Hiburan

Pahlawan Super Rusia

Ahad, 5 March 2017 04:02 WIB Penulis: (*/M-4)

FACEBOOK/ ZASHCHITNIKI

PERTARUNGAN pahlawan super belakangan mewarnai bioskop Indonesia. Bak tidak mau ketinggalan, sutradara asal Armenia, Rusia, Sarik Andreasyan merilis film superhero berjudul Zashchitniki atau The Guardians pada Februari 2017 di bawah produksi Enjoy Movie. Berlatar Perang Dingin Uni Soviet, organisasi rahasia bernama Patriot berupaya mengalahkan penjahat super bernama August Kuratov (Stanislav Shirin Sisak). Kuratov ilmuwan yang gemar melakukan percobaan genetik manusia, hingga ia menciptakan manusia berkekuatan super. Namun, sebuah ledakan saat penangkapan membuat Kuratov bertransformasi menjadi makhluk superkuat karena terpapar oleh radiasi. Ia mampu menggerakkan benda berbahan dasar metal.

Dengan kemampuannya ia berencana menghancurkan dunia untuk membalas dendam. Alhasil, Patriot pun mengutus Mayor Jenderak Nikolai Dolgov (Vyacheslav Razbegaev Sisak) memimpin misi bernama The Guardians dengan bantuan empat manusia abadi dan berkekuatan super untuk melawan Kuratov. Keempat manusia super itu ialah Ler (Sebastien Sisak) dengan kekuatan pengendalian bumi dan bebatuan, Ursus (Anton Pampushniy Sisak) manusia setengah beruang yang sangat kuat, Khan (Sanzhar Madiev Sisak) si ahli pedang yang juga memiliki kecepatan super, dan terakhir Ksenia (Alina Lanina Sisak) perempuan yang mampu mejadi tak terlihat saat terkena air dan mampu mengontrol suhu. Dengan motivasi yang berbeda akhirnya mereka pun ditemukan dari tempat persembunyian dan bersedia bergabung untuk menggagalkan ambisi pencipta mereka, Kuratov.

Film ini digunakan sang sutradara guna mengubah citra buruk Rusia. Film-film Hollywood, seperti The Avengers mengisahkan Black Widow (Scarlett Johansson) memiliki kenangan kelam dari pelatihan yang diberikan pemerintah Soviet. Semua karakternya pun dipilih dari daerah pegunungan di Armenia. Beruang pada karakter Ursus terinspirasi oleh simbol nasional Soviet, Khan mewakili republik Asia Tengah, dan Ksenia si invisible sebagai penghubung dan pemersatu ketiga unsur tersebut. Sarik ingin menunjukkan rakyat Soviet memiliki kultur yang beragam tetapi tetap bersatu dan memiliki kekuatan yang tak terhingga jika sudah bersatu.

Sayangnya, fi lm Rusia ketiga yang diterima LSF sejak 2015 ini mendapatkan kritik buruk, yakni datar dan membosankan. Saat Media Indonesia menyaksikan fi lm itu nyatanya permasalahan utamanya ada pada pengalihbahasaan. Pengisi suara pada karakter-karakter itu seperti tidak memberikan penekanan atau emosi yang pas pada setiap scene-nya sehingga seolah fi lm tersebut sangat datar. Ekspresi para karakter di dalamnya pun tak sama rata, banyak yang masih jaim sehingga lengkaplah kesan orang Rusia yang kaku dan membosankan. Selain itu, ada beberapa cacat logika yang
terjadi pada film tersebut.

Seperti celana Ursus yang terus kembali terpakai meski sudah beberapa kali tersobek karena transformasinya saat menjadi beruang dan pada alur yang bisa dibilang monoton dan klise. Sama seperti kisah superhero besutan Marvel dan DC alurnya sama yaitu berkumpul, menyerang penjahat, lalu sempat kalah pada penyerangan pertama dan akhirnya menang. Karena itu, ide cerita yang unik, musik latar yang megah, serta keindahan alam yang dihadirkan shot-shot wide karya Sarik dan kawan-kawan seolah sia-sia. (*/M-4)

Komentar