Kesehatan

Waspadai Kebisingan Sebabkan Ketulian

Jum'at, 3 March 2017 08:16 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA/Adrie Indrayadi

PAPARAN bising menjadi salah satu faktor penyebab ketulian. Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) Damayanti Soetjipto mengimbau supaya anak jangan terlalu sering terpapar kebisingan.

Damayanti menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan Komnas PGPKT, pada tempat bermain anak di sejumlah mal di Indonesia umumnya terdapat banyak permainan yang mengeluarkan bunyi keras yang dapat merusak pendengaran anak.

"Komnas PGPKT telah mengukur bising di tempat bermain anak di 16 kota besar di Indonesia dan mendapati bunyi alat permainan berkisar 93-128 desibel saat diukur dengan sound level meter. Angka itu di atas rata-rata desibel untuk pendengar-an, yakni 80," katanya dalam diskusi memperingati Hari Pendengaran Sedunia di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (1/3).

Menurut Damayanti, batas aman pada bunyi di atas 100 desibel ialah 15 menit. Jika dalam waktu lama, dianjurkan menggunakan alat pelindung pendengaran.

Selain di tempat main anak di mal, Damayanti mengatakan di sekolah kejuruan para murid juga rentan gangguan pendengaran.

Sekolah menengah kejuruan (SMK), imbuhnya, menggunakan mesin-mesin praktik yang bising. Kondisi itu berisiko mengakibatkan tuli permanen.

"Kebiasaan menggunakan earphone dengan volume tinggi juga bisa mengganggu pendengaran," imbuh dia.

Dapat ditanggulangi

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung,

Tenggorok-an, Bedah Kepala Leher Indonesia (Perhati KL) Soekiman Seokin menjelaskan ada lima penyebab utama ketulian, yaitu radang telinga tengah menahun (congek), tuli sejak lahir (kongenital), tuli akibat bising, tuli karena usia tua (presbikusis), dan tuli yang disebabkan serumen atau kotoran telinga.

"Sebanyak 50% ketulian dapat ditanggulangi."

Pada kasus bayi lahir tuli, Soekiman mengatakan diperlukan perhatian khusus dalam upaya deteksi dini. Apabila terlambat ditangani, anak tersebut akan mengalami kesulit-an dalam berkomunikasi.

"Deteksi pendengaran pada bayi, baru ada di RS besar. Hanya pada kasus tertentu seperti bayinya kuning, ada riwayat rubela ketika ibu hamil, risiko ini bisa segera dideteksi," terangnya.

Soekiman menjelaskan deteksi pertama sebaiknya dilakukan dua hari setelah bayi lahir.

Kemudian ketika usia 3 bulan, deteksi kembali dilakukan untuk mengetahui taraf ketulian.

"Kalau ambang ketuliannya berat, sekitar 100 desibel, mulai dipikirkan untuk melakukan implan rumah siput untuk bantuan pende-ngaran," terang Soekiman.

Pada kesempatan itu Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Lily Sulistyowati mengatakan gangguan pendengaran akan menimbulkan gangguan informasi, yang dapat mengurangi produktivitas dan daya saing serta kualitas hidup.

Menurut data Kemenkes 2013, prevalensi ketulian meningkat pada masyarakat kelompok usia 55-64 tahun.

Indonesia berada pada peringkat keempat di Asia Tenggara untuk angka ketulian tertinggi setelah Sri Lanka, Myanmar, dan India.

"Karena itu, kami mendo-rong peningkatan skrining atau deteksi dini gangguan pendengaran pada kelompok masyarakat yang berisiko," tukas Lily.

(Ind/H-1)

Komentar