Surat Dari Seberang

Doha dan Grup-kebetulan

Ahad, 5 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Hamad International Airport---Foto: Milto Seran

Jika kamu ingin maju,
kamu butuh energi yang namanya keberanian.
Energi itu yang mendorong langkahmu
agar kamu dapat bertolak ke tempat yang baru
dan asing sekalipun.

DI Qatar, Tuhan mengubah arah perjalananku. Tuhan mengubah segalanya. Cerita yang sudah dimulai seakan runtuh. Mulai dari nol lagi. Saya tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi dalam perjalananku. Ada keterkejutan. Ada keheranan. Mungkin ada juga berkah terselubung. Semoga saja malapetaka dijauhkan dari kami, seperti doaku di kamar di rumah kami di Moscow.

Bersama Alisa dan Sasha kami jalan-jalan di sekitar Hamad International Airport. Kami mencari tempat untuk beristirahat. Sudah limabelas menit berkeliling, tidak tampak ruang kosong. Alisa dan Sasha membawa saya ke desk registrasi gratis untuk jalan-jalan keliling Doha dengan kendaraan dari Perusahaan Qatar Airways. Di sana kami mendapati desk registrasi ditutup.

“Registrasi tidak dibuka. Lain kali kita bisa mencoba,” kata Alisa.

Jalan-jalan lagi. Kami tiba di Airport TV room dan di sana ada kursi yang tidak ditempati. Kami beristirahat sejenak di sana. Sasha meminta alamat surat elektronik saya, sambil menyerahkan dua kartu nama. Satu tentang Alisa dan yang lainnya tentang Sasha sendiri. Di situ saya pun tahu. Alisa Kalashnikova adalah Chief Specialist of Research and Analytics Department pada Rossiya Segodnya. Sedangkan Aleksander Zotin adalah staf Majalah Komersan-DENGI di Moscow.

Sambil beristirahat di ruangan sempit itu, saya men-charge handphone. Belum genap duapuluh menit, seorang cowok mendekat. Sasha berjalan ke arahnya, dan kembali ke ruang TV bersama si cowok. Sasha memperkenalkan kami. Bersalaman, kami menyebut nama masing-masing, “Milto, nama saya.” “Saya – Vladimir atau Volode.”

Kami lalu diajak Volode meninggalkan ruang TV. Bukan berjalan ke gate yang seharusnya, kami malah menyasar tempat yang tidak saya pahami. Sasha dan Volode, juga Alisa berbicara tentang hal yang belum jelas untuk saya. Sesekali mereka menyebut Hong Kong. Kami berjalan menuju sebuah ruangan, dekat lorong “Exit”. Di sana ada tiga penumpang lain. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan penjelasan dari seorang pegawai Qatar Airways tentang sesuatu yang tidak biasa.

Dalam Bahasa Inggris, pegawai itu menjelaskan hal yang sama sekali kabur. Membingungkan. Juga menimbulkan kecurigaan.

“Kami sangat membutuhkan lima penumpang tujuan Jakarta untuk terbang lewat Hong Kong. Kami akan beri tiket baru. Juga ada voucher makan gratis di semua restoran di Bandara di Doha dan juga di Hong Kong. Lima menit international call dan juga uang kompensasi.”

Saya belum paham sepenuhnya. Mungkin karena sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal semacam ini. Volode dan tiga penumpang lainnya sudah sepakat. Mereka setuju. Saya menolak. Saya tidak hendak mengambil risiko tersesat di Hong Kong. Kehilangan tiket dan saya akan dilanda kebingungan hebat di sana. Apa kata teman-teman di Russia tentang saya dan kebodohan ini nanti?

Kepada pegawai itu dengan tegas saya menyampaikan keberatan. “Tidak apa-apa. Kamu bebas memilih. Kamu bisa mengikuti rute normal, Doha – Jakarta.”

Mendengar itu, saya menghindar sedikit jauh dari si pegawai.

