Surat Dari Seberang

Gate 13A di Domodedovo

Senin, 27 February 2017 10:41 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Bandara Domodedovo---Foto: MIlto Seran

Hidup itu kekal,
Yang mati hanyalah
burung-burung di udara.

DOMODEDOVO mengingatkan saya akan pengalaman pertama datang ke Moscow. Pada 18 Oktober 2014, di Domodedovo seorang perempuan berjaket tebal, dengan kamera di tangan mendekati setiap penumpang. Dia merekam wajah masing-masing penumpang yang segera keluar dari pesawat. Mungkin saja dia adalah staf keamanan di bandara. Saat keluar dari pesawat, saya mulai merasa dingin. Juga cemas. Suhu di luar sana sudah minus. Dalam segala ketidaktahuanku, saya bertanya, “Seperti itukah hidup di Russia?” Saat itu langit Moscow cukup gelap, kendati hari beranjak siang. Pohon-pohon sudah meranggas. Itu terjadi bukan karena panas, melainkan dingin yang tak tertahankan.

Domodedovo International Airport. Bandara ini merupakan satu dari tiga airport utama di Moscow, selain Sheremetyevo dan Vnukovo. Domodedovo sendiri adalah nama teritori di mana bandara ini dibangun. Konstruksinya dimulai pada tahun 1948. Domodedovo tak jauh dari pusat kota Moscow. Berjarak hanya empat puluh dua kilometer.

Pada 24 Januari 2011 di bandara ini terjadi insiden bom bunuh diri, tepatnya di ruang kedatangan. Maka aktivitas merekam wajah setiap penumpang sejak di dalam pesawat tadi bisa dimaklumi. Kontrol yang ketat dan pengawasan yang serius di setiap tempat publik di Moscow dan Russia umumnya memang terlihat di mana-mana dan tidak main-main.

Sudah sering polisi menghentikan saya dan menanyakan dokumen seperti pasport dan kartu imigrasi. Suatu pagi yang dingin, saya berjalan menuju toko makanan, hendak membeli sayur dan lauk untuk makan siang. Tak jauh dari rumah, sekitar seratus meter, dua anggota polisi menghentikan saya. Mereka mengira saya berasal dari Kuba, negeri Fidel Alejandro Castro Ruz. Mereka memeriksa pasport sambil bercerita dengan saya dengan begitu ramahnya. Itu kejadian beberapa waktu lalu di bulan Novemeber 2016, persis di hari kematian Castro.

Malam ini, saya datang ke Domodedovo lagi untuk perjalanan ke tanah air. Setiap perjalanan membawa serta kecemasan tersendiri. Lebih dari kecemasan yang tak jelas sebab dan arahnya, setiap perjalanan membuka ruang pemahaman baru. Sekalipun kita mungkin datang ke tempat yang lama, menempuh rute yang sama.

Akhir-akhir ini saya sering mengadakan perjalanan. Mungkin menulis adalah cara yang baik menjadikan perjalanan jauh lebih bermakna. Itu yang saya alami. Itu yang saya tekuni.

Perjalanan kali ini terasa lebih nikmat. Ada yang lain. Ada yang tak biasa. Bahasa Rusia menolongku. Bahasa Rusia juga membuat sesama penumpang terkesan lebih dekat, walau tak selalu akrab. Sejak di Domodedovo International Airport saya sudah berkomunikasi dengan beberapa penumpang, hal yang sebelumnya tidak saya alami. Jika ada penumpang yang berbicara dalam bahasa Inggris, itu jauh lebih baik, jauh lebih membantu.

Perjalanan sebelumnya masih membekas. Rute Moscow – Abu Dhabi, Abu Dhabi – Jakarta, serta Jakarta – Kupang, lalu dari pesawat beralih ke bus malam menuju kampung terasa sangat melelahkan. Kini setiap tiga bulan saya terbang ke Jakarta untuk urusan yang belum kupahami sampai tuntas. Tiap tiga bulan saya mengadakan perjalanan dari Moscow ke sebuah kampung di pedalaman Timor, hal yang terdengar aneh untuk ukuran seorang “penganggur” berijazah macam saya. Untuk orang lain di negara lain, mungkin ini adalah hal yang biasa-biasa. Perjalanan Moscow – Jakarta, dan Jakarta – Kupang, lalu Kupang – Kateri (Timor) sekali per tiga bulan. Melelahkan.

Bersabarlah! Mungkin itu kata yang tepat. Akhir Januari lalu, seusai makan siang saya keluarkan koper lagi, membersihkannya dan memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper berwarna silver itu. Juga beberapa suvenir untuk teman-teman, beberapa kalender berbahasa Russia untuk sahabat-sahabat, tak banyak cokelat, empat buku fiksi dan juga buku tulis yang bisa digunakan untuk menulis sewaktu-waktu, saat perihal menulis terasa lebih nikmat daripada minum kopi di Moscow yang dingin. Atau minum bir di World Youth Day, Krakow - 2016.

