BIDASAN BAHASA

Beralih Kelas

Ahad, 5 March 2017 07:30 WIB Penulis: Riko Alfonso

THINKSTOCK

Bahasa gaul. Ada banyak topik menarik untuk dibicarakan seputar bahasa khas anak muda ini. Mulai kekurangannya hingga kelebihannya. Namun, yang tak bisa dibantah ialah, suka atau tidak, bahasa gaul telah memberikan sumbangan kosakata baru dalam khazanah berbahasa di Tanah Air. Bahkan, oleh media massa, genre bahasa ini sering dipakai untuk menampilkan gaya bahasa yang lebih luwes, nakal, tetapi tidak sampai menyinggung pribadi seseorang atau kelompok.

Beberapa minggu yang lalu, saat mencuat berita tentang kegusaran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akibat di depan rumahnya didatangi sekelompok mahasiswa yang berdemonstrasi, muncul tulisan-tulisan di berbagai media massa yang menurut saya cukup menarik untuk diteliti. Salah satunya ialah berita yang berjudul, Mantan Kader Demokrat Bilang, Curhat SBY Lebay. Apa hal menarik yang bisa kita temukan dari judul berita ini?

Dalam judul tadi, setidaknya terdapat dua bahasa gaul yang digunakan, yakni kata curhat dan lebay. Curhat merupakan akronim dari 'curahan hati' dan lebay berarti 'berlebihan'. Jika dilihat konteksnya, tidak ada yang salah dalam kalimat di judul tersebut. Namun, yang menjadi menarik ialah saat saya mencari tahu keberadaan akronim curhat ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kelima.

Dalam KBBI Edisi Kelima, kelas kata pada akronim curhat yang merupakan kata benda, malah disebutkan berkelas kata kerja (verba). Mengapa bisa begitu? Padahal, pada galibnya, kelas kata sebuah frasa tidak pernah berubah saat frasa tersebut digunakan sebagai akronim. Menarik, bukan? Saya pun menemukan beberapa contoh lagi frasa yang bentuk akronim slank-nya berubah kelas kata pada praktik penggunaannya.

Pertama, akronim baper, yang berarti 'bawa perasaan'. Jika dilihat dari kelas katanya, akronim baper ini berfrasa verba. Akan tetapi, pada saat pemakaiannya, kelas kata baper pun berubah menjadi kata sifat (adjektiva). Contoh kalimat, 'Lu jadi orang baper banget, sih'. Untuk akronim berfrasa verba lainnya yang berubah kelas katanya menjadi adjektiva pada saat digunakan di antaranya, yakni bakir ('banyak mikir').

Lalu ada akronim bispak, yang berarti 'bisa pakai'. Kelas kata pada akronim ini ialah verba. Akan tetapi, pada penggunaannya, kata bispak itu malah merujuk pada arti 'pria/perempuan yang bisa dipakai (ditiduri) alias PSK'. Ini berarti berubah kelas kata menjadi nomina. Untuk akronim berfrasa verba lain yang berubah kelas katanya menjadi nomina, yakni jablay ('jarang dibelai'). Dalam pemakaiannya, akronim jablay malah merujuk pada sebutan untuk perempuan kesepian (nomina).

Saya pun banyak menemukan akronim yang berfrasa nomina, tetapi berganti menjadi kata sifat (adjektiva) dalam bahasa gaul ini, di antaranya alay ('anak layangan') yang malah pemakaiannya merujuk pada sifat yang berlebihan, agmon ('Agnes Monica') yang malah merujuk pada arti 'merdu sekali', atau bano ('banci norak') malah berarti 'kampungan'.

Keberadaan bahasa gaul pada dasarnya bukanlah sebuah momok bagi perkembangan bahasa Indonesia. Namun, jangan sampai penggunaannya malah jadi menabrak aturan dan kelas kata yang sudah baku.

Komentar