Inspirasi

Motor Keluarga dan Kelompok Pengajian

Kamis, 9 March 2017 04:01 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/Susanto

SEBUAH rumah sederhana di Cisauk, Tangerang, sudah ramai sejak pukul 09.00 WIB.

Sekitar 20 ibu-ibu duduk bersisian di ruang tamu berwarna oranye. Mereka dengan khusyuk membaca Alquran.

Di antara mereka tampak perempuan yang dituakan dan sekaligus menjadi pembimbing pengajian itu.

Perempuan berkerudung biru muda dan baju bercorak bunga-bunga itu ialah Sukaesih, pemilik rumah sekaligus guru kelompok pengajian itu.

Terlihat benar keakraban sekaligus penghargaan ibu-ibu tersebut kepada Sukaesih.

Wajar saja, Sukaesih telah membimbing mereka sejak 16 tahun lalu.

Bahkan, karena ia telah memfasilitas kelompok pengajian sejak 1989, jasa perempuan berusia 65 tahun itu lebih banyak lagi.

Terlebih kegiatannya mengajar mengaji dilakukan dalam kondisinya sebagai janda dengan delapan anak.

"Emak cuma berharap agar ilmunya bermanfaat. Bukan cuma untuk yang mengaji tapi juga diterusin. Jadi, juga bisa bermanfaat buat orang lain," ungkap Sukaesih yang menyebut dirinya sebagai emak saat ditemui Media Indonesia di kediamannya, Jumat (24/2).

Sukaesih menuturkan bidang keagamaan sudah digelutinya sejak sebelum menjanda.

Pada 1978, Sukaesih ialah guru madrasah.

Profesi ini dijalaninya tiga tahun atau hingga ia hamil anak kelima.

Latar belakang profesi ini pula yang membuat warga memintanya menjadi guru mengaji bagi mereka.

Saat tidak lagi mengajar di Madrasah, Sukaesih membantu nafkah keluarga dengan membuka warung sembako.

Kepala keluarga

Sukaesih memang bukan sosok istri yang hanya mengharapkan penghasilan dari suami.

Bukan saja karena ia terbiasa bekerja, melainkan kondisi keuangan keluarga juga mengharuskannya demikian.

Kondisi itu terutama terjadi setelah tempat bekerja sang suami bangkrut.

Setelah pekerjaan di Kebayoran, Jakarta, sang suami mencari peruntungan ke Pekalongan, Jawa Tengah.

Bidang usahanya masih sama, yakni industri batik.

Dengan banyaknya kain batik yang dibawa pulang sang suami, Sukaesih pun berkeliling menjajakannya.

Peran pengasuhan anak diambil sang suami.

"Dulu bapak (suami) kerja di batik di daerah Kebayoran, tapi bangkrut. Setelah itu suami saya pergi ke Pekalongan dan pulang membawa banyak kain batik. Lalu emak keliling jualan kain itu, sedangkan suami emak mengasuh anak-anak," jelas Sukaesih.

Namun, selama beberapa tahun ke depan, nasib baik belum juga berpihak kepada keluarga ini.

Sukaesih menuturkan, usaha mereka untuk membuat kain-kain batik dengan teknik di cetak (cap) juga bangkrut.

"Dulu juga sempat cetak kain batik sendiri, tapi bangkrut. Lalu kita membuka konveksi, dengan jumlah karyawan saat itu 3 orang tapi juga bangkrut," imbuhnya.

Setelah mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha tersebut, barulah Sukaesih menjadi guru madrasah.

Perjuangan Sukaesih makin berat ketika suaminya wafat.

Mengambil peran sebagai kepala keluarga dengan delapan anak memaksa Sukaesih untuk bekerja lebih keras.

Ia memaksimalkan barang dagangan di warung rumahan itu dengan juga menjual sayur mayur hingga minyak tanah.

Namun, kegigihan Sukaesih diuji kembali dengan banyaknya warung baru bermunculan.

Beruntung, anak-anak Sukaesih yang sudah dewasa sudah dapat ikut menopang usaha sang ibu.

Bersama anak sulungnya, Halimah, Sukaesih menghidupkan lagi warungnya yang sempat bangkrut. Halimah yang kini telah berusia 46 tahun pun memandang Sukaesih sebagai pejuang sejati.

"Kalau emak (Sukaesih) itu baik dan gigih. Saya dari kecil hidupnya memang dari warung. Emak belanja sendiri, melayani di warung juga sendiri. Selain itu, kalau hari-hari biasa juga tetap mengajar mengaji. Emak baik, enggak pernah ngomel, nyubit, apalagi memukul," ungkap Halimah saat dihubungi, Selasa (7/3).

Lebih lanjut Halimah menuturkan ibundanya ialah sosok yang penyabar dalam mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anaknya.

"Emak itu mengajarkan kalau waktunya ngaji ya ngaji, waktunya salat ya salat. Meskipun karakter anaknya berbeda-beda emak sangat sabar," imbuhnya.

Sosok Sukaesih itu dikagumi cucunya, yaitu Elva Farhi Qolbina, 25.

Dia salut dengan neneknya yang sudah berusia renta, tetapi masih memiliki kontribusi yang positif bagi lingkungan sekitarnya.

"Saya salut dengan nenek saya. Artinya dengan usia beliau yang sudah enggak lagi muda, tapi masih memiliki iktikad baik agar bermanfaat buat lingkungannya," kata Elva.

Elva menambahkan sifat positif neneknya dapat menjadi contoh cucu-cucunya.

"Nenek dulu membesarkan kedelapan anaknya yang masih kecil-kecil sendirian dengan berbagai cara, jatuh bangun usaha dan itu bukan hal yang mudah, ditambah lagi nenek enggak pernah mengeluh," imbuh Elva.

Elva pun berharap bekal ilmu agama yang dimiliki neneknya tersebut, selain dapat dijadikan sebagai contoh oleh para cucunya, juga agar ditularkan kepada anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar.

(M-3)

Komentar