Surat Dari Seberang

Dari Ruang Tunggu hingga Ruang Maya

Sabtu, 11 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Foto: Milto Seran

Datanglah ke St. Petersburg.
Kami menunggumu di sini.
Kita akan bertemu lagi dan minum kopi.
Saya senang kita bertemu di Doha
Dan terbang ke Hong Kong.

Setiap mengadakan perjalanan, saya teringat pola hidup Paulo Coelho. Aktivitasnya mengganti pesawat jauh lebih sering daripada ganti sepatu. Coelho berbagi waktu antara Brazil dan negara-negara yang dia datangi. Setiap tahun, dia menghabiskan enam bulan di negerinya sendiri, dan enam bulan sisanya dia habiskan untuk memenuhi undangan seminar di negara-negara lain, bahkan lintas benua.

Dan kita pun tahu, sejak pagi hari hidup adalah aktivitas berpindah, meninggalkan satu tempat ke tempat yang lain. Karena itu hal yang paling tidak menyenangkan adalah saat seseorang sakit, saat dia mesti terbaring lemas di tempat tidur, di kamar yang sama dengan kerinduan yang sama pula. Rindu akan rahmat kesembuhan.

Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, berkontak dengan hal-hal yang baru adalah kebutuhan yang sangat manusiawi. Dalam grup-kebetulan ini, kami sepakat. Terbang ke Jakarta dari Doha dengan transit di Hong Kong bukan lagi menjadi hal yang mencemaskan, malahan sesuatu yang sangat menyenangkan.

“Sudah lama saya bermimpi menginjakkan kaki di Hong Kong,” kata Liza, “Hari ini juga mimpiku segera menjadi kenyataan.”

Pesawat sudah di ketinggian puluhan ribu kaki. Dari ketinggian di atas Doha, terlihat dengan sangat jelas dan begitu menawan “The Pearl-Qatar”, pulau artifisial, pulau buatan yang amat spektakuler. Bangunan dan gedung-gedung tinggi nan mewah benar-benar memesona. Saya terus menikmati pemandangan yang langka ini lewat jendela, sembari menikmati suara khas penyanyi kesukaanku, Rod Stewart.

I am sailing/ I am sailing/ Home again/ 'Cross the sea/ I am sailing/ Stormy waters/ To be near you/ To be free. I am flying/ I am flying/ Like a bird/ 'Cross the sky/ I am flying/ Passing high clouds/ To be with you/ To be free.

Setelah menjauh dari Hamad International Airport, mimpi-mimpiku terbakar jiwa perjalanan ini. Iya, perjalanan melewati negeri-negeri yang nun. Pakistan, India, Nepal, Bhutan, Bangladesh dan Myanmar, negeri-negeri yang cuma ada dalam mimpi. Suatu saat nanti, semoga bisa mampir di negeri-negeri impian ini, jika Semesta membuka pintu perjalanan baru. Kalau boleh perjalanan darat yang menakjubkan seperti Trans-Siberia menuju Cina, sebuah mimpi yang menggoda.

Hong Kong masih jauh. Sudah berjam-jam kami meninggalkan Qatar. Di luar sana cuma kegelapan, tak ada cahaya sama sekali. Di belakang saya dua penumpang bermata sipit tidur lelap. Terdengar suara yang aneh dan sangat mengganggu. Mereka mendengkur berbalas-balasan. Terbang dari Doha menuju Hong Kong cukup lama. Butuh waktu tujuh jam duapuluh menit. Dan selama itu pula, dengan sabar saya berupaya menutup mata dan mengabaikan suara aneh yang sangat mengganggu ini. Tidur. Bangun. Tidur lagi. Bangun lagi. “Daripada tidur, lebih baik minta segelas kopi dan kau bisa nikmati halaman-halaman The Spy hingga tuntas.” Benar juga. “Segelas kopi dengan sedikit gula, please!” Pramugari mengiyakan. Kira-kira lima menit berlalu, pramugari datang, mendekat, membawakan segelas kopi dengan aromanya yang menggoda. Lampu di kabin pesawat sudah diredupkan. Banyak penumpang hanyut dalam tidur panjang karena perjalanan jauh yang amat melelahkan. Saya hidupkan lampu baca, memilih lagu-lagu Bruce Springsteen dan mulai menikmati The Spy sambil menyeruput kopi di ketinggian di atas belahan dunia yang entah.

Lagu-lagu Bruce Springsteen yang sudah setua usiaku memang nikmat, cuma saya jatuh hati pada “Hello”. Lagu Adele yang populer ini seakan memberi warna tersendiri pada perjalanan ke Hong Kong. “Hello” diminati bukan semata karena suara Adele yang merdu. Kata-katanya jauh lebih memikat rasa. Imajinatif dan reflektif.