“Kami butuh satu penumpang lagi,” kata pegawai itu sambil melihat ke arah Alisa dan Sasha. Dia pun bertanya, “Siapa yang bersedia?”

Alisa dan Sasha saling memandang, tanpa kata. Mereka seakan tak hendak berpisah. Alisa memberi kesan, berat rasanya berpisah dari teman dekat. Matanya memerah. Dia menarik Sasha beberapa langkah menjauh dari pegawai itu. Sasha juga mulai kebingungan. Dia menunduk. Beberapa kali mengangkat muka dan melihat ke arah yang tak pasti. Mungkin dia segera mengambil keputusan untuk berpisah dari Alisa. Dia mengambil rute baru; Doha – Hong Kong, Hong Kong – Jakarta. Risikonya dia kehilangan satu hari pertemuan dengan ekonom-ekonom dari Pertamina di Jakarta, seperti yang telah dijadwalkan. Sedangkan Alisa belum rela berpisah dari Sasha, meski hanya sesaat.

Dalam kelompok yang akan terbang ke Hong Kong, selain dua penumpang dari St. Petersburg, semua penumpang tak saling kenal sebelumnya. Keputusan tentang satu penumpang terakhir belum menemui titik terang. Saya menarik napas cukup dalam, meyakinkan diri dan meminta penjelasan lagi.

Tentu saja, untuk sesuatu yang tidak masuk akal, saya butuh kepastian. Saya teringat kata-kata Alisa di dalam pesawat, “Qatar adalah salah satu dari daftar negara terkaya di dunia.” Benar dan jelas. Qatar adalah negara yang kaya. Pegawai Qatar Airways meyakinkan saya, “Jangan cemas. Saya menjalankan tugas dari kantor resmi Qatar Airways. Saya akan booking tiket baru untukmu. Lagian kamu tidak sendirian. Ada empat penumpang lagi.”

Dalam hati, ada bisikan. “Jika kamu ingin maju, kamu butuh energi yang namanya keberanian. Energi itu yang mendorong langkahmu agar kamu dapat bertolak ke tempat yang baru dan asing sekalipun.” Keberanian, itu kuncinya. “Hanya saja perlu diingat. Keberanian di sini tak berarti ketiadaan rasa takut, tetapi tindakan dalam wajah rasa takut.”

Dengan seyakin-yakinnya, saya memutuskan mengambil rute Hong Kong. “I am ready to go with these guys!” “Give me your ticket and I’ll get a new ticket for you,” kata si pegawai dan tersenyumlah Alisa dan Sasha dengan rasa bahagia yang tak bisa disembunyikan. Berkali-kali mereka berdua menyampaikan terima kasih.

“Spasibo. Spasibo bolshoe. Spasibo i v Djakarte obyazatelno uvidimsya.” (Terima kasih. Terima kasih banyak. Terima kasih dan di Jakarta kita wajib bertemu). Mereka berdua menenteng tas masing-masing dan bergegas menuju gate yang jauh letaknya, menunggu flight ke Jakarta.

Saya mulai cemas. Pegawai itu sudah mengambil dan membawa pergi tiket saya ke ruangan yang entah. Oh my God! Saya juga tidak tahu namanya. Bencana apa yang akan menindih saya? Seperti di bandara-bandara besar lainnya, arus penumpang terus mengalir, berdatangan, dengan pasti tentunya. Hanya saya sendiri yang berada dalam ketakpastian. Pandangan saya mulai beralih dari sudut ke sudut, mencari-cari pegawai tadi. Tidak ada tanda-tanda kepastian mengenai tiket ke Hong Kong seperti penjelasan tadi. Teman-teman dalam grup-kebetulan ini sudah memegang tiket masing-masing. Melihat kelompok yang terdiri dari lima orang dengan latar kedatangan berbeda ini, kami mulai bercerita, berkenalan, berbicara tentang hal-hal yang konyol, lalu tertawa. Toh saya tak sanggup menyembunyikan kecemasanku.

