Surat Dari Seberang

Angka 21 di HIA

Rabu, 8 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Hamad International Airport---Foto: Milto Seran

Never fall in love. Love is poison.
Once you fall in love, you lose control over your life.
Your heart and mind belongs to someone else.
Your existence is threatened.
__Paulo Coelho (The Spy, 63).

VOLODE dan Liza mengumpulkan tiket kami dan berjalan menuju kasir di Marche Restaurant, satu dari daftar restoran mewah di Hamad International Airport. Kami segera menempati kursi-kursi kosong. Di dekat kami ada screen untuk live information semua penerbangan dari Doha. Di sekeliling meja, keakraban, keceriaan dan persahabatan mulai menunjukkan wajahnya dalam senyum dan keramahan.

Boarding pada pukul 07.35 di gate 21E. Seat 24A di zone 2. Flight - QR 816. Pukul 08.35 kami akan terbang ke Hong Kong. Kami masih punya tigapuluh menit free time sebelum boarding. Masih bisa lihat-lihat, berbagi kisah, bercanda dan terutama menikmati free breakfast. Sayang sekali. Penumpang yang menngantri sangat banyak. Tak hendak menunggu lama di Marche Restaurant, kami memilih beranjak ke gate 21E yang letaknya sedikit jauh. Dengan jasa kereta listrik di lantai tiga, kami meluncur ke sana. Kami sudah sepakat mengorbankan free breakfast.

Di sini, di Qatar. Iya, di sini di Doha, di Hamad International Airport (HIA), sekali lagi angka duapuluh satu menjadi istimewa dalam hidup saya. Tiga tahun lalu, di sini angka itu begitu menonjol.

Di dalam kereta listrik, saya duduk di sebelah Anna. Saya teringat pesan seorang sahabat di Moscow, saat dia mendengar perjalanan saya ke Jakarta. “Pergi dengan gembira, pulanglah dengan gembira pula. Kami selalu menunggumu!” Begitulah Orang Russia. Kalau sudah akrab, kita seperti dalam satu keluarga saja, seperti saudara dan saudari. Setiap kali bertemu selalu bersalaman; dengan kata-kata saja rasanya ada yang tak lengkap. Orang mesti berpelukan. Tak sekadar merangkul. Di situ ada ikatan emosi, di situ ada kehangatan yang menjadikan sahabat tak sekadar teman bicara. Kehangatan menjadikan semuanya cair. Meski di luar sana musim dingin sungguh kejam. Tak sehelai daun pun tinggal hijau di ranting-ranting.

Ini pengalaman pertama pulang kampung, setelah beberapa bulan tinggal di Moscow. Pulang kampung, saya rindu Moscow. Pulang ke Moscow, saya rindu kampung. Kadang rindu hanyalah sebuah kebingungan. Tapi perjalanan, entah jauh atau dekat selalu membawa pemahaman baru. Perjalanan, entah sendirian atau bersama seorang teman, selalu menjadikan kamu pribadi yang tercerahkan.

Di Qatar, di Hamad International Airport, saya terus membayang-bayang perpisahan dengan dua mahasiswi dari Surabaya yang dalam pesawat duduk di sebelah saya tiga tahun silam. Mereka mengucap selamat jalan kepada saya di Doha, dan berjalan menuju gate mereka, menunggu pesawat ke Kairo. Dua mahasiswi muslim yang sangat ramah.

Hari itu, di pertengahan Oktober 2014, di Doha saya pun sadar, angka duapuluh satu begitu misterius. Dari Jakarta saya duduk di deretan tempat duduk 21, menunggu penerbangan ke Moscow di gate 21D dengan seat 21A. Angka 21 memang selalu muncul dalam pengalaman-pengalaman yang sederhana. Saya mengeluarkan sebuah kartu dari dompet. Ada beberapa angka di situ. Saya jumlahkan semua angka. Hasilnya duapuluh satu. Bahkan di awal tahun ini, saat mulai menulis lagi kisah-kisah perjalananku, saya sadar itu juga terjadi pada 19.01.2017. Semua angka pada tangggal itu dijumlahkan dan hasilnya duapuluh satu. Intinya, saya lahir pada 14.07. Jika tanggal dan bulan dijumlahkan (14 + 07), hasilnya duapuluh satu. Saya lahir pada tahun 1983. Coba jumlahkan sendiri angka-angka itu! 1+9+8+3 = ?

Barangkali angka duapuluh satu cuma sebuah kebetulan. Angka yang sering muncul, angka yang menunjuk pada tanda tertentu. Tapi saya belum paham sepenuhnya, tentang tanda di balik angka ini. Bahwa angka-angka memiliki makna serta mempengaruhi kehidupan adalah hal yang tak terbantahkan. Itu alasannya Phythagoras percaya, “Number rules the universe.”

