Eksekutif

Keberhasilan Harus Melalui Proses

Senin, 27 February 2017 02:57 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

MI/ADAM DWI

KARENA lahir dan besar dari keluarga petani yang tinggal di kaki Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat, Wahyu kecil tidak pernah jauh dari cangkul dan sawah.

Ia telah memiliki peran penting bagi usaha tani yang dikelola keluarganya, bahkan sejak balita.

"Sejak kecil, sejak bisa jalan, saya minimal harus bisa menjaga air saat musim kemarau supaya sawah bisa terairi," ujar Wahyu mengenang masa kecilnya saat berbincang dengan Media Indonesia di kantornya, Jumat (17/2) lalu.

Puluhan tahun berselang, kehidupan Wahyu tidak jauh berubah. Kini, ia masih tidak jauh dari cangkul dan sawah.

Hanya saja, ia berada di kursi yang menempatkannya sebagai salah satu pengambil kebijakan di bidang pertanian.

Beberapa bulan setelah didapuk sebagai Direktur Utama PT Pertani, Wahyu mengaku begitu menikmati dalam menjalankan setiap tugas yang diamanatkan kepadanya.

"Sebagai orang yang pernah terjun langsung di sawah, saya menikmati betul karena semua ini berhubungan langsung dengan petani," tuturnya.

Dengan latar belakang sebagai petani, Wahyu amat paham akan kondisi dunia pertanian Tanah Air saat ini.

Ia mengetahui bagaimana kemampuan dan keinginan para petani yang sebenarnya di lapangan di tengah keinginan pemerintah yang menggebu dalam mencapai cita-cita swasembada pangan.

"Petani saat ini dihadapkan pada pilihan sarana produksi yang begitu banyak. Apa pupuk yang cocok, benih yang tepat, pestisida yang sesuai, lalu bagaimana alat mesin pertaniannya. Itu semua, kalau tidak ada pembimbingan, ya mereka akan improvisasi sendiri-sendiri. Akibatnya produksi tidak optimal," ungkapnya.

Belum lagi, sambungnya, ketika masa panen tiba, tidak ada jaminan akan kepastian siapa yang menyerap hasil produksi para petani.

"Belum ada yang menjamin pembelian dan harganya ketika masuk ke pasar," lanjut Wahyu.

Menurutnya, harga acuan yang kini ditetapkan pemerintah melalui peraturan menteri perdagangan masih belum bisa berperan banyak.

Ditambah lagi, nihilnya lembaga yang benar-benar khusus diembani tanggung jawab menangani persoalan pra- serta pascaproduksi.

"Pemerintah tidak bisa menjamin kepastian penyerapan dan harga terbatas pada peran Perum Bulog. Kalau memang Bulog mau didesain sebagai lembaga yang menjamin harga dan pembelian, ya harus dilengkapi sarana infrastrukturnya, bukan hanya untuk gabah saja, melainkan juga jagung, cabai, dan komoditas lainnya," terang Wahyu.

Di luar infrastruktur yang harus dibangun, ia mengatakan lembaga pemerintah yang ditunjuk menangani persoalan tersebut harus hadir di sawah.

Konsep on farm

Saat masih menjabat Direktur Pengadaan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), ia mengatakan ada konsep on farm yang diterapkan setiap kali masa panen tiba.

"Waktu saya menjadi direksi, ada divisi khusus untuk hal ini karena memang tidak bisa Bulog menunggu saja datangnya beras ke gudang. Mereka harus mengawal petaninya, ambil sama-sama," jelas pria yang pernah menjabat Direktur Pengadaan Bulog selama satu setengah tahun itu.

Ia menjelaskan, saat itu, Bulog harus memetakan sawah yang mereka kawal sehingga ketika panen tiba, semua hal-hal pendukung yang dibutuhkan seperti mesin panen dan mesin pengering sudah siap.

"Hingga masuk ke gudang dan digiling menjadi beras harus terus dikawal. Jangan ada perantara di salah satu prosesnya. Kalau ada perantara, pasti akan ada margin harga yang terkurangi karena harga pokok pembelian sudah ditetapkan pemerintah," terangnya.

Namun, sayangnya, sepeninggal Wahyu, divisi on farm, sebutnya, sudah tidak lagi berjalan.

