Wirausaha

Rumah, Pengungkit Kehidupan

Ahad, 5 March 2017 08:20 WIB Penulis: Iis Zatnika

MI/ BARY FATHAHILAH

Perumahan bergaya cluster di kawasan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat itu hanya berjumlah 14 unit, jaraknya lima menit berjalan kaki dari jalan besar. Bangunan minimalis modern berlantai dua itu memang mentereng, lokasinya pun strategis, tetapi tetap saja membuat cukup ternganga ketika disebut harganya.

“Royal Sakinah ini kami jual dengan harga Rp1,390 juta hingga Rp1,645 juta untuk cash keras. Ya, karena walaupun masuknya Depok, mau bicara apa saja, ada di sini. Sekolah-sekolah bagus hingga fasilitas S-3 di Universitas Indonesia, stasiun, mal, dan pusat niaga, semua dekat,” kata Musthafa Hadid Alaydrus, 28, CEO dan salah satu pendiri PT Bumi Sakinah Propertindo ketika dijumpai Media Indonesia di lokasi proyeknya, Kamis (2/3).

Hadid yang juga peserta Mini MBA in Property angkatan pertama dan lulus pada Sepetember 2016 ini merin­tis usahanya sejak 2011 dari proyek perumahan untuk para guru yayasan pendidikan milik keluarganya. Kini, ia konsisten menggarap proyek perumahan untuk kelas menengah hingga premium berkonsep cluster.

Bermodal mini thesis tentang konsep Royal Sakinah, Hadid mengaku diganjar kesempatan memperoleh kredit dari Bank BTN.

“Mungkin karena juri menilai proyek ini memang layak karena semua izin sudah dipenuhi, harga jualnya juga bagus, dan sudah jalan juga,” kata Hadid yang menitikberatkan penyelesaian perizinan merupakan agenda utama para pengembang.

“Jadi buat konsumen, yang penting cek-cek dulu semua perizinan yang puncak utamanya adalah terbitnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Begitu pula pengembang, mereka yang ingin bisnisnya mulus, memenuhi hak konsumennya, izin itu yang jadi prioritas,” kata Hadid.

Bukan cuma hasil presentasi yang beroleh komitmen BTN yang membuat Mini MBA itu sangat berpengaruh pada roda bisnis Hadid, pemaparan dan diskusi dengan sesama pelaku dan narasumber pun dinilainya teramat berharga.

Tanya langsung ke praktisi

“Bisa dibilang daging semua. Bayangkan, dapat pemaparan langsung dari Dinas Tata Ruang Bekasi, soal legalitas tanah juga dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bekasi, bahkan ada pengembang Margahayu Land berbicara di sini, pengembang besar yang mau membuka banyak kiatnya. Dari pelaksana aturannya langsung, para praktisi, sehingga tanya jawabnya bisa tuntas,” kata Hadid.

Sementara, dari sesama peserta, Hadid mengaku juga banyak belajar dari pengalaman mereka di lapangan. “Karena kan, tiap daerah dan proyek pasti punya cerita berbeda, pengalaman mereka berhadapan dengan berbagai jenis aturan, aparat pemerintah, masyarakat lokal, hingga konsumen,” ujar Hadid yang juga anggota Klub Properti TDA Depok, komunitas peng­usaha properti di bawah naungan Tangan di Atas (TDA), yang kini anggotanya tersebar hingga Palembang, Manado, dan Gorontalo.

Ada 24 anggota TDA Depok yang mengikuti Mini MBA angkatan pertama, diikuti pada batch-batch berikutnya. Mengikuti berbagai forum, kata Hadid, membuat pengusaha properti punya banyak kiat praktis, terutama ketika masalah mencuat. Trik-trik yang dikupas meliputi bisnis pengembang mulai hulu ke hilir, mulai mindset, lahan dan lingkungan, pembiayaan, legal dan perizinan, hingga manajemen.

Sejuta Rumah, bisa

Ketua Klub Properti TDA Depok, Rudi Sahpura, menuturkan pihaknya memang mendorong anggotanya mengikuti kelas Mini MBA. “Di internal kami, dengan 150 anggota dan iuran Rp50 ribu per bulan, ada berbagai kegiatan yang dilakukan mulai ngopi, ngobrol properti satu bulan sekali, workshop developer dua tahun 1 kali, TDA Mini Expo, pameran proyek bersama, KPK alias Kunjungan Proyek Keliling, hingga Tour de Java pada April mendatang. Saat tur kami lakukan pelatihan, kunjungan lapangan, dan acara jalan-jalan,” kata Rudi, pendiri Jangkau Realty yang kini tengah menggarap proyek di Depok sebanyak 30 unit dengan harga Rp500 jutaan.

“Kalau buat saya pribadi, yang paling mengena adalah topik tentang Business Model Canvassing yang dibawakan oleh tim ITB. Kami diajarkan tools, bagaimana menyusun mind mapping, lengkap dengan kolom-kolomnya. Ini sangat berguna bagi kami untuk menentukan apakah suatu proyek yang layak dijalankan atau tidak,” kata Rudi yang mengaku optimistis dengan masa depan bisnis properti di Indonesia, termasuk dengan program Sejuta Rumah.

Syaratnya, kata Rudi, selain dukungan dari pihak perbankan, juga dibutuhkan regulasi untuk mempermudah akses pengembang memiliki land bank serta pembenahan perizinan.

“Sudah bagus dengan regulasi perpajakan sekarang sehingga mereka yang memiliki land bank tapi tidak segera membangun, dikenai pajak progresif. Begitu pula dengan perizinan, yang pada praktiknya implementasi di lapangan akan sangat variatif. Asal environment-nya mendukung, Sejuta Rumah pasti bisa!” (Zat/M-2)

Komentar