MI Muda

Kaset Pita Eksis Lagi

Ahad, 26 February 2017 05:01 WIB Penulis: Bagus Patria

Dok. Pribadi

Para penyanyi indie dan label kaset indie menghadirkan kembali kejayaan pita pemutar musik.

PADA era 1980 hingga 1990-an, kaset pita merupakan primadona bagi para pendengar musik masa itu. Kaset dan alat pemutarnya menjadi barang wajib di kamar anak-anak muda.

Kehadiran compact disc (CD) pada dekade berikutnya, kemudian melunturkan eksistensi kaset pita yang kemudian juga tergeser oleh musik digital.

Namun, ternyata ada anak-anak muda yang berkeras menyukai kaset pita pada era digital ini. Muda menjumpai salah satunya, Jodi Setiawan, pendiri label rekaman khusus album dalam format kaset pita, Nanaba Records. Label yang dibuatnya pada 2014 ini sudah merilis 41 kaset pita musisi indie seperti, Sigmun, Danilla, Bangkutaman, Littlelute hingga The Experience Brothers. "Tahun ini kita masih akan merilis sekitar tujuh sampai delapan kaset lagi," jawab Jodi optimistis.

Nanaba awalnya ialah nama bisnis efek gitar Jodi. Karena merasa bisnis efek gitarnya kurang berkembang, Jodi akhirnya memilih menyudahi bisnis tersebut. "Karena namanya sudah bagus, gue buat bisnis lain dengan nama sama. Gue bisa dibilang Apple Fanboy.

Jadi, waktu itu terinspirasi sama Steve Jobs yang punya perusahaan teknologi, tapi justru pake nama buah, tapi biar enggak banana banget jadi kita ubah ke Nanaba," jelas alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung itu yang memang sebelumnya ialah kolektor kaset pita.

"Pendengar kaset pita mau tidak mau pasti mendengarkan seluruh track kaset. Kalau CD kan bisa di-skip, nah kalau kaset kan susah skip-nya, jadi musisi juga lebih dihargai dengan cara didengar semua lagunya," jelas Jodi.

Kaset warna-warni

Untuk memberikan kesan unik dan menarik, Nanaba Records merilis kaset dengan tampilan kemasan warna-warni. Menurutnya, selain menjual audio, mereka menjual visual dari album tersebut, sehingga semakin menarik dan menjadi barang yang bisa dikoleksi.

Kendati begitu, Jodi mengaku juga tidak main-main untuk kualitas audio. Untuk beberapa album, mereka mengimpor kaset pita agar kualitas suaranya jernih dan tidak kalah dari CD.

Salah satu yang puas merilis kaset dengan label ini ialah band folk asal Kota Bandung, Littlelute. Band tersebut merilis album perdananya Trace of Dollface and Plots dalam format kaset pada 2016 silam.

"Kalo dari segi kerja sama enak banget, terbuka, pengerjaannya cepat dan enggak mengecewakan pokoknya," jelas Dhea Febrina, vokalis Littlelute.

Lebih mahal dan eksklusif

Ternyata, modal merilis kaset pita lebih mahal daripada merilis CD. Satu kaset pita membutuhkan modal sekitar Rp25 ribu, sedangkan CD sekitar Rp15 ribu. Keterbatasan modal membuat Nanaba Records akhirnya merilis kaset secara terbatas.

Label yang bermarkas di Jakarta tersebut paling banyak merilis 300 buah, yaitu album Sigmun dan Danilla, sedangkan yang paling sedikit ialah Polka Wars, band Jodi sendiri, Peonies, yang hanya dirilis 3 buah.

"Waktu itu enam kaset itu dilelang di Record Store Day 2016, hasilnya waktu itu kita sumbangkan ke yang membutuhkan," jelas pria kelahiran Blora tersebut. Diceritakan Jodi, satu kasetnya terjual paling besar Rp300 ribu pada pelelangan tersebut.

Jumlah rilisan yang terbatas menjadikan beberapa kaset rilisan label tersebut menjadi eksklusif. Kaset penyanyi Danilla, misalnya. Pada Record Store Day 2016, Nanaba merilis kaset berisikan single teranyar Danilla bertajuk "Liar".

Pada perilisan tersebut satu kaset dibandrol seharga 50.000 rupiah dan langsung ludes habis dalam waktu dua jam. Karena kesklusifannya, kini harga kaset tersebut melonjak cukup tinggi di pasaran. Bahkan di media sosial Instagram, kaset tersebut naik sekitar 100%-150% dari harga aslinya.

Tidak akan mati

Record Store Day 2015 diakui Jodi sebagai puncak eksistensi kaset pita saat ini. Pada pagelaran pecinta rilisan fisik tersebut, ada lebih dari 50 rilisan kaset pita. Jumlah tersebut paling banyak jika dibandingkan dengan rilisan dalam format lain. Nanaba sendiri merilis 10 kaset pada acara tersebut.

Menurut Jodi, mau naik atau turun kaset pita, tetap akan ada pendengar setianya. Dia membuktikan walaupun sempat ditinggalkan pada era awal 2000, kini mulai banyak kembali orang yang mendengarkan kaset pita. "Kaset akan selalu hidup, karena pasar bisa diciptakan," kata Jodi mengutip lirik dari band Efek Rumah Kaca. (M-1)

Bagus Patria, Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar