Khazanah

Warga Solo Berpesta Jenang

Ahad, 26 February 2017 05:46 WIB Penulis: Ferdinand

MI/FERDINAND

Festival jenang akan rutin digelar untuk mempertahankan eksistensi makanan penuh filosofi itu. Jenang dikenal dengan sarat makna, mulai kelahiran manusia, pernikahan, hingga kematian.

KORIDOR Ngarsopuro, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, ditutup untuk kendaraan roda dua dan roda empat milik warga. Ribuan warga tumpah ruah di sini. Mereka hendak mengikuti puncak acara Festival Jenang Nusantara 2017.

Terdapat belasan ribu takir atau bungkus jenang yang akan dibagikan dalam acara ini. Jenang itu berasal dari berbagai kota di Nusantara dan biasanya disajikan dalam upacara adat. Ada jenang ketan hitam, jenang sumsum, jenang pedas dari Kabupaten Sambas dan jenang begunting dari Banjarmasin.

Warga Kota Surakarta, Jawa Tengah, bersukacita, Jumat (17/2). Hari itu mereka bisa menikmati aneka jenis jenang atau bubur secara gratis di Koridor Ngarsopuro.

Dalam sekejap, belasan ribu takir jenang langsung ludes diperebutkan warga. Tak hanya warga Solo, gelaran festival jenang juga dihadiri pengunjung dari luar kota.

Tahun ini ada 14 daerah yang berpartisipasi pada festival tersebut, yaitu Jambi, Padang, Lampung, Palembang, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Lombok, Manado, Papua, Jawa Barat, Pekalongan, Grobogan, Pati, dan Timor Leste.

Festival yang sudah menginjak tahun keenam itu didahului prosesi kirab gunungan jenang dari Stadion Sriwedari menuju Koridor Ngarsopuro. Gunungan tersebut tersusun dari 272 plus 1 takir jenang. Angka 272 melambangkan usia Kota Surakarta dan 1 mengisyaratkan harapan untuk menggelar festival serupa pada tahun depan.

Arak-arakan kirab gunungan jenang itu mendapatkan sambutan antusias warga Kota Surakarta. Mereka berjejer di tepi jalan yang dilalui rombongan kirab, mulai depan Stadion Sriwedari hingga Koridor Ngarsopuro.

Penyelenggaraan FJS selalu bersamaan dengan peringatan hari jadi Kota Surakarta. Menurut sejarahnya, jenang merupakan salah satu jenis makanan yang dibawa pada prosesi perpindahan pusat pemerintahan dari Keraton Kartasura ke Desa Solo. "Ada 17 jenis jenang yang dibawa sebagai pelengkap sesaji ketika itu," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Jenang Indonesia Slamet Raharjo.

Jenang-jenang itu ialah abrit pethak, saloko, manggul, timbul, grendul, sumsum, kalop dhiringan, lahan, ngangrang, pati, suran, taning, lemu, katul, koloh, lang, dan warni empat.

Ritual dan kesejahteraan

Dewan Penasihat Yayasan Jenang Indonesia KGPH Dipokusumo menambahkan, secara historis, jenang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi dan budaya masyarakat Nusantara. Pada masa kerajaan, jenang memiliki nilai ritual dan kesejahteraan. "Jenang dengan beragam namanya mengandung makna filosofis yang tinggi," kata dia.

Jenang tidak sekadar simbolisasi doa dan pengharapan. Di dalamnya juga terkandung ajaran akan nilai hidup dan kehidupan, hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Tuhan.

Jenang abrit pethak, misalnya. Jenang yang dalam bahasa Indonesia berarti merah putih itu merepresentasikan asal usul manusia. Merah sebagai simbol ibu dan putih sebagai simbol bapak.

Jenang katul bermakna bahwa manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri, ia selalu membutuhkan orang lain. Jenang kalop dhiringan bermakna manusia sebagai makhluk sosial selalu dihadapkan pada perbedaan. Menghormati dan menghargai perbedaan menjadi nilai yang penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Jenang saloko bermakna bahwa suci itu hanya milik Tuhan. Manusia harus selalu mewaspadai nafsu 'aku' yang ada dalam dirinya dan berani mengoreksi diri sebagai jalan untuk lebih mengenal Tuhan.

Jenang lahan maknanya agar manusia melepaskan nafsu negatif, kesombongan, sifat iri dan dengki di hadapan Tuhan. Jenang pati bermakna melebur nafsu dan berpasrah diri kepada Tuhan. (M-2)

Komentar