Beberapa pegawai keluar masuk ruangan, tapi pegawai itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Berbagai pertanyaan mulai menyerang rasa percaya diriku. Apakah si pegawai tadi hendak menyesatkan saya di negeri asing ini? Apakah dia mau mengambil keuntungan dari keluguanku? Apakah dia sedang bertindak curang? Makin banyak pertanyaan yang muncul dan menambah kebingunganku.

Teman-teman di grup-kebetulan ini terus bercanda dengan ekspresi bebas. Ada Liza dan Losha dari St. Petersburg. Volode dari Moscow, tapi saat ini dia tinggal di Berlin untuk menyelesaikan program studi magister. Juga ada Anna dari Moscow, mengadakan perjalanan seorang diri ke Lombok, ingin mendaki Rinjani, menyambangi Senggigi dengan pesona pantainya yang menakjubkan dan kemudian berlibur di Bali. Lalu saya sendiri tak bisa menyembunyikan identitasku yang sesungguhnya. Seorang dari kampung di pedalaman Timor, yang kebetulan berdomisili di Moscow, yang kebetulan melakukan perjalanan Moscow – Kateri (Timor) sekali per tiga bulan.

Sudah tigapuluh menit. Belum kelihatan juga pegawai yang pergi dengan alasan booking tiket baru untuk saya. Ahhh saya mulai tidak tenang. Menunggu dan menunggu. Memang waktu terasa begitu lama bagi mereka yang menunggu. Baru tigapuluh menit, saya hampir-hampir kehilangan segala kesabaranku. Satu-satunya keyakinan saya adalah kata-kata Alisa. “Qatar adalah negara kaya raya. Uang banyak, penduduk sedikit.” Di dalam pesawat, saat mendengar kata-kata Alisa saya tersenyum dan bilang, “Di Indonesia justru sebaliknya. Uang sedikit, manusia berlimpah ruah. Kami punya ungkapan, banyak anak, banyak rezeki.”

“Tenang saja, teman-teman. Kita akan makan pagi di sini di Doha. Tentu gratis. Lalu makan malam di Hong Kong. Juga gratis. Dan akhirnya minum kopi di Jakarta sebelum berpisah,” celoteh Volode.

“Saya bermimpi, sampai di Hong Kong kita akan dialihkan lagi ke Australia. Tentu akan diberi lagi uang kompensasi. Lalu di Sidney misalnya kita akan dialihkan lagi ke Singapura. Tentu dengan uang kompensasi lagi sekian ratus USD. Akhirnya kita terbang ke Jakarta dengan hati berbunga-bunga. Dalam tempo dua hari kita berada di beberapa negara sekaligus,” sambung Losha.

“Tidak. Tidak seperti itu. Di Hong Kong setelah semua penumpang turun dari pesawat, akan ada penyampaian terima kasih berlimpah untuk semua penumpang atas suksesnya uji-coba flight ke Hong Kong, hahaha…,” begitu gurauku dan gelak-tawa pecah dalam grup-kebetulan ini.

Sungguh sebuah kebetulan yang aneh tapi menyenangkan. Membingungkan tapi tampaknya ada berkah di baliknya. Liza dan Losha terlihat sangat bahagia. Anna sedikit pendiam. Grup yang aneh, tapi tiba-tiba mulai terasa ada spirit persahabatan. Acara “Selfie” pun mulai berlangsung, tak terhindarkan.

Pegawai itu datang dengan dua lembar kertas di tangan. Dia menyerahkan tiket baru untuk saya, Doha – Hong Kong, dan Hong Kong – Jakarta. Genaplah sudah semuanya. Kami segera beranjak mencari restoran terdekat, sebab kebutuhan akan breakfast tak bisa ditunda lagi.

Jika kamu ingin maju, kamu butuh energi yang namanya keberanian. Energi itu yang mendorong langkahmu agar kamu dapat bertolak ke tempat yang baru dan asing sekalipun.

Komentar