Tifa

Reaksi atas Terkikisnya Harmoni

Ahad, 26 February 2017 01:45 WIB Penulis:

DOK. BAGUS PATRIA ADIPUTRA

KONDISI Indonesia yang saat ini kurang stabil memang cukup memperihatinkan. Perang opini, politik yang absurd, dan konflik tata ruang sering kali menghiasi halaman depan koran pagi yang Anda baca. Pilkada serentak yang baru saja dilaksanakan juga meninggalkan jejak panjang atas banyak hal yang telah terjadi di Indonesia, terutama di Ibu Kota. Pihak yang mudah terprovokasi menambah situasi yang sudah cukup panas menjadi lebih panas.

Fenomena seperti ini sering kali menginspirasi seniman dalam menciptakan karya. Salah satunya seperti yang dituangkan AR Soedarto dalam pamerannya yang bertajuk Gonjing Miring. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, ini merupakan bentuk penggambaran Indoensia saat ini, terutama Jakarta yang sedang mengalami situasi yang cukup panas. Situasi tersebut digambarkan dalam 25 lukisan abstrak yang ada di pameran yang diselenggarakan pada 3-16 Februari 2017.

Menurut kacamata Soedarto, situasi Indonesia terutama DKI Jakarta sedang ada dalam kondisi yang mulai tidak stabil, tidak normal, dan kurang harmonis. Nama Gonjing Miring sendiri dapat diartikan sebagai situasi yang sudah kurang stabil.

Warna hitam dan merah yang mendominasi pameran juga memiliki arti dan maksud tersendiri. Menurut Soedarto, kedua warna tersebut ialah warna yang kuat dan melambangkan situasi yang mencekam juga emosional.

Umur yang sudah kepala enam bukan masalah bagi Soedarto dalam menggelar sebuah pameran tunggal. Gonjing Miring genap menjadi pameran tunggal yang kesepuluh dari seniman yang lahir di kota Kudus tersebut. Hal yang membuat berbeda Gonjing Miring dengan pameran tunggal sebelumnya adalah tema. Jika pada pameran sebelumnya dia lebih sering mengangkat tema lingkungan, pada pameran ini isu politik dan sosial lah yang dipilih. Namun, tetap ada satu benang merah dari kesepuluh pamerannya tersebut, yaitu lukisan abstrak.

AR Soedarto sejak lulus kuliah sudah menggeluti bidang seni lukis abstrak. Menurutnya, seni abstrak membutuhkan sebuah perenungan. "Kalau abstrak itu pasti membuat orang-orang berpikir makna dari lukisan tersebut, nah karena itu nanti timbul interpretasi yang berbeda dari setiap orang yang melihat," jelas bapak empat anak tersebut.

Konflik dan harapan

Sebagai seorang seniman, Soedarto terbiasa dengan kepekaan kondisi situasi di tempat dia tinggal, Jakarta. Aksi 212 yang terjadi di pusat Jakarta ditanggapi olehnya dalam salah satu lukisan yang menjadi karya utamanya dalam pameran ini yang dinamai Jakarta in the 45 Degrees. Sebuah lukisan abstrak dengan dominasi warna merah gelap menggambarkan seberapa genting dan emosionalnya aksi tersebut.

"Menurut saya, aksi 212 tingkat temperatur politiknya sudah tinggi, ada kekhawatiran bisa chaos," jelas alumnus Akademi Seni Rupa Nasional angkatan 76 tersebut.

Soedarto seakan-akan melihat masa depan yang akan dialami Indonesia jika konflik terus terjadi melalui lukisan Gonjing Miring. Semua struktur dalam lukisan tersebut tidak ada yang tegak, menggambarkan sudah tidak stabilnya kondisi di Indonesia. Karung goni dan anyaman digabungkan menjadi material dalam karya tersebut. Karung goni dan anyaman menandakan titik kemelaratan atau kemiskinan di Indonesia. Menurutnya, kemiskinan di mana-mana akan terjadi bila Indonesia yang kini sudah ada di titik miring 45 derajat berubah menjadi jatuh di titik nol derajat.

Walaupun memberikan penggambaran yang mengerikan di masa depan, Soedarto juga masih memiliki harapan terhadap Indonesia. Maka dari itu, selain karung goni dan anyaman, dia menjadikan bambu sebagai material tambahan dalam lukisan tersebut. "Bambu itu melambangkan kelenturan, dalam hal ini saya mengharapkan adanya kelenturan politik di saat para penguasa bisa mengesampingkan egonya demi kepentingan rakyat," harap pelukis yang sudah 10 kali menyelenggarakan pameran tunggal tersebut.

Bukan hanya kaya akan hasil alam, Indonesia juga kaya akan kebudayaan. Salah satu hal yang wajib dipertahankan demi menjaga jati diri bangsa ialah kebudayaan bangsa itu sendiri. Era globalisasi yang semakin menggila sedikit demi sedikit membuat budaya asli Indonesia ditinggalkan bak barang bekas. Fenomena inilah yang membuat Soedarto melakukan eksperimen di pamerