Tifa

Spirit Tradisional Bali dalam Tarian Zan

Ahad, 5 March 2017 00:30 WIB Penulis: (Zuq/M-2)

MI/ABDILLAH M MARZUQI

“TARIK kakimu dengan menggunakan otot-otot perut,” terang sang guru. Sang murid pun dengan segera melakukan instruksi ­tersebut. ­“Tegakkan tubuh bagian atas,” sambung sang guru lagi. Begitupun murid lalu menjalan­kannya. Zan Yamashita terus bergerak mengikuti arahan dari sang guru. Bukan dalam ruang dan waktu yang sama. Sang murid melakukan pembelajaran itu dengan menggunakan media internet. Itulah secuplik dari tari Road to Evil Spirit karya Zan Yamashita yang di­tampilkan di Galeri Salihara ­Jakarta pada 26 Februari 2017. Selama 60 menit, koreografer asal Jepang itu menampilkan kehadiran energi roh jahat dalam tarian tradisional Bali. Dalam tempo lambat--tidak seperti dalam tarian tradisional ­Bali--Zan menciptakan tari kontemporer dengan elemen-elemen panggung yang sangat sederhana.

Zan Yamashita ialah seorang koreografer tari konseptual yang metodologi penciptaannya selalu terkait dengan kata-kata. Ia adalah sosok yang unik dalam khazanah tari Jepang. Beberapa karyanya antara lain It is Written There (2008), It’s Just Me Coughing (2009), dan Daikoushin (2010). Karya Road to Evil Spirit bermula ketika ia berkunjung ke Pulau Bali pada musim panas 2015. Ketika itu, Zan Yamashita menjadi seniman mukiman di Bali selama enam pekan.

Tari yang diciptakan pada 2015 tersebut menggunakan arena pameran sebagai panggung pertunjukan. Properti penunjang seperti sesajen, tampah, piring, sumpit, jarik, atau payung, sama sekali tidak dihadirkan. Ia justru lebih banyak mengeksplorasi gerakan di ruang sempit, yakni di bawah sorot lampu berbentuk lingkaran yang dipantulkan dari layar proyektor. Roh jahat itu bagaimana bentuknya? Dalam tari sepanjang 30 menit, Zen menginterpretasikan roh jahat yang ada dalam dirinya. Ketika itu, sang guru yang tidak terlihat di atas panggung memberikan serangkaian instruksi kepada Zan Yamashita tentang bagaimana menggunakan tubuhnya, mulai cara memegang sumpit hingga ­koreografi tari tradisional Bali. Sang guru yang tak terlihat ini adalah penari Jepang yang telah menetap di Bali selama 30 tahun, yang kehadirannya tersembunyi dalam versi pertunjukan yang formatnya disederhanakan dari versi aslinya ini.

Pertama kali, Zen berkunjung ke Bali, ia merasa menjadi roh jahat karena masyarakat Bali sangat fanatik dengan tari tradisional, sedangkan Zen adalah koreografer tari kontemporer. Karena itu, ketika ia memperkenalkan diri sebagai kontemporer, masyarakat Bali ­bilang bahwa mereka tidak melakukan tari kontemporer.

Sejajar dan berdampingan

Saat berada di Bali, ia melihat segala sesuatu terlihat sejajar dan berdampingan, dari pernak-pernik ritual dan kegiatan sehari-hari hingga jalan layang dan laut. Sepulang dari Bali ia belajar kepada sang guru melalui internet. Sulit baginya menguasai tari tradisional, tetapi karena sang guru banyak menggunakan mitos dalam pengajarannya, Zan pun menciptakan mitos baru, yaitu interpretasi roh jahat di dalam tubuhnya. “Ternyata seni kontemporer kurang lebih sama dengan roh jahat bagi orang-orang Bali. Menariknya, orang Bali menyembah baik roh baik maupun jahat dan merayakan keduanya bersama di upacara-­upacara,” terang Zan Yamashita. Apresiasi masyarakat Bali terhadap kehadiran roh baik dan roh jahat memberikan harmonisasi tersendiri. Dianggap berkeduduk­an setara, roh baik dan roh jahat diterima secara berdampingan. Di kebanyakan tradisi, roh jahat ditolak kehadirannya dan dianggap sebagai pengganggu. Sementara itu, di Bali, roh jahat diterima sebagai penyeimbang dan pengontrol. (Zuq/M-2)

Komentar