Khazanah

Melunasi Niat di Wilayah Keramat Leluhur

Ahad, 5 March 2017 04:45 WIB Penulis: Aries Munandar

MI/ARIES MUNANDAR

MARIA duduk bersila di atas tikar pandan cokelat muda. Harapan dan kehendak dilabuhkan perempuan 50 tahun itu melalui rapalan doa. Puna, 109, lelaki di sampingnya, pun bersikap serupa. Ia berdoa dengan bersila di tikar yang sama dan dinaungi tajuk pepohonan menjulang.

Kedua imam adat itu tengah memimpin ritual nsangi di Tembawang Tampun Juah. Ritual pada pagi itu diikuti sekitar 100 warga dari tiga ketemenggungan adat setempat. Ada Ketemenggungan Sisang dan Bi Somu dari Komunitas Adat Bidayuh, serta Ketemenggungan Iban Sebaruk dari Komunitas Adat Iban.

Doa dimunajatkan dalam ritual sebagai ungkapan niat kedatangan mereka sekaligus memohon keberkatan kepada Tompo alias Petahara atau Tuhan Yang Maha Esa. Sesajian pun tidak lupa dipersembahkan pada ritual tersebut.

Babat atau persembahan itu di antaranya seekor babi dan ayam, beras, ketan, telur, rokok, kapur sirih, serta pelita. Babi dan ayam dipersembahkan dalam bentuk potongan daging utuh yang sudah dimasak.
Bait-bait doa pun kembali dilantunkan kedua imam adat sebagai pemanggil semangat. Prosesi ini diikuti penaburan beras serta membalur pedagi (patung) dengan darah ayam dan babi. Sesajian berupa ayam dan babi yang sudah dimasak kemudian diantarkan kembali ke pemimpin ritual untuk didoakan.

Nsangi diakhiri dengan makan bersama. Namun, sebelumnya peserta ritual harus mengoleskan beras bercampur kunyit ke pipi atau kening masing-masing sebagai pengabsahan kehadiran mereka. Setiap perwakilan dari ketemenggungan kemudian dibekali lemang dan daging seusai bersantap bersama, untuk dibawa pulang.

Pengukuhan wilayah

Nsangi digelar warga sebagai wujud syukur sekaligus untuk membayar niat. Tembawang Tampun Juah yang merupakan lokasi keramat bagi mereka dikukuhkan sebagai kawasan adat dalam musyawarah adat. Tembawang merupakan sebutan untuk bekas perkampungan lama yang telah menghutan kembali.

Wujud syukur dan memohon keberkatan juga ditujukan atas pengukuhan peta wilayah adat di Kampung Segumon dan pendirian Radio Komunitas Tampun Juah. Warga juga memohon keberkatan atas rencana pembangunan rumah adat betang bagi ketiga ketemenggungan di wilayah tersebut.

“Nsangi itu bermacam-macam. Ada nsangi bayar niat, nsangi bayar semangat padi, atau nsangi karena sembuh dari penyakit. Nah, yang ini nsangi membayar niat,” jelas Yohanes Mincin, 51, warga Segumon.

Nsangi menjadi puncak dari rangkaian Gawai Besar Rumpun Tampun Juah yang dipusatkan di Kampung Segumon, 12-14 Februari lalu. Kegiatan itu diawali dengan musyawarah adat dan dirangkai dengan seminar. Seremoni pembukaannya dipimpin Bupati Sanggau Paolos Hadi.“Pemerintah Kabupaten Sanggau mendukung kerja-kerja pemberdayaan masyarakat dalam memperjuangkan dan merevitalisasi Tampun Juah,” tegas Paolos.

Musyawarah adat menyepakati berbagai hal penting menyangkut masa depan Tampun Juah. Kesepakatan itu, di antaranya, memperluas lokasi ritual di kawasan keramat tersebut menjadi 5 hektare.

Hasil musyawarah pun memutuskan Gawai Rumpun Tampun Juah akan digelar rutin setiap tahun. Untuk itu, akan dibentuk persatuan komunitas dari tiga ketemenggungan setempat guna menjaga kawasan adat tersebut dan melaksanakan gawai tahunan. Larangan menjual tanah di wilayah adat juga diberlakukan dan disertai sanksi adat.

“Kami berharap masyarakat adat bisa terus membuktikan eksistensi mereka dengan menjaga kawasan Tampun Juah yang tersisa saat ini,” kata John Bamba, Ketua Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK), per­gerakan yang menaungi beberapa lembaga pendamping masyarakat setempat.

Leluhur Dayak

Tembawang Tampun Juah berada di Kampung Segumon, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Lokasi bekas perkampungan tua di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia ini sangat legendaris. Keberadaannya kerap disebut dalam berbagai cerita mengenai sejarah suku Dayak.

Tampun Juah dianggap sebagai tanah leluhur dari 50 subsuku Dayak di Kalimantan, terutama rumpun Ibanik dan Bidayuhik. Eksistensi kedua rumpun etnik itu disimbolkan melalui dua monumen keramat di tembawang tersebut, yakni tiang sandung dan pedagi.

Tiang sandung dengan replika enggang (rangkong) yang bertengger di atasnya merupakan simbolisasi dari komunitas Iban. Monumen kayu ini dahulu berfungsi sebagai tempat menyimpan tengkorak hasil ngayau (penggal kepala) saat perang suku.

Pedagi berbentuk patung sepasang suami-istri beserta anak dalam gendongan melambangkan manusia pertama di Tampun Juah. Pedagi ini menjadi simbol bagi komunitas Bidayuh.

Kedua rumpun etnik Dayak itu hidup rukun dan damai di Tampun Juah hingga melahirkan generasi yang menyebar di seantero Kalimantan. Kebersamaan dan persaudaraan tersebut masih terawat sampai saat ini.
Keharmonisan mereka juga tecermin dari kepemimpin dalam ritual tersebut. Kedua imam merupakan perwakilan dari komunitas adat masing-masing. Maria dari Bidayuh dan Puna dari Iban. Prosesi dalam nsangi menggunakan adat Bidayuh.

Sebagai lokasi keramat, Tampun Juah juga dinaungi aura magis. Warga sering mendapati beberapa tanaman lokal berbuah di luar musim. Namun, buah itu lenyap manakala hendak dipetik. Mereka pun meyakini ada penghuni dari kehidupan lain di Tampun Juah, yang disebut ‘orang Tampun’. (M-2)

Komentar