Properti

Sulitnya Hunian MBR di Kawasan TOD

Jum'at, 10 March 2017 04:41 WIB Penulis: Iqbal Musyaffa

ANTARA/Reno Esnir

INTERVENSI pemerintah agar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki hunian yang layak di tengah kota, nampaknya sulit diterapkan. Apalagi, di kawasan transit oriented development (TOD), seperti di jalur mass rapid transit (MRT) yang saat ini tengah dibangun di Jakarta.

Harga lahan di Jakarta yang sangat mahal menjadi kendala pengembang membangun hunian terjangkau di titik-titik sekitar rencana stasiun MRT.

Akibatnya, banyak MBR terpaksa mencari hunian jauh dari pusat kota.

"Sebenarnya kita bisa mencontoh Rotterdam, Belanda. Di Rotterdam, Stasiun MRT Oostplein, bersebelahan dengan perumahan rakyat atau public housing. Hunian mewah yang ditempati orang-orang kaya justru tidak sedekat itu dengan stasiun MRT," ujar Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus beberapa waktu lalu.

Selain Belanda, konsep hunian murah di sekitar TOD diterapkan di Hammarby (Stockholm, Swedia), Tainhe (Guangzhou, Tiongkok), San Francisco, serta California, Amerika Serikat.

Indonesia, tambahnya, tidak perlu mencontoh sama persis seperti yang ada di negara-negara tersebut.

Setidaknya, di sekitar TOD hanya ada mal, ritel, atau apartemen mahal.

"Nanti masyarakat jadi penonton lagi. Padahal, konsep TOD sangat bagus yang akan dikembangkan di sekitar stasiun MRT."

Ia menilai, seharusnya sekitar 20% dari hunian di sekitar TOD merupakan perumahan terjangkau bagi MBR.

"Ini namanya keberpihakan pemerintah terhadap rakyat menengah ke bawah, dan memang itulah tugas pemerintah."

Karena itu, tambahnya, pemerintah sebaiknya fokus membangun rusun yang terjangkau bagi MBR di sekitar kawasan TOD tersebut.

Atau, lanjutnya, pemerintah menerapkan peraturan hunian berimbang di kawasan tersebut.

Selama ini, pengembang membangun unit apartemen mewah di dalam Kota Jakarta, tapi rumah untuk MBR ditempatkan di luar kota, seperti Banten, Bogor, Depok, dan Bekasi.

Tetap di pinggiran

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan secara teori memang benar bahwa konsep TOD merupakan titik pertemuan antara permukiman dan perkantoran, mulai dari pinggiran kota ke daerah perkantoran di tengah kota.

"Pada titik-titik dekat TOD harus berdekatan dengan kawasan permukiman mulai dari menengah bawah hingga menengah atas. Daripada masyarakat naik mobil ke tempat kerja lebih baik naik MRT hingga tengah kota," ujarnya.

Eman--panggilan Soelaeman Soemawinata-- mengakui sulit untuk bisa membangun hunian terjangkau di kawasan TOD di Jakarta apalagi di tengah kota.

"Harga tanah untuk hunian terjangkau semisal apartemen murah itu di kisaran Rp5 juta-Rp10 juta/meter persegi. Tapi lahan seharga itu susah ditemukan di Jakarta apalagi di kawasan TOD tengah kota seperti Sudirman karena harga lahannya sudah Rp50 juta/meter ke atas."

Idealnya, kata Eman, hunian terjangkau vertikal atau apartemen murah hanya berjarak 500 meter dari stasiun MRT, seperti di Singapura sehingga bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Karena itu, menurut dia, pilihan bagi MBR untuk memiliki hunian yang layak ialah tinggal di pinggiran Jakarta.

"Bagi masyarakat yang agak jauh tinggalnya dari lokasi TOD ataupun dari stasiun MRT bisa menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadinya yang nanti diparkir di kawasan stasiun MRT," tukasnya.

(S-2)

Komentar