Sebagaimana tertera di tiket, tanggal 30 Januari 2017, saya terbang dari Moscow ke Jakarta dengan transit di Hamad International Airport, Doha (Qatar). Sore yang dingin. Temperatur di Moscow berkisar -13’c hingga -15’c. Rasanya kurang dingin. Dua minggu sebelumnya terasa seperti mau beku saja, -38’c saat selama empat hari saya tinggal seorang diri di apartemen kami di kota Yaroslavl.

Mengingat saya mesti tiba di Bandara dua jam lebih awal, saya meminta tolong pada seorang sahabat yang juga saudara untuk mengantar saya dengan mobilnya ke Domodedovo. Sahabat tadi mengiyakan.

Pukul 19.00, kami keluar dari rumah, mengenakan winter coat tentu saja, dan segera berangkat ke bandara. Dalam perjalanan, kami bercerita tentang banyak hal. Salah satunya tentang film. Saya bercerita bahwa akhir-akhir ini saya mulai ketagihan nonton film, tapi belum tahu di mana letak bioskop terdekat. Sahabat yang juga saudara tadi memeberi penjelasan yang sangat singkat.

“Letak bioskop tak jauh dari rumah kita. Keluar dari rumah, berjalanlah ke arah Taman Sudakhova. Di dekat taman Sudakhova, ada fitness centre. Di depan fitness centre, ada traffic light. Dari traffic light berjalanlah ke arah tokoh Ashan. Barangkali cuma dalam hitungan lima belas hingga duapuluh menit kamu akan tiba di stasiun underground Metro – Bratislava. Bioskop tak jauh dari stasiun Metro, mungkin lima puluh meter.”

“Ahhh jujur, saya tidak tahu selama ini. Andai saja saya tahu, baik juga bisa nonton satu judul tiap akhir pekan. Sebenarnya saya mau nonton La La Land…tapi sudahlah, di Jakarta saya bisa nonton film yang sudah menyabet berbagai penghargaan internasional ini.”

Mobil terus melaju di antara sekian banyak mobil lain di Lyublinskaya street. Sahabat yang juga saudara tadi bercerita tentang hal lain, tentang pengalamannya di Israel. Di sana di Israel dia pernah bekerja sebagai guide untuk para peziarah berbahasa Spanyol. Dengan pekerjaan itu dia sekurang-kurangnya memperoleh USD $ 700 per minggu untuk biaya pengobatan dan perawatan giginya. Penghasilan yang menggiurkan untuk dirinya sebagai mahasiswa saat itu.

Sialan! Lain kolam, lain dalamnya. Lain dunia, lain untungnya. Coba saja pekerjaan semacam itu ada di Tambov, selama dua tahun menjadi mahasiswa di sana, barangkali saya juga bisa berkerja sebagai guide. Tak terasa, kami sudah tiba di tempat parkir di depan Bandara. Saya menurunkan koper, “say goodbye” dan teman tadi melaju pergi meninggalkan Domodedovo.

Memasuki Bandara, saya berjalan menuju screen raksasa untuk layanan live information semua penerbangan dan dengan sabar menemukan flight number dan desk check-in di line 87-91. Langsung saja saya menunggu di sana, sekalipun check-in baru dibuka tigapuluh menit kemudian. Di belakang saya sejumlah penumpang Qatar Airways ikut mengantri.

Dua pegawai cantik datang. Membereskan meja kerja, berdialog tentang hal yang tidak saya pahami. Sesaat kemudian, mereka meninggalkan sesuatu di laci meja, lalu berjalan pergi begitu saja.

Menunggu lagi. Di dekat kami ada screen berukuran sedang dan juga berukuran besar, melaluinya diperlihatkan berbagai destinasi wisata yang sangat menggiurkan. Ada piramida-piramida di Mesir, pulau-pulau di Yunani, keindahan Dubai dan ehhh ternyata ada juga Raja Ampat yang bikin saya tersenyum bangga. Dua pegawai cantik tadi datang lagi dengan langkah yang agak terburu, segera memastikan “Check-in is open” dan legalah kami.

Malam sebelumnya saya sudah melakukan online check-in, memilih kursi di bagian pinggir dekat jendela pesawat, biar lebih leluasa melihat view kota Moscow saat pesawat sudah take off atau view kota Doha menjelang pesawat landing nanti. Setelah check-in, saya bergegas menuju lantai dua, di sana saya mengantri di antara sesama penumpang lain di depan desk pemeriksaan passport, dan akhirnya menunggu <>flight ke Qatar di gate 13A. Hal yang sudah sangat lumrah, cuma menariknya para petugas imigrasi itu sudah tahu bahwa orang Cina sangat sukar berbicara dalam bahasa Russia, tapi mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat para penumpang Cina itu cuma bisa tersenyum, saling memandang, tersenyum lagi, dan para petugas itu pun saling memandang dan tersenyum lebar.