Hamad International Airport tampak begitu mewah. Tak heran, Bandara ini merupakan salah satu dari daftar sepuluh Bandara termewah di dunia. Setiap tahun, rata-rata penumpang yang mampir di sini sembilanpuluh tiga juta jiwa. Bandara ini termasuk belum lama beroperasi. Mulai dikerjakan sejak 2005, dan untuk Cargo baru beroperasi pada 1 Desember 2013. Belum lama ini, pada 5 Januari lalu, HIA menerima penghargaan internasional. HIA adalah satu-satunya Bandara di Timur Tengah yang menerima pengakuan dari Skytrax, “The London-based Aviation Institute”, sebagai Bandara dengan desain berbintang lima.

Boarding untuk Flight ke Hong Kong sudah berlangsung. Di gate 21E Bahasa Mandarin terdengar begitu dominan. Dalam grup, kami saling memandang, menggeleng-geleng tak paham. Semua penumpang diangkut dengan bus bandara menuju pesawat. Kami segera terbang ke Hong Kong dengan Airbus a380 Qatar Airways.

Grup-kebetulan ini tiba-tiba diliputi kecemasan. Anna tidak kelihatan. Sering dia menyendiri. Turun dari bus Bandara, kami berjalan menuju pesawat. Anna benar-benar tidak ada di sini. Tadi saat di dalam kereta listrik, dia begitu tenang.

“Dia berjalan ke lantai dua di dekat gate 21E. Dia bilang mau beli air minum. Itu saja,” kata Liza.

“Dia pasti datang,” sambung Volode, “Dia sudah dewasa.”

Sudah dua kali bus menurunkan penumpang di dekat tangga naik ke pesawat. Anna tak kelihatan. Perjalanan ke Hong Kong, iya perjalanan pertama kali ke Hong Kong mungkin tanpa Anna. Dia menghilang. Atau dia melarikan diri, meninggalkan grup-kebetulan ini. Kami sudah menempati seat masing-masing. Bus Bandara datang lagi. Mungkin ini adalah kelompok penumpang terakhir yang diangkut dari gate 21E. Penumpang-penumpang itu berjalan menaiki tangga. Lewat kaca jendela, saya perhatikan penumpang demi penumpang. Anna benar-benar tidak ada. Tak kelihatan. Dia mungkin masih sibuk mencari air minum untuk dibeli di gate 21E. Dia kemudian kembali ke tempat kami berkumpul terakhir tadi. Grup-kebetulan ini tak dilihatnya lagi. Dia menghadap petugas, lalu petugas dengan santun menyampaikan, “Maaf, anda terlambat lima menit. Pesawat sudah take-off.”

Lalu apa kata Anna? Anna tetap tegar di hadapan situasi seperti ini. Dia sudah sering melakukan perjalanan seorang diri. Dia menyukai tantangan. Terakhir dia berlibur di Thailand. Di sana dia menyendiri, menikmati pantai-pantai yang memanjakan mata.

Saya menghidupkan screen di depan. Memilih lagu-lagu kesukaan. Menikmati lagu-lagu Bruce Springsteen. Kemudian membuka halaman-halaman “The Spy”, membaca Coelho tentang Mata Hari. Ketika tiba di Paris untuk pertama kalinya, Mata Hari, si penari bintang nan eksotis, mendapat nasihat dari Madame Guimet supaya jangan begitu saja jatuh cinta. Sebab jatuh cinta menjadikan seseorang budak dari kebebasannya sendiri.

Never fall in love. Love is poison. Once you fall in love, you lose control over your life. Your heart and mind belongs to someone else. Your existence is threatened. You start to do everything to hold on to your loved one and lose all sense of danger. Love, that inexplicable and dangerous thing, sweeps everything you are from the face of the earth and, in its place leaves only what your beloved wants you to be. (The Spy, 63).

Saya menempati seat 24A. Di dekat saya, seat 24B tanpa penumpang. Dalam hati, “Jangan-jangan ini adalah seat untuk Anna?” Hingga saat ini dia tak kelihatan. Sungguh sayang, grup kami sudah minus Anna. Sedangkan kursi di sebelahnya lagi, seat 24C ditempati seorang pria berpostur tinggi, berkulit hitam legam. Dia tak bicara. Beberapa kali tampak jelas, dia tersenyum pada pramugari yang menawarinya kopi, teh dan soft drink. Saya memilih lagu-lagu kesukaan, memencet tombol “Play” dan dengan itu saya menikmati perjalanan ini, terbang menuju Hong Kong.***

Komentar