Jeda

Al-Hidayah, Semangat Inklusif itu Bermula

Ahad, 5 March 2017 10:00 WIB Penulis: Cikwan Suwandi

MI/RAMDANI

Ketika azan dikumdandangkan, selalu ada pemandangan istimewa di Masjid Al-Hidayah, Kampung Jati, Tangerang Selatan, Banten. Berjalan serupa orang yang awas, para tunanetra dari Raudlatul Makfufin, pesantren yang seluruh pengajar dan santrinya seluruhnya tunanetra berjalan menuju masjid, tanpa menggunakan tongkat.

Jarak pesantren dan masjid yang tak punya hubungan formal dan menjalin relasi secara organik ini memang 50 meter saja, namun bukan cuma itu yang membuat mereka percaya diri berjalan tanpa alat bantu.

Masjid Al-Hidayah, secara organik tumbuh menjadi masjid yang inklusif. Perjalanan pesantren ke masjid itu menjadi wahana pembelajaran pengasahan keterampilan orientasi motorik dan kepekaan sosial yang sangat penting bagi para tunanetra agar bisa mandiri dan bermobilitas mandiri.

Kepindahan pesantren pada 2009, dari sebelumnya di Ciputat, Tangerang, juga membawa berkah bagi warga dan jemaah masjid yang kemudian belajar menjadi masyarakat inklusif.

“Alhamdulillah setiap waktu salat jemaah jadi selalu ramai karena ada orang-orang yayasan,” kata Amil Karsit,57, pengurus Masjid Al-Hidayah yang menyebut para santri sebagai warga yayasan.

Mandiri

Perjalanan menjadi masyarakat yang menerima kehadiran disabilitas, mendorong mereka untuk mandiri sekaligus membantu sesuai kebutuhan para tunanetra, membuat warga pun belajar jika bantuan khusus hanya dibutuhkan saat salat jumat.

Jemaah membantu masuk area masjid yang lazimnya juga lahan parkirnya lebih ramai, pun mencarikan saf kosong. Pada ibadah jemaah sehari-hari, warga terbiasa mengosongkan bagian kanan saf untuk diisi para santri.

Ade Ismail, 34, ketua Yayasan Laudlatul Makfufin yang menaungi pesantren itu mengemukakan kolaborasi dengan masjid juga terjadi ketika santri membutuhkan ruang belajar Alquran braille dan digital yang kini tengah getol mereka pelajari.

“Masjid itu menurut saya menjadi tempat pusat interaksi dan menjalin silaturahim sama warga. Di sana kita bisa berkumpul dengan warga sekitar tanpa harus keliling kampung,” tutup Ade yang beserta seluruh pengurus dan pengajar pesantren juga tunanetra.

Yayasan Raudlatul Makfufin didirikan Muhammad Halim Sholeh, guru agama di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Pembinaan Lebak Bulus Jakarta Selatan, yang juga tunanetra. Ia memadukan pembelajaran agama, akademik, juga keterampilan.

Total ada 12 santri yang bermukim di atas lahan pesantren 1.000 m2 ini ditambah 40 jemaah pulang pergi, yang juga tunanetra. Santri berasal dari Jabodetabek, Brebes, hingga Tulungagung.
Salah satu santri, Khairul Azhar, 16, bergabung sejak tujuh bulan lalu untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru agama.

“Di sini saya belajar banyak, salah satunya kayak sekarang ini, lagi belajar masak,”jelas Ilul yang bersama para santri lainnya sehari-hari, juga dibantu warga saat memasak dan membersihkan lingkungan pesantren.

Quran Serpong Sampai di Afrika Selatan

“Kami punya tiga program, sekolah khusus islam terpadu, pesantren, dan pencetakan Quran braile,” jelas Ade. Istimewanya, Quran braile cetakan Serpong ini sudah tersebar sampai ke Singapura, Malaysia, Australia, hingga Afrika Selatan.

Bukan hanya pendidikan agama, pesantren juga mengajarkan keterampilan yang bisa jadi bekal hidup mereka, seperti memijat, bahasa Inggris, hingga komputer.

“Alhamdulillah, ada beberapa lulusan kami yang kini sudah bekerja di beberapa bank swasta di Jakarta,” kata Ade.

Para santri mempersiapkan dirinya agar lebih berdaya dan warga pun belajar jadi komunitas yang inklusif, semuanya berpangkal dari Masjid Al-Hidayah. (Cikwan Suwandi/*/M-1)

Komentar