Hello, it's me
I was wondering if after all these years you'd like to meet
To go over everything
They say that time's supposed to heal ya
But I ain't done much healing

Hello, can you hear me
I'm in California dreaming about who we used to be
When we were younger and free
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet

There's such a difference between us
And a million miles

Hello from the other side
I must have called a thousand times
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home

Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Adele berkisah tentang makna di balik “Hello”. Lagu ini sama sekali tidak bercerita tentang individu tertentu, khususnya masalah patah hati yang telah menginspirasi rekamannya terdahulu. “Andai saja saya masih menulis tentang si dia, itu pasti sangat mengerikan,” cerita Adele, “’Hello’ lebih merupakan kisah mengenai penyatuan-kembali dengan diri, rekoneksi dengan semua yang lain dan diriku sendiri.”

Hello, can you hear me
I'm in California dreaming about who we used to be
When we were younger and free
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet

Adele melihat masa lalunya yang runtuh berkeping, dan dengan lagu ini dia ingin membangun kembali semua yang telah runtuh menjadi satu-kesatuan yang utuh. “’Hello’ is as much about regrouping with myself, reconnecting with myself.’” Kadang kebebasan terlanjur membuat seseorang lupa akan keutamaan-keutamaan hidup seperti, pengampunan, perdamaian, persahabatan dan semua tentang cinta. Manusia bisa saja lupa akan semua keutamaan itu, ceroboh dan hidupnya hancur berantakan, lalu terluka bertahun-tahun, mengharapkan penyembuhan dari Sang Waktu. Tapi waktu tak begitu banyak menyembuhkan, selain mengajarkan kesabaran. “They say that time's supposed to heal ya. But I ain't done much healing.

Masa lalu yang indah tiba-tiba runtuh. Barangkali hanya karena kesalahpahaman yang amat sederhana. Persahabatan dan cinta lalu hancur sehancur-hancurnya. Tak ada jalan pulang lagi menuju masa lalu. Sekalipun Adele bernyanyi, “Hello, it’s me… Hello, can you hear me… Hello from the other side…”, sungguh itu tak menghapus yang namanya “Luka”. Kita bisa memaafkan seseorang dengan mudah, tapi siapa sanggup melupakan trauma? “I must have called a thousand times. To tell you I'm sorry for everything that I've done. But when I call you never seem to be home.

* * *

Moscow sudah jauh. Saat di Domodedovo, saya justru memikirkan rute perjalanan kali berikut. Misalnya, Moscow – Singapura, Singapura – Jakarta. Atau Moscow – Hong Kong, Hong Kong – Jakarta. Tetapi saat ini, Hong Kong justru sudah di depan mata. Semesta melihat ke dalam batinku. Semesta mengetahui rahasia dan rencanaku. Semesta Jagat membuka pintu kesempatan istimewa. Adakah Roh Mahatahu sedang bekerja mengubah mimpi-mimpiku menjadi kenyataan? Ada keyakinan, bahwa di dunia ini tak ada yang sungguh-sungguh “Kebetulan.” Semuanya memiliki keterhubungan satu sama lain.

Hong Kong sudah tampak. Seorang teman pernah bilang, “Sebuah kota justru tampak indah dan menawan di malam hari. Itu karena lampu-lampu memberi warna tersendiri pada sebuah kota.” Sialnya kalau mati listrik masih merupakan masalah utama seperti yang dialami orang-orangku di Timor. Lebih buruk lagi kalau tak ada layanan listrik negara seperti di kampungku. Apa yang indah di sana? Hampir tidak ada. Toh di dunia ini tak ada tempat yang lebih indah dari kampung halamanmu.

* * *

Pesawat segera mendarat di Hong Kong. Lampu seatbelt sudah menyala dan setiap penumpang sibuk mengencangkan seatbelt masing-masing. Tapi teman-temanku di Moscow belum tahu tentang rute-kebetulan ini. Saya yakin, “Everything gonna be alright!” Selama berjam-jam personil grup-kebetulan ini terpisah. Sebentar lagi semuanya akan kembali dengan cerita dan kesan masing-masing. “Biarlah kami melihat persahabatan di Hong Kong. Biarlah kami sesaat diliputi kehangatan cinta, karena setiap pertemuan dengan segala yang baru adalah anugerah.”

Airbus a380 Qatar Airways telah mendarat. Seperti biasa, sebagaimana yang saya alami di tempat lain, saat pesawat mendarat, para penumpang segera memberi aplause untuk pilot dan kru-krunya yang telah menerbangkan dan mendaratkan pesawat dengan sempurna. Senang, saat ini kami benar-benar sudah di Hong Kong. Entahlah, Bahasa Kantonis atau Mandarin begitu dominan sejak meninggalkan pesawat. Tak satu kata pun terpahami. Cuma di lorong menuju ruang tunggu terdengar Bahasa Inggris. Seorang petugas memegang kertas bertuliskan “Jakarta”, menunggu penumpang tujuan Indonesia. Di dekat petugas itu Volode, Liza dan Losha sudah menunggu. Saya bergabung dengan mereka lagi, membalas senyum mereka yang begitu ramah. Dan belum selesai bersalaman dengan mereka, wahhhhhh alangkah terkejutnya kami. Selama berjam-jam di pesawat kami tak sadar, ternyata Anna ada di sana, di antara kami. Dia berjalan ke arah kami dengan senyumnya yang sederhana dan berbagai pertanyaan terlontar begitu saja.

“Kau di mana saja saat boarding di Doha?” “Kenapa kau menghilang?” “Apakah kau baik-baik saja?” “Kenapa begitu lama kau pergi beli air?” “Di dalam pesawat kau duduk di zone yang mana sampai tidak kelihatan?” “Apakah kau tidak terlambat seperti yang kami duga? Syukur grup kita tetap utuh.” Kami bersalaman, tertawa karena mimpi Liza untuk terbang ke Hong Kong sudah terpenuhi. Kami semua sama, dalam arti ini pengalaman pertama mampir di Hong Kong.

Petugas yang membawa kertas dengan tulisan “Jakarta” tadi membawa kami ke Transfer Desk dan memastikan semua bagasi terurus baik hingga Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Di dekat dinding dengan tulisan warna-warni “Welcome to Hong Kong” dan di koridor dengan tulisan “Discover Hong Kong like a local”, Liza mendekati kami satu persatu dan menanyakan alamat surat elektronik. Dia juga meminta nama akun VK (Vkontakte), media sosial yang amat populer seantero Russia. Saat itu kami tidak tahu apa yang hendak dilakukan Liza.

Tapi saat menikmati fast-food gratis di Burger King, semuanya jelas di sana. Liza dan juga teman-teman yang lain tidak mau grup-kebetulan ini berakhir di Hong Kong. Maka terbentuklah grup lain di ruang maya. Diam-diam Liza menamai grup itu “Indonesia” dengan gambar profil bendera Merah Putih. Di meja itu kami bercerita tentang hal-hal yang biasa. Mulai film La La Land hingga pertanyaan tentang hal yang begitu personal, “Apakah kamu sudah menikah?” Volode menjawab, “Saya belum menikah. Juga saat ini saya menjomblo. Saya sudah putus dengan pacarku belum lama ini.” “Kamu bisa cari yang lain la…,” kata Losha. “Di sana di Berlin teman-teman kuliah banyak. Tapi saya tidak tertarik. Juga ada gadis-gadis dari Russia yang cantik-cantik. Tapi saya tidak mau,” cerita Volode dengan ekspresi sedikit serius.

Anna dan Liza meninggalkan kami. Katanya mereka ingin belanja beberapa souvenir. Kami masih memiliki waktu untuk jalan-jalan, istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang melelahkan ini menuju Soekarno-Hatta.

Di Hong Kong, semua yang sudah dimulai sejak di Doha mendapat arti baru. Sepertinya rindu untuk bertemu lagi begitu saja merasuki grup-kebetulan ini. Itu makanya di jalan menuju ruang tunggu, sebelum terbang menuju Jakarta, Liza tiba-tiba berpesan, “Datanglah ke St. Petersburg. Kami menunggumu di sini. Kita akan bertemu dan minum kopi.Saya senang kita bertemu di Doha dan terbang ke Hong Kong.”

Sedangkan Volode mengingatkan saya, “Kamu bilang kita bertemu lagi di Jakarta, kan? Kami punya waktu luang malam hari. Pagi hingga sore akan ada pertemuan dengan pakar-pakar ekonomi dari Pertamina di Hotel. Kita wajib bertemu di Jakarta.”

Setelah Hong Kong, kami bertemu lagi di Jakarta. Juga bertemu lagi dengan Sasha. Bertiga kami menikmati seafood a la Indonesia di D’Cost di Atrium shopping centre. Ehhhh Sasha dan Volode sungguh tak sanggup menahan pedasnya ikan Gurami, sampai-sampai tisu di atas meja ludes untuk mengeringkan air mata yang terus menetes. Teman-teman yang lain, Anna berlibur di Lombok, Alisa menunggu Sasha di Bali, Liza dan Losha cuma berlibur seminggu di Jakarta dan kembali ke St. Petersburg.

Mereka semua punya kesan yang luar biasa tentang Indonesia. Keindahan pulau Bali dan Lombok membuat mereka merasa berat kembali ke musim dingin yang menggigit di Moscow. Atau Anna bilang, “Sialan, saya bermimpi mendaki Rinjani. Tapi Rinjani Trekking ditutup hingga awal April 2017. Saya akan kembali ke Moscow, dan berencana datang lagi.”

Jangan pernah berhenti mengejar mimpi-mimpimu, hingga kamu tiba di puncak yang sesungguhnya. Semisal Anna, jika Rinjani adalah puncak mimpi-mimpinya mengejar kebahagiaan, dia bakal datang lagi. Dia tak rela berhenti di situ. Sebab, “Life is a journey. When we stop, things don't go right” (Pope Francis)

Komentar