"Di sinilah, menurut saya, peran pemerintah sangat penting. Harus ada lembaga yang memang benar-benar fokus bergerak untuk mengawal semua itu."

Selain belum adanya pengawalan serta kepastian terhadap pembelian dan harga, masalah lain yang masih menaungi sektor pertanian dalam negeri ialah kurangnya nilai tambah dari produksi yang dihasilkan.

Menurutnya, hal itulah yang menyebabkan para pemuda Tanah Air enggan masuk ke bidang agrikultur karena dianggap tidak dapat memberikan keuntungan yang cukup.

Ia menjabarkan setiap 1 hektare sawah kurang lebih menghasilkan gabah seberat 7 ton sekali panen.

Jika harga pokok pembelian Rp4.000 per kilogram, petani akan mendapatkan Rp28 juta.

"Itu belum dikurangi biaya produksi yang bisa sampai Rp14 juta. Sisa Rp14 juta. Lalu, dibagi empat bulan, hasilnya hanya sekitar Rp3 juta per bulan. Makanya tidak menarik karena kita cuma baru sampai situ," jelasnya dengan rinci.

Ia menekankan produk-produk pertanian harus dapat dikembangkan lebih jauh seperti di Thailand dan Jepang yang masing-masing sudah menciptakan kreasi aneka kue dan mi dari beras.

Dengan begitu, nilai suatu produk hasil pertanian akan bisa ditingkatkan dan dapat menimbulkan ketertarikan bagi para pemuda.

Hal itulah yang kini mulai coba dilakukan Pertani.

Melalui kerja sama dengan salah satu perusahaan Jepang, Wahyu mengatakan pihaknya mulai menggarap produksi mi dari beras.

Walaupun investasi yang harus dikeluarkan terbilang besar, ia optimistis ide tersebut akan menghasilkan sesuatu yang baik di masa mendatang.

"Di Indonesia, belum ada perusahaan yang menggarap itu. Ya kita coba. Orang lain belum ada inisiatif, kita mulai duluan," tegas alumnus Universitas Padjadjaran itu.

Tidak ada beda

Terkait dengan peran yang ia emban, Wahyu mengatakan Pertani atau Bulog tidak ada beda.

Hanya saja, di Bulog sebagian besar pekerjaan berdasarkan penugasan oleh pemerintah. Sementara itu, Pertani lebih ke arah kreasi bisnis.

"Penugasan ada di perbenihan, tetapi tetap kami harus berjualan, harus bisa berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Harus ada kompetensi yang harus terus ditingkatkan," paparnya.

Jika sebuah pesawat, ia menganalogikan Bulog ialah Boeing 777 yang mengambil alih bagian sayap.

Pertani, ukuran pesawatnya lebih kecil, tetapi memegang peran di kemudi.

"Pesawat itu mau dibawa ke mana, tergantung pilotnya. Sebenarnya, dua ini berbeda sekali, tetapi bagi saya sama saja," tegasnya.

Asal menikmati semua proses yang ada, bagi pria asal Ciamis itu, pekerjaan akan dapat ditangani dengan baik. (E-2)

______________________________________

BIODATA

Nama: Wahyu

Tanggal lahir: 2 September 1967

Pendidikan

- Program sarjana (S-1): Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung, lulus 1991

- Program pascasarjana (S-2): Program Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Bandung, Konsentrasi Manajemen Pemasaran, lulus 2004

- Program pascasarjana (S-3): Program Doktor Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran, Bandung, lulus 2014

Karier

- 1992-1993 Staf Bagian Sarana Produksi Pertanian PT Pertani

- 1993-1995 Kepala Subbagian Sarana Produksi Pertanian PT Pertani

- Agustus 1995-1997 Kepala Cabang Kalimantan Barat, Pontianak, PT Pertani

- 1997-2003 Kepala Cabang Subang, Jawa Barat, PT Pertani

- 2003-2007 Kepala Divisi Pemasaran PT Pertani

- 2007-2012 Direktur Pemasaran PT Pertani

- 2015-2016 Direktur Pengadaan Perum Bulog

- 2016-sekarang Direktur Utama PT Pertani

- 2011-sekarang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur, Jakarta

- 2014-sekarang Dosen Program Pascasarjana Universitas Winaya Mukti, Bandung

- 2015-sekarang Dosen Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung

Komentar