Wirausaha

Standardisasi, Modal Eksis di Pasar Global

Ahad, 26 February 2017 02:30 WIB Penulis: Iis Zatnika

MI/IIS ZATNIKA

PUZZLE bergambar Boboiboy, karakter pahlawan super kreasi Animonsta Studios, Malaysia, itu ditumpuk rapi di gudang Omochatoys, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Ada enam jenis mainan, mulai puzzle hingga balok, dengan gambar tokoh-tokoh film seri yang ditayangkan di 11 negara Asia Tenggara hingga Korea Selatan itu.

Di belakang mainan edukasi dari kayu itu, tertulis label yang menjelaskan bahwa Omocha Toys memang mendapat mandat buat memproduksi atas izin sang pemilik lisensi Boboiboy.

“Kami memproduksi pesanan ini dari perusahaan Jepang, sebanyak enam item, masing-masing 600 buah. Bangga juga karena produk ini terkait dengan brand global,” kata Wahyuni, pendiri Omochatoys, produsen mainan edukasi berbahan kayu.

Saat dijumpai Media Indonesia di toko dan gudangnya, Rabu (22/2), sambil memperlihatkan bahan baku utamanya, kayu pinus yang sudah dipotong beraneka ukuran dan dioven itu, Yuni pun berkisah tentang perjalanannya hingga masuk di lima besar industri mainan kayu nasional serta melakukan penetrasi di pasar global.

Malaysia dan Jepang
Yuni mengaku rutin melayani order dari Malaysia yang rutin mengulang pesanan setiap 1 hingga 3 bulan. Sementara itu, pesanan berkarakter Boboiboy dimulai dengan kedatangan pihak pembeli langsung dari Jepang, hingga kemudian pemesanan dan pemeriksaan kualitas barang dilakukan agen yang ditunjuk.

Order dari luar negeri melengkapi pencapaian Omochatoys yang penjualannya di dalam negeri didominasi kontribusi dari sedikitnya 120 agen yang tersebar di penjuru Nusantara, mulai berbagai kota di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Lombok. Selain itu, ada pula rak-rak Omochatoys di toko-toko dalam naungan merek nasional dan global seperti Carrefour dan Gramedia.

“Untuk agen di dalam negeri, yang sistemnya online, kami memberlakukan sistem dropship. Kami mengirim langsung ke alamat pembeli sehingga ongkos kirimnya cukup sekali. Selain pasar ritel, konsumen utama kami adalah TK-TK, baik nasional maupun terkait dengan lisensi pendidikan internasional seperti HighScope yang berkantor pusat di Amerika Serikat,” ujar Yuni yang kini dibantu 12 staf dan 20 anggota tim produksi.

Ekspansi pun terus dilakukan dengan upaya penjajakan melalui berbagai agen dari dalam ataupun luar negeri, tentunya dengan perhitungan diskon dan jumlah pembelian.

Sementara itu, toko yang dibukanya, lanjut Yuni, lebih berfungsi sebagai ruang pamer serta peranti buat menarik kepercayaan calon pembelinya.

“Ada juga memang penjualan ritel, harga yang kami jual pun eceran, sehingga tidak merugikan agen,” kata Yuni yang memilih fokus pada kayu karena bahan bakunya yang cenderung alami pun ketika rusak, tetap dapat bersahabat dengan alam karena mudah hancur di tanah.

Komitmen pada SNI
Dengan mulai berwirausaha produksi mainan berbahan kayu sejak 2008 setelah sebelumnya berjualan mainan impor, Yuni menyakini komitmennya pada pemenuhan aspek sertifikasi menjadi pengatrol utama bisnisnya.

“Awalnya saya juga konsumen mainan kayu untuk tiga anak saya, dan ketika mulai jadi agen mainan impor, ketertarikan khusus ibu-ibu tentangga dan kenalan pada mainan kayu membuat saya yang tak punya dasar perkayuan, belajar bisnis hingga cara memotong, mengoordinasikan perajin, hingga memastikan kualitas produk terjaga,” ujar Yuni.

Pilihan menyasar konsumen anak-anak, dengan dominasi pembelinya adalah kalangan sekolah, membuat Yuni menjaga betul jaminan keamanan produknya.

“Kami telah punya Standar Nasional Indonesia (SNI) pada seluruh produk sejak 2014, begitu Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengeluarkan regulasi tentang SNI mainan anak. Karena niat saya, produk saya punya jaminan keamanan buat anak-anak, saya langsung inisiatif mencari informasi dan mengupayakan SNI,” kata Yuni.

Datang ke BSN dan beroleh informasi bahwa SNI diperoleh melalui Lembaga Sertifikasi Produk (LS-Pro), dengan biaya Rp15 jutaan, Yuni memperoleh SNI pertamanya dari PT TUV NORD Indonesia yang berafiliasi dengan perusahaan sertifikasi global asal Jerman.

“Saya telusuri persyaratannya, mulai administrasi, legalitas, isi berbagai formulir. Mereka memahami posisi kami sebagai UKM sehingga baik dari segi biaya maupun asistensi pengisian formulir yang berbahasa Inggris juga dibantu,” kata Yuni yang kemudian rutin memperbarui SNI-nya setiap enam bulan dan mengalami lonjakan penjualan hingga 100% setelah punya SNI.

Kini, Yuni mengantongi SNI dari LS-Pro perusahaan swasta. Ia berencana memindahkan sertifikasinya pada penyedia jasa sertifikasi BUMN.

Peranti pemasaran
“Semua standarnya sama, tapi kami memilih yang namanya sudah dikenal karena ini kan marketing tools yang cukup penting,” kata Yuni yang memajang spanduk bertuliskan nomor SNI-nya di dinding depan ruang pamernya serta seluruh produknya, LS PRO 022 NRP 204-002-140877.

SNI itu, kata Yuni, di antaranya menjamin produknya bebas bahan kimia berbahaya, terutama pada cat yang digunakan, tidak runcing, permukaannya tak berisiko menimbulkan goresan pada kulit, serta jika terjatuh pada ketinggian tertentu tidak gampang hancur.

Memproduksi 400 jenis mainan yang terbagi dalam 12 kategori, mulai puzzle, balok, mainan simulasi pemotong, alat pemukul, alat musik, papan alur, menara, pengenalan bentuk, kendaraan, wire game, alat peraga baca serta mainan lainnya, Omocha Toys menyasar anak-anak usia 3 hingga 5 tahun. Fungsi untuk merangsang motorik kasar, halus, pengenalan huruf, angka, hingga profesi membuat produk Omochatoys mudah menyasar pasar global karena wujudnya yang cenderung universal.

“Karena ini alat edukasi dasar sehingga pengembangan varian produknya juga tidak terlampau cepat. Yang saya perbarui lebih banyak soal warna, tapi konsep dasarnya sangat universal,” ujar Yuni yang menjual produknya mulai Rp20 ribu hingga Rp800 ribu dan jutaan rupiah untuk mainan luar ruang yang dikerjakan hanya jika order masuk.

Dari Dramaga, berbekal sertifikat standardisasi, Omochatoys bisa eksis di pasar nasional dan terbang hingga ke ruang bermain di luar negeri. (M-2)

iis@mediaindonesia.com

Komentar