Perjalanan ke tanah air sudah dimulai. Sudah berkali-kali saya bilang ke teman-teman, “Tubuhku memang masih di Moscow, tapi pikiranku sudah jauh di kampungku di pedalaman Timor. Di sana numpang pesawat saja masih merupakan hal mewah. Di sana penggunaan internet masih sebatas untuk meng-update status facebook. Di sana pula, banyak orang belum sungguh menguasai peta dunia, sekalipun pelajaran geografi sudah lama mereka lalui. Itulah kampungku. Di sana sebagian orang mengira negara Russia terletak di Afrika. Sebagian lain tidak punya bayangan sama sekali tentang Russia. Dan sisanya selalu menghubungkan Russia dengan berbagai peralatan perang yang serba modern.”

Setiap mendengar kabar pulang kampung, saya merasa senang. Di Timor tiap-tiap pagi saya akan melihat “morning sun”, hal yang hampir tidak pernah saya lihat sepanjang musim dingin di Moscow. Setiap kali melihat mentari pagi, saya teringat guru bahasa Russiaku, Olga Vasilyevna Maksimava. Di Fakultas Bahasa dan Filologi, sebegitu sering dia menunjukkan keramahan yang tidak dibuat-buat. Saat bertemu di lorong, dia segera bilang “Sontse Mayo” (Matahariku), lalu menyalamiku, merangkulku dengan ramah dan saya tahu benar, setiap pertemuan yang tulus membawa serta kerinduan. Sebab perpisahan datang seperti matahari terbenam, membawa kegelapan.

Saya sudah duduk di gate 13A. Di antara penumpang-penumpang yang lain, saya tak lebih dari seorang asing tanpa kawan. Dua botol vodka Russia sudah saya amankan dalam paket berlabel. Pelayan di toko bilang, “Label ini akan menolongmu di setiap Bandara, bahwa dua botol vodka ini legal. Jadi jangan buang label ini.” Kami masih menunggu boarding beberapa menit lagi.

Di dekat saya, seorang ibu cuma bisa tersenyum lebar di depan putrinya yang melakukan gerakan-gerakan “warming up” seperti orang-orang melakukan senam di pagi hari. Pinggangnya tampak sangat lentur. Bajunya yang terangkat saat kedua tangannya terentang, memungkinkan pusarnya terlihat begitu jelas. Seorang pria gemuk yang duduk di sebelah kanan ibunya, mulai tidak nyaman. Dia bangkit, menarik suitcase dengan sedikit kasar dan berlangkah pergi. Gadis itu tak menggubris sedikit pun. Dia terus melakukan gerakan-gerakan yang sudah mirip tarian balet. Beberapa penumpang yang melihat kepergian pria gemuk tadi, saling memandang dan senyum berbalas-balasan.

Kisah sederhana di gate 13A tentang reaksi pria gemuk dan si gadis yang tak peduli membuat saya berpikir tentang dua hal. Ruang publik dan ruang privat. Lalu akal sehat dan emosi. Di ruang publik sebaiknya gunakan akal sehat saja. Tentang emosi, mungkin ruang privat adalah tempatnya.

Kami segera beriring-iringan memasuki pesawat. Saya duduk di seat 23A. Kali lalu kami berangkat dari Moscow siang hari. Tengah malam, kali ini. Pesawat sudah bergerak, tanda kami segera meninggalkan Russia menuju Qatar. Saya duduk di samping sepasang penumpang lain yang masih muda. Dari percakapan mereka saya paham, keduanya akan jalan-jalan ke satu negara di Asia Tenggara. Di sana mereka akan menghabiskan waktu di pantai, mencoba berbagai masakan setempat, dan beristirahat selama beberapa hari di hotel yang tidak harus mahal-mahal. Mereka akan kembali ke Qatar, dan di Qatar mereka akan jalan-jalan keliling kota Doha sebelum kembali ke Moscow.

Saat pesawat sudah di udara, sudah stabil dan lampu seatbelt sudah padam, pramugari-pramugari nan jelita itu mulai mendekat. Mereka menawarkan beberapa pilihan makan malam dan beberapa jenis minuman. Saya memilik beef, potatoes, anggur dan buah-buahan seadanya. Ada tambahan lagi, saya minta kopi, biar mata tetap terang dan “The Spy”, novel terbaru Paulo Coelho yang baru kuperoleh dari seseorang di Texas bisa kunikmati sepanjang flight ke Doha.

Setelah makan malam yang apa adanya. Banyak penumpang memilih diam, membaca majalah dan buku, atau menonton film-film pilihannya. Beberapa penumpang terlihat mulai hanyut dalam tidur malam. Perjalanan ke tanah air benar-benar sudah dimulai. Sambil menikmati kopi, sesekali saya melihat ke luar lewat kaca jendela. Gelap. Moscow sudah tak kelihatan lewat lampu-lampunya yang gemerlap.

Setiap kali melakukan perjalanan, selalu saja ada kecemasan. Selalu saja ada tanya; tentang keselamatan, tentang kenyamanan, tentang semua yang tak terduga. Sering iman dan keraguan berbarengan. Tapi saya memilih iman. Hidup itu kekal, yang mati hanyalah burung-burung di udara.

Komentar