Pilkada

Saudi Tunjukkan Pentingnya Toleransi

Ahad, 5 March 2017 07:04 WIB Penulis: (Nyu/P-2)

ANTARA FOTO/Biropers-Setpres

PENERIMAAN hangat terhadap tokoh lintas agama serta dukungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud terhadap toleransi di Indonesia menunjukkan betapa berharganya modal Islam yang moderat dan to-leran yang dimiliki Indonesia. Peneliti senior Institut Peradaban Ali Munhanif mengatakan seharusnya masyarakat Indonesia bangga dengan modal tersebut dengan cara merawat toleransi antarumat beragama, bukan justru menggunakan isu agama (SARA) untuk kepentingan politik yang dapat memecah belah persatuan.

“Pengakuan Raja Salman terhadap Islam Indonesia, kekhasan kita maka kita juga harus bangga sehingga ada semacam pelajaran memobilisasi massa atas nama agama (itu) tidak bagus,” ujar Ali yang juga pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (4/3). Selain Ali, hadir dalam diskusi tersebut peneliti senior LIPI Dewi Fortuna Anwar, Staf Divisi Komunikasi Kantor Staf Presiden Jojo Raharjo, dan Ekonom UI Ninasapti Triaswati.

Ali menambahkan pengakuan Raja Salman dan pemeritah Arab Saudi atas keharmonisan dalam keberagam­an di Indonesia sangat kontras dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini dengan banyaknya isu SARA dan politisasi beralasan agama. Menurutnya, mobilisasi massa atas nama agama saat ini sudah tidak relevan lagi. Dewi menambahkan kunjungan Raja Salman ke Indonesia menunjukkan adanya keinginan Arab Saudi untuk belajar Islam yang mode­rat, inklusif, dan toleran ke Indonesia. Pasalnya, Arab Saudi dianggap dunia Barat ikut bertanggung jawab terhadap stigma Islam yang radikal dan gerakan terorisme.

“Saudi ingin belajar dari Indonesa bagaimana memajukan Islam yang toleran, bukan kita belajar dari Wahabi, tetapi mereka yang belajar dari Indonesia.’’ Dewi mengkritisi maraknya fenomena kelompok Islam yang ­ingin meniru Saudi dengan ajaran Wahabinya. ‘’Jika sistem beragama di Arab Saudi dipaksakan untuk diaplikasikan dengan Islam toleran di Indonesia, hal itu akan memecah belah persatuan dan menimbulkan konflik di Indonesia.’’ (Nyu/P-2)

Komentar