Eksplorasi

Fosil Tertua di Bumi Berusia 4 Miliar Tahun

Sabtu, 4 March 2017 08:30 WIB Penulis: Zic

DOK. MATTHEW DODD

PENELITI berhasil menaksir usia fosil yang ditemukan di Quebec, Kanada.

Menurut hasil temuan yang dipublikasikan pada jurnal Nature edisi pekan ini, fosil yang didapat dari situs situs Nuvvuagittuq Supracrustal Belt itu diperkirakan berumur lebih dari 4 miliar tahun lalu.

Fosil ditemukan dalam bentuk darah dan filamen yang terbentuk dari bakteri yang ada di laut.

Lebarnya tak lebih dari setengah helai rambut manusia. Panjangnya hanya 1 milimeter.

Fosil didapat peneliti di dalam struktur kuarsa seperti bunga berwarna putih di dasar laut.

Peneliti mengatakan fosil tersebut terbentuk antara 3,77 dan 4,29 miliar tahun lalu.

Jika dibandingkan dengan penemuan mikrofosil tertua yang di Australia Barat, fosil dari Kanada itu lebih tua 300 juta tahun.

Ahli ilmu kebumian di University College London, Dominic Papineau, mengatakan penanggalan fosil di Quebec itu hanya berjarak ratusan juta tahun dari awal mula pembentukan sistem tata surya.

Dengan temuan itu, peneliti menyakini bahwa bentuk-bentuk kehidupan pertama di Bumi berusia lebih tua. Diperkirakan, terdapat kehidupan di Bumi ketika planet dalam masa pertumbuhan (infancy) pada miliaran tahun lalu.

Anggota tim peneliti dari London Centre of Nanotechnology, University College London (UCL), Matthew Dodd, mengatakan bahwa para peneliti sebelumnya memunculkan pertanyaan besar soal kemungkinan menemukan keberadaan karbon organik yang merupakan penanda dari bentuk kehidupan di Bumi.

"Ada satu pertanyaan besar soal studi asal mula kehidupan, yakni apakah karbon organik yang ditemukan pada bebatuan memang bersifat biologis," ujar Dodd.

Untuk itu, peneliti menggunakan beberapa metode untuk mengujinya, termasuk metode pencitraan laser (laser-imaging) guna menganalisis komposisi mineral.

Melalui metode tersebut, para peneliti menemukan batu apatite dan batu karbonat yang dapat memberikan bukti kuat terkait dengan unsur kehidupan mikrofosil.

Tak hanya itu, peneliti juga menganalisis perubahan suhu dan tekanannya.

Temuan dari riset tersebut kini juga menjadi pelengkap dari penemuan stromatolit berusia 3,7 juta tahun lalu di Greenland. (AFP/Zic/L-2)

Komentar