Pesona

Persatuan Asia di Panggung Fesyen

Ahad, 5 March 2017 03:15 WIB Penulis: Bintang Krisanti

DOK.Asean Fashion Designer

JIKA tengkorak selama ini berkesan horor, tidak demikian di tangan Lenny Agustin. Di ajang tahunan Trunk Show dan Pop Up Store, ASEAN Fashion Desainers Showcase (AFDS) 2017, Lenny memadukan lambang kematian itu dengan ciri khas desainnya yang playful.

Maka hadirlah atasan oversize dan rok berpotongan A dengan material tenun Kalimantan dan batik Jawa Timur. Sementara itu, tengkorak hadir sebagai aksesori.

"Saya mendapatkan inspirasi dari perayaan kebudayaan rakyat Meksiko bernama The Day Of the Dead. Karena itu, koleksi ini dijuluki Sugar Skull of Frieda Kahlo," tutur Lenny di sela-sela acara yang berlangsung di Hotel Gran Melia, Kuningan, akhir Februari 2017.

Selain Lenny, ada tujuh desainer Asia Tenggara yang juga ikut memeriahkan kegiatan AFDS ini. Mereka ialah Hannie Hanananto (Indonesia), Hayden Ng (Singapura), Doris Lee (Singapura), Melvin (Malaysia), Quoc Binh (Vietnam), Yuki Unawa (Thailand), dan Yod yoko (Thailand). Ketujuh desainer tersebut memboyong enam desain untuk ikut memberikan warna yang berbeda pada run-away AFDS tersebut. Tema yang diusung ialah keberagaman kebudayaan Asia khususnya negara mereka masing-masing.

Inspirasi dan cara mereka menyampaikan pesan kebudayaan daerah masing-masing pun sangat beragam. Quoc Binh ialah desainer menjadikan salah satu ikon negaranya yaitu bambu sebagai motif utama dalam setiap koleksinya.

Yuki Unawa atau Yuna menampilkan karya yang merupakan hasil kolaborasinya dengan para perempuan muslim dari daerah Thailand Selatan yang sedang dirundung konflik. Konflik di daerah tersebut membuat para perempuan ini kehilangan suami dan pekerjaan. Oleh karena itu, dengan adanya kerjasama ini, Yuna mampu memberikan lapangan pekerjaan untuk mereka.

Seusai dinikmati, koleksi para desainer kenamaan tersebut sudah terpampang rapi di pop-up store yang berada di sekeliling panggung peragaan busana AFDS malam itu. Pengunjung bisa mencoba, berdiskusi, dan langsung membeli koleksi mereka.

"Sebetulnya kami ingin mengembalikan budaya membeli langsung di masyarakat. Meski terkesan old school, menurut kami metode seperti ini lebih efektif untuk menilai, berdiskusi, dan akhirnya memutuskan untuk membeli salah satu koleksi kami yang paling cocok untuk tipe badan dan kantong pembeli," ucap Hayden Ng yang juga merupakan penggagas AFDS kepada Media Indonesia.

Ajang silaturahim dan berbagi pengalaman

AFDS merupakan sebuah perkumpulan beberapa desainer asal ASEAN yang dimulai melalui media sosial. Hayden Ng sebagai penggagas perkumpulan ini merasa bahwa desainer-desainer asal ASEAN juga memiliki bakat yang tidak kalah jika bertanding di dunia fesyen internasional.

Namun, banyak yang belum memiliki kepercayaan diri dan attitude yang cukup untuk itu. Akhirnya melalui media sosial Instagram, Hayden menghubungi belasan bahkan puluhan desainer yang tersebar di negara-negara Asia Tenggara. AFDS mengadaptasi sistem arisan sehingga penyelenggara dilakukan bergiliran.

"Kita harus berani dan siap untuk melebarkan sayap, terutama agar dunia tahu bagaimana ciri khas dan kebudayaan kita dalam berpakaian," tambah Hayden.

Selain itu, Hayden dan kawan-kawan menjelaskan tujuan utama dari perkumpulan ini ialah ajang sillaturahim alias berbagi informasi. Dengan medium aplikasi ponsel pintar Whatsapp, mereka bisa berdiskusi kapan pun. AFDS juga berharap dapat menjadi ajang pembelajaran bagi desainer muda. (*/M-4)

Komentar