PIGURA

Putra Pandawa

Ahad, 5 March 2017 08:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

PRESIDEN Joko Widodo menyebut demokrasi di Indonesia sudah kebablasan. Praktiknya telah membuka peluang artikulasi politik ekstrem seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, terorisme, serta ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Mungkin inilah jawaban kenapa demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan yang dianggap paling baik dan kita anut untuk membawa kemajuan bangsa tetapi kenyataannya hingga kini tidak (belum) memberikan berkah, tetapi malah berujung masalah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebablasan adalah terlewat dari batas atau tujuan yang sudah ditentukan; keterlaluan. Berdasar pengertian ini, sesungguhnya yang keterlaluan itu orang (elite)-nya. Mereka mengunyah demokrasi kelewat batas, mengumbar selera (hak) tapi abai etika dan emoh kewajiban dan tanggung jawab.

Bila model elitenya demikian adanya, betapa pun eloknya suatu sistem, dipastikan itu tidak akan memberikan manfaat bagi rakyat. Justru itu mengancam entitas bangsa dan negara. Inilah yang dikhawatirkan akan terjadi bila kita tidak segera eling dan mengoreksi diri.

Berpijak pada narasi itu, bangsa ini, terutama para elitenya, mesti berintegritas dan memahami filosofi kehidupan berbangsa. Bukan hanya menuntut hak, melainkan juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Kemajuan bangsa tidak akan terwujud tanpa peran serta semuanya.

Konteks dengan itu, rasanya relevan ajaran Pangeran Sambernyawa (1725-1796) sebagai alternatif solusinya. Piwulang itu ialah Rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasawani (Merasa ikut memiliki, wajib ikut membela, wawas diri).

Berani berkorban

Dalam dunia pakeliran, salah satu kunci utama kemajuan yang dicapai Negara Amarta, yang kondang pula bernama Indraprastha, berkat sikap dan dedikasi putra-putra Pandawa yang menjalankan petuah Tridharma tersebut. Mereka tidak pernah menuntut hak, sebaliknya justru mempertaruhkan jiwa raga demi kejayaan Amarta.

Mental luhur seperti itu karena dilandasi pemahaman yang jernih terhadap jerih payah dan perjuangan para pepunden mereka, Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) ketika berjibaku mendirikan Negara Amarta.

Pandawa menyabung nyawa di atas lahan belantara yang bernama Wanamarta. Wilayah itu sejatinya merupakan kerajaan siluman yang dipimpin Prabu Yudhistira. Pengertian akan nilai-nilai sejarah itulah yang membuat mereka tidak hanya ingin berpangku tangan menikmati kemerdekaan, tapi juga berkewajiban dan bertanggung jawab untuk ikut serta memajukan bangsa dan negara. Bekalnya bukan sekadar kesadaran, mereka juga menjalani laku prihatin untuk mengasah sekaligus menebalkan kualitas jiwa kesatria.

Para putra pandawa yang terceritakan dalam dunia pakeliran, antara lain, Pancawala (putra Puntadewa), Antareja, Gathotkaca, dan Antasena (putra Werkudara), Abimanyu, Prabakusuma, Wisanggeni, Irawan, Sumitra, Prabakusuma, Bratalaras, dan Wijanarka (putra Arjuna), Pramusinta (putra Nakula), Srutakirti, dan Suhotra (putra Sadewa).

Dalam seni pedalangan, dari sejumlah kesatria itu, yang sering dikisahkan ialah Gathotkaca, Antareja, Antasena, Abimanyu, dan Wisanggeni. Mereka merupakan pilar-pilar terdepan, terutama dalam menjaga kedaulatan Amarta. Mereka merepresentasikan pertahanan solid tiga matra, yakni udara, darat, dan laut. Udara dikomandani Gathotkaca. Lalu Abimanyu bertanggung jawab atas keamanan di darat. Antareja mengawal dalam perut bumi, sedangkan Antasena menjaga kedaulatan laut. Mereka melaksanakan tugas dengan penuh pengabdian sehingga Amarta aman dan damai.

Keempat kesatria utama itu juga memiliki tanggung jawab terhadap kesatrian masing-masing. Gathotkaca di Kesatrian Pringgondani yang sesungguhnya negara yang juga memiliki rakyat. Namun, ia lebih berkonsentrasi untuk kejayaan Amarta. Abimanyu berdomisili di Kesatrian Plangkawati, Antareja bertempat tinggal di Kesatrian Jangkarbumi, dan Antasena berada di Kisikarmada.

Wisanggeni sehari-hari berada di Kahyangan Daksinapati. Namun, bila para saudaranya kerepotan dalam mengemban tugas, ia akan turun ke marcapada memberikan pencerahan dan jalan keluar. Tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan bila ia campur tangan.

Dalam kiprah mereka, para putra Pandawa selalu bersikap merasa memiliki Amarta. Karena itu, mereka terpanggil untuk membelanya. Pada titik ini mereka setiap saat siap menyerahkan jiwa raga. Mereka juga terus mengoreksi diri agar senantiasa berada dalam kebenaran rel perjuangan.

Tiji tibeh

Puncak pengabdian dan pengorbanan para putra Pandawa demi kejayaan Amarta sekaligus keluhuran Pandawa ketika pecah perang Bharatayuda. Yakni, pertempuran antara Pandawa dan Kurawa di Kurusetra yang melambangkan perangnya nafsu kebaikan melawan keburukan. Mereka semua maju ke pelagan dengan gagah berani.

Kodratnya, semua putra Pandawa gugur sebagai kusuma bangsa. Pengorbanan mereka tidak sia-sia karena Pandawa pada akhirnya berjaya sehingga menyatukan Amarta dengan Astina, warisan orangtua mereka. Semangat perjuangan mereka diilhami slogan tiji tibeh (mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh). Artinya kurang lebih mati satu mati semua, sukses satu sukses semua. Inilah yang membuat mereka solid dalam perjuangan. Ini juga merupakan ajaran Pangeran Sambernyawa yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Dikontekskan dengan bangsa ini, adalah kewajiban dan tanggung jawab semua putra bangsa untuk menunaikan cita-cita founding fathers menuju Indonesia maju.

Sistem demokrasi yang kita pilih saat ini semestinya sebagai ‘tool’ untuk mencapai tujuan, bukan malah ditunggangi untuk memburu kepentingan sempit dan sesaat.

Tentu, ajaran Pangeran Sambernyawa tersebut perlu diejawantahkan dalam situasi kekinian. Kita berkewajiban dan bertanggung jawab sesuai dengan bidangnya. Dalam bahasa dalang Ki Manteb Soedharsono, menurut pakemnya masing-masing. Bila semua bersatu dan solid gumregah cancut tali wanda (bersemangat dan serius berkarya), negara ini pasti mencapai kejayaannya. (M-4)

ONO SARWONO
sarwono@mediaindonesia.com

Komentar