Surat Dari Seberang

Anugerah Senyum dan Keramahan

Kamis, 2 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Foto: Milto Seran

Sahabat tidak dicari.
Sahabat ditemukan.
Melakukan perjalanan adalah
kemungkinan menemukan
sahabat-sahabat baru.

Ada benda yang jatuh. Tak ada reaksi dari penumpang di samping. Mungkin ini adalah alasan yang baik memulai percakapan. “Minta maaf, ada sesuatu terjatuh di sini.” Dengan sedikit kaget, gadis berambut pirang, beranting-anting bundar itu melihat ke arah saya dan tersenyum manis sebelum menjawab, “Tidak apa-apa.”

Diam sejenak, dia pun bertanya, “Apa kamu berbicara dalam bahasa Russia?”

“Tentu saja. Dua tahun saya belajar bahasa Russia.”

“Bahasa Russiamu baik.”

“Terima kasih. Tapi waktu dua tahun rupanya terlalu lama untuk kursus bahasa asing.”

Kami bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. “Alisa.” “Milto.” Dia memberitahu temannya yang duduk di sebelah kanan, “Di sini ada Milto. Dia bicara dalam bahasa Russia.”

Jawab temannya, “Zdorovo!” yang artinya “Mantap!”

Saya menyalami temannya dan sekali lagi menyebutkan nama, “Milto”. Dia pun menjawab, “Aleksander atau Sasha.”

“Senang bertemu kamu di sini,” kataku.

Alisa lalu bertanya tentang banyak hal. Mulai dari tempat saya belajar bahasa Russia, mengapa saya datang ke Russia, di mana saya tinggal saat ini, bersama siapa saya tinggal, dari mana asalku, apa kesanku tentang Russia, tentang musim dingin, tentang masakan Russia, tentang orangtua dan saudara-saudaraku, tentang perjalanan-perjalananku, tentang bahasa apa saja yang saya kuasai, tentang negara-negara mana saja yang sudah saya datangi, tentang kerinduan pada kampung halaman, hingga Alisa pun bertanya, “Apakah kamu sudah menikah?”

Betapa tak mudah menjawab pertanyaan yang terakhir. Hal yang aneh. Di Russia perempuan boleh bertanya kepada laki-laki tentang hal ini, tapi sebaliknya terdengar tidak sopan jika laki-laki yang bertanya demikian. Juga laki-laki tidak boleh bertanya kepada perempuan tentang usianya, ini adalah hal yang boleh dibilang kurang ajar. Tapi sebaliknya perempuan dengan bebas bertanya tentang usia seorang laki-laki.

Dengan sabar saya memahami pertanyaan-pertanyaan itu. Sasha bersandar pada kursi, menutup mata seakan sudah lelap, tapi tangannya yang kiri terus mengapit tangan kanan Alisa. Dalam hati saya tahu, Alisa dan Sasha bukan sekadar teman dekat.

Beberapa pertanyaan sudah saya jawab. Saya bercerita tentang Tambov, kota kecil berjarak ratusan kilometer dari Moscow. Tentang teman-teman saya di Tambov dan tentang guru bahasa Russiaku yang hebat.

“Bagi kebanyakan orang, Tambov adalah kampung. Di kereta orang bertanya, mengapa kamu tinggal di Tambov? Itu kampung. Saya menjawab, iya benar seperti itu. Hanya saja Tambov indah, Tambov tempat yang tenang, dan begitu berarti bagiku. Ya lyublyu Tambov. Saya cinta Tambov.”

Alisa mengangguk. Dia sepertinya dengan sabar memahami bahasa Russiaku, kalau bukan menyukai ceritanya. Giliran Alisa berkisah. Lima tahun dia belajar bahasa Arab. Dia mengenang masa kecil di kota kelahirannya di Azerbaijan. Dia pernah mengunjungi beberapa negara. Kota terakhir yang didatanginya adalah New York. Kesan saya, dia mencintai petualangan. Tapi dia tidak mencintai New York. Di New York tak ada kedamaian. Di sana cuma ada kemajuan-kemajuan teknologi yang terus membuatnya merasa kecil di antara bangunan-bangunan raksasa.

“Itu alasannya saya mau beristirahat di Bali selama beberapa hari...,” cerita Alisa membuatku terkejut.

“Di Bali? Serius? Hebat...Saya memang berasal dari Indonesia, tapi baru sekali saya berlibur di Bali. Sudah lama. Sudah sepuluh tahun yang lalu.”

Sekali lagi kami tersenyum, berjabatan tangan karena Bali, karena Ubud dan terutama karena saat ini sama-sama menempuh perjalanan ke Jakarta. Saya senang. Sekurang-kurangnya mulai dari Moscow – Doha saya sudah punya teman cerita. Dan tentu kami akan bercerita lebih banyak lagi saat menunggu flight Doha – Jakarta.

Saya merasa senang, sebab teman cerita di setiap perjalanan adalah anugerah. Saya tahu, hatiku berbunga-bunga karena merasa terberkati dengan senyum dan keramahan Alisa, gadis Moscow kelahiran Azerbaijan. Alisa mempersilahkan saya menghabiskan kopi di depan saya. Kopi sudah dingin. Toh kopi tetap kopi. Tetap nikmat, senikmat kisah tentang Moscow dan ciuman di bawah hujan salju di stasiun kereta, pemandangan yang sudah biasa.

Saat Alisa dan saya larut dalam cerita, Sasha memberitahu kami bahwa dia ingin bertemu temannya di deretan kursi di bagian belakang. Alisa mengangguk setuju. Alisa lalu bilang, “Sasha adalah teman dekat saya. Cuma teman. Di Jakarta kami akan berpisah. Sasha akan mengikuti pertemuan di Jakarta selama beberapa hari. Saya melanjutkan perjalanan ke Denpasar.”

“Oh begitu...baik sekali. Saya menganjurkan kamu bisa mampir di Ubud. Tempat yang damai. Banyak orang menyebutnya Kampung Turis.”

“Selain Bali, tempat mana lagi yang kamu anjurkan untuk didatangi?”

“Sedikit ke arah Timur. Lombok dan Rinjaninya mungkin destinasi yang tepat. Labuan Bajo, Komodo dan pulau-pulau di sekitar, pulau Padar dan pantai-pantainya. Belakangan orang berbicara tentang Raja Ampat, cuma banyak yang mempersoalkan transportasi yang sedikit mahal.”

“Saya membaca tentang Komodo dan Raja Ampat. Iya seperti yang saya tahu, Raja Ampat itu indah. Sasha mau mengunjungi Raja Ampat. Sayang, bukan kali ini. Mungkin lain kali, saat kami mengunjungi Indonesia nanti.”

“Di Flores tak hanya Labuan Bajo. Tak hanya Komodo, pulau Rinca dan Pulau Padar serta pulau-pulau di sekitarnya.”

“Misalnya?”

“Kelimutu, tempat yang wajib kamu datangi. Danau yang indah, penuh kisah magis dan fenomena tiga warnanya yang terus berubah-ubah. Akhir-akhir ini orang berbicara banyak tentang kampung di atas awan. Namanya Wae Rebo. Datanglah ke tempat-tempat ini.”

“Saya tertarik dengan Kelimutu. Menarik sekali, warnanya berubah-ubah. Saya senang. Semoga bisa datang ke Flores,” kata Liza begitu antusias.

“Baik juga kalau direncanakan, kita akan keliling Flores bersama teman-teman.”

“Ide yang menarik,” Alisa bertanya, “Di Moscow kamu tinggal di mana?”

“Tinggal di rumah. Bukan apartemen. Di Jl. Lyublinskaya, dekat Metro Lublino.”

“Baik sekali. Kita bakal bertemu lagi di Moscow.”

Hening. Semua penumpang sibuk sendiri-sendiri. Ada yang nonton film. Beberapa memilih tidur. Pada screen di depan saya ada informasi. Tentang waktu penerbangan yang tersisa satu jam empatpuluh menit lagi dan kami akan mendarat di Doha. Iya di Doha.

Saya teringat perjalanan pertama ke Moscow tiga tahun lalu. Pengalaman yang lucu. Saat itu saya ingin bertanya pada seorang petugas tentang hal yang tidak saya pahami. Saya ingat, saya bertanya dalam bahasa Inggris. Dan betapa terkejutnya saya, saat petugas menjawab dalam bahasa yang tidak saya duga sebelumnya. Bahasa Indonesia. Dan saya tertawa pada bahasa Inggrisku yang tak sanggup menyembunyikan ke-Indonesiaan-ku.

Doha sudah dekat. Tidak terasa empat jam tigapuluh menit sudah berlalu. Empatpuluh lima menit lagi. Percakapan dengan Alisa dan Sasha membuat perjalanan Moscow – Doha terasa singkat. Bahagia bisa bertemu orang-orang yang murah senyum, suka berbagi kisah. Apapun alasannya, Alisa dan Sasha adalah sahabat perjalanan. Senyum dan keramahan mereka adalah anugerah tak ternilai. Sahabat tidak dicari. Sahabat ditemukan.

Komentar