutama ketika menyelesaikan atau setidaknya mengurangi radikalisme dan intoleransi.

"Bolehkah jurnalisme berpihak? Tentu saja boleh," (hal 114). Namun, sebelum sampai pada kesimpulan itu, alangkah elok jika alur pernyataan tersebut ditinjau.

Buku ini berjudul Jurnalisme Keberagaman; Untuk Konsolidasi Demokrasi karya Usman Kansong.

Dalam buku setebal 166 halaman itu, penulis dengan runtut mengantarkan pemahaman terkait dengan jurnalisme keberagaman.

Usman mengatakan ide penulisan buku tersebut lahir dari keprihatinan akan terancamnya kebinekaan.

"Banyak konflik, baik suku, agama, antarkelompok terjadi. Media massa punya peran besar memulihkan keberagaman," kata Direktur Pemberitaan Harian Umum Media Indonesia itu saat buku karangannya, Jurnalisme Keberagaman, dibedah di arena pameran dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) dan Expo Maluku 2017 di Lapangan Merdeka, Ambon, 8 Februari 2017.

Usman menulis Jurnalisme Keberagaman setelah meliput konflik di Ambon pada 2000 serta kegelisahannya sebagai jurnalis atas konflik itu.

Jurnalisme memiliki tanggung jawab besar terhadap beritanya, yakni menjaga keberagaman.

Jurnalisme Keberagaman ialah jurnalisme yang berkhidmat pada keberagaman dan perbedaan, baik agama, etnik, gender, maupun kelompok.

Mengapa keberagaman itu penting?

Indonesia kaya dengan etnik, kultur, bahasa, dan agama.

Identitas itu harusnya bisa menjadi sarana untuk saling mengenal, saling menghargai, dan saling bertoleransi.

Namun, alih-alih menciptakan keberagaman, identitas itu lebih banyak memicu pertikaian.

Keberagaman harusnya menjadi berkah malah berubah musibah.

Di sinilah peran jurnalisme keberagaman.

Jurnalisme semestinya berkontribusi mewujudkan pemahaman tentang keberagaman dan meminimalisasi konflik akibat gagal paham.

Salah satu tugas melekat pada jurnalisme ialah penyampai.

Celakanya, jurnalisme belum sepenuhnya mengambil peran tersebut.

Jurnalisme masih gagap ketika dituntut mengambil peran hebat tersebut.

Apa yang terjadi sang pewarta malah menjadikan suasan adem jadi keruh, suasana gerah menjadi panas. Pemberitaan tentang peristiwa tertentu malah menjadikan negara semakin gawat dan memberangus kedamaian.

Untuk itulah, diperlukan usaha keras untuk melakukan pemahaman menyeluruh tentang jurnalisme keberagaman.

Buku ini hadir untuk itu. Diakui atau tidak, dengan peran yang sedemikian vital, referensi tentang jurnalisme keberagaman masihlah sangat sedikit.

Berpihak pada kebenaran

Kembali pada keberpihakan jurnalisme. Bolehkah jurnalisme berpihak?

Ya jurnalisme memang harus berpihak, yakni kepada kebenaran.

Apakah jurnalisme keberagaman berpihak pada kebenaran?

Ya, argumentasi tentang keberagaman tertera dalam bab sebelumnya, yakni argumen teologis, sosiologis, filosofis, ideologis, dan konstitusional.

"Dengan begitu, jurnalisme keberagaman bukan hanya berpihak pada kebenaran, melainkan kebenaran itu sendiri sudah melekat dalam dirinya," (hal 114).

Buku terbitan MI Publishing ini tidak hanya memaparkan bagaimana media memberitakan keberagaman, tetapi juga menunjukkan beberapa contoh produk jurnalisme yang berpihak pada keberagaman.

Dengan demikian, pembaca akan menemui gambaran dari argumentasi yang dilontarkan penulis.

Seperti berita tentang perayaan Imlek, Ahmadiyah, larangan Asyura, dan lain-lain.

Berangkat dari argumentasi genealogi jurnalisme keberagaman, penulis membedah beberapa contoh tersebut.

Buku ini bisa dijadikan sebagai referensi untuk mereka yang peduli dengan keberagaman dan demokrasi Indonesia.

Bukan hanya untuk para jurnalis sebagai pemegang profesi, melainkan masyarakat luas yang ingin Indonesia bersukses dalam proses pendewasaan.

"Jurnalisme keberagaman ialah sebuah gagasan. Namun, ia tak hendak berhenti pada gagasan semata. Ia mesti dipraktikkan. Gagasan yang tidak dipraktikkan hanya berkubang pada gagasan. Gagasan yang tak dipraktikkan cuma menjadi abstraksi," (hal 147).

Jurnalisme Keberagaman merupakan buku keenam yang ditulis Usman dan disampaikan dengan gaya bahasa jurnalis yang sederhana dan mudah dipahami.(M-2)

___________________________________

Judul: Jurnalisme Keberagaman; Untuk Konsolidasi Demokrasi

Penulis: Usman Kansong

Penerbit: MI Publishing

Terbit: 2017

Tebal: 166 halaman

Komentar