Kesehatan

Dokter Ahli Artroskopi Sangat Minim

Rabu, 1 March 2017 05:32 WIB Penulis: (Mut/H-2)

THINKSTOCK

DALAM dekade terakhir, teknologi bedah tulang atau ortopedi berkembang pesat. Antara lain, ditandai dengan adanya operasi bedah teropong sendi (artroskopi) yang dapat dijadikan solusi dalam menangani cedera pada bagian lutut, engkel, bahu, dan siku. Secara medis, artroskopi hanya membutuhkan sayatan kecil, sekitar 2-10 mm untuk memasukkan alat operasi ke dalam sendi. Lalu alat yang telah dilengkapi kamera tersebut akan memperlihatkan kondisi di dalam tulang lutut melalui layar monitor, selanjutnya dokter akan melakukan upaya perbaikan pada sendi pasien.

"Dengan teknik artroskopi, waktu penyembuhan bisa lebih cepat, yakni sekitar 6-9 bulan. Akan tetapi, pascaoperasi tetap harus dilanjutkan dengan fisioterapi untuk dapat mengembalikan performance mereka dari awal," kata Presiden Indonesian Orthopaedic Society for Sport Medicine & Arthroscopy (IOSSMA) I Gusti Made Febry Siswanto pada The 6th Live Surgery of Arthroscopy ACL & PCL Reconstruction Workshop di Rumah Sakit (RS) Royal Progress, Jakarta, pekan lalu. Sayangnya, kendati perkembangan teknologi bedah tulang melaju pesat, posisi Indonesia relatif masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Thailand, Filipina, dan bahkan Vietnam. Itu bukan karena teknologi yang digunakan, melainkan akibat minimnya ketersediaan dokter spesialis ortopedi, terutama yang ahli dalam melakukan operasi artroskopi.

Oleh karena itu, menurut Febry, perlu upaya lebih untuk menarik minat dokter agar mau berkecimpung dalam keahlian di bidang sendi. Salah satu caranya dengan memberi pemahaman mengenai keuntungan teknik artroskopi. Sementara itu, dokter spesialis ortopedi di RS Royal Progress, Bobby N Nelwan, mengatakan dokter ortopedi di Indonesia saat ini baru mampu menangani cedera bagian lutut dan bahu. Kalaupun ada ahli di bidang sendi lain, jumlahnya masih tersebar tidak merata di berbagai wilayah sehingga menyulitkan pasien yang ingin berobat. "Harus diakui kita ini sangat telat. Sekarang masih on progress membentuk ahli-ahli di bidang sendi yang lain. Sementara itu, jumlah dokter ortopedi yang ahli dan punya kompetensi untuk itu baru berjumlah 30 orang," ujarnya pada acara yang sama.

Padahal, kata Bobby, berdasarkan perhitungan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, di Jakarta saja angka kecelakaan lalu lintas pada periode Januari-Agustus 2016 tercatat sebanyak 3.738 kasus. Dari jumlah kasus sebanyak itu, korban yang mengalami luka berat sebanyak 1.528 orang, atau meningkat 3% dari tahun sebelumnya, yakni 1.458 orang. Umumnya, para korban juga mengalami cedera lutut. Selain itu, atlet profesional ataupun olahragawan juga rentan mengalami cedera lutut. Oleh karena itu, ujarnya, keberadaan dokter ortopedi yang ahli menangani bidang sendi masih sangat dibutuhkan di Tanah Air. "Yang ahli khusus di bidang itu sangat jarang. Bukan kita enggak bisa ngerjain (menangani), tapi enggak ahli. Ibarat potongan piza, dokter ahli di bidang sendi ini punya peluang mendapatkan porsi yang besar karena peminatnya memang masih sangat sedikit," tuturnya. (Mut/H-2)

Komentar