Wirausaha

Konsumen Tenang, Order Moncer

Ahad, 26 February 2017 02:45 WIB Penulis:

MI/IIS ZATNIKA

Lupakan bahan kimia semacam boraks, formalin, hingga rhodamin b yang menghantui bahan pangan olahan produksi UKM di Indonesia. Di gerai yang juga rumah produksi Benning Food di Desa Parung, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, kita hanya akan menemui olahan ikan, udang, dan rajungan yang sedap. Semua olahan tersebut diawetkan dengan hanya mengandalkan sedikitnya lima mesin pendingin. Wujudnya, bakso, nugget, somay, samosa, hingga martabak.

“Kami memproduksi 30 item makanan olahan sebanyak 6 hingga 8 kuintal per hari dengan bahan baku ikan, udang, dan rajungan 2 sampai 3 kuintal,” kata Purnani, pemilik Benning Food, ketika dijumpai Kamis (23/2).

Kisah tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai pengatrol bisnis juga dikisahkan Purnani, lulusan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang mulai berbisnis pengolahan ikan pada 2010.

“Awalnya saya menjual olahan ikan produksi pengusaha lain. Melihat seorang teman menguasai teknik pengolahan produk ikan ini, saya pun mencoba berbisnis, lewat lika liku perjalanan merintis, belajar dari berbagai resep dan pelatihan, bisnis ini berjalan,” kata Purnani yang dibantu 35 karyawannya juga rutin menyelenggarakan pelatihan, menerima kunjungan belajar, hingga membimbing pelajar dan mahasiswa magang.

Dongkrak bisnis
Ingin lepas dari stigma produk pangan olahan produksi UKM selalu lekat dengan bahan kimia berbahaya, SNI untuk produk bakso ikan telah dimilikinya sejak 2013 dengan kode LS-PRO- HP/01/x 2013. “Supaya usaha ini berkah, yang makan juga aman dan juga menunjang pemasaran, kami juga telah mendaftarkan produk otak-otak dan nugget pada Januari kemarin,” kata Purnani yang mengaku penjualannya terdongkrak hingga 30% dengan dimilikinya SNI.

Standardisasi yang menjamin keamanan produknya, kata Purnani, menjadi tiketnya untuk memasukkan bakso-bakso ikannya ke dapur hotel-hotel minimal bintang tiga di Jabodetabek.

“Kami bagi produk berdasarkan tiga grade berdasarkan komposisi kandungan ikannya, nah yang grade A ini masuk hotel dan yang di bawahnya masuk ke pasar-pasar modern, di antaranya Lottemart,” kata Purnani yang mengaku investasi dana, waktu, dan energi yang dialokasikan untuk perolehan SNI sebanding dengan perputaran order yang dihasilkan.

Tiket ke pasar global
Erniningsih, Deputi Bidang Informasi dan Permasyarakatan Standardisasi BSN mengungkapkan, UKM sebaiknya memasukkan agenda mengurus SNI sebagai amunisi memasuki percaturan bisnis global, karena peran tarif bea masuk sudah digantikan standardisasi.

“Standardisasi melindungi konsumen dari produk yang tidak memenuhi standar, memfilter produk agar yang masuk hanya yang bermutu. Ketiga, meningkatkan daya saing. Peluang hanya bisa dimanfaatkan bangsa yang berdaya saing tinggi,” kata Erni.

Karena itu, bagi UKM yang ingin berdaya saing baik di tingkat nasional maupun global perlu menerapkan standar agar terus terpacu meningkatkan mutu dan mempunyai sistem untuk mempertahankannya.

Buat memiliki SNI yang memuat spesifikasi teknis berdasarkan konsensus stake holder, lanjut Erniningsih, pengusaha harus memenuhi spesifikasi atau persyaratan teknis, yang detilnya bisa dilihat di sisni.bsn.go.id atau menghubungi LITE BSN.

“Jika sudah terdaftar, akan dilakukan pengujian di laboratorium pengujian yang diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN). UKM mengajukan sertifikasi SNI dengan menyiapkan dokumen legalitas dan persyaratan administrasi lainnya yang dipersyaratkan Lembaga Sertifikasi Produk (LS-Pro). Setelah syarat dipenuhi, LS-Pro akan melakukan asesmen dengan penerapan sistem manajemen mutu serta sampling,” ujar Erniningsih.

Ketika SNI sudah di tangan, lanjut Erniningsih, peluang ekspor lebih terbuka, terlebih jika SNI sama dengan standar di negara tujuan. Namun, jika belum sesuai, bisa dilakukan penambahan pemenuhan persyaratan. “Jadi tidak mulai dari nol, mencari yang tidak sesuai dan menyelesaikan masalah tersebut,” ujar Erni.

Pasar ekspor
Saat ini, lanjut SNI, penerap SNI sudah mencapai 12.146 perusahaan, baik berskala besar, menengah, maupun kecil.

“UKM pun banyak yang sudah menerapkan SNI. Untuk meningkatkan penerapan SNI pada UKM, BSN melakukan pembinaan sertifikasi SNI pada. Sampai dengan 2017, BSN sudah melakukan pembinaan pada 350 UKM, dan yang mendapatkan sertifikat 37,” kata Erniningsih yang mengaku ia dan timnya punya turut bangga dengan para UKM penerap SNI, di antaranya PT Hari Mukti Teknik, milik Ashari yang menghasilkan mesin laundry Kanaba (Karya Anak Bantul). kanaba telah digunakan hotel, rumah sakit, maupun pengusaha laundry.

Ashari meraih sertifikat SNI IEC 60335-1-2010; SNI IEC 60335-2-11:2012, ISO 10472-1:1997, serta ISO 10472-6:1997.

“Ada juga cerita bagaimana SNI mulai diakui internasional, contohnya PT Mulia Glass yang bisa menembus pasar internasional karena telah mengantongi sertifikat SNI.” (Zat/M-2)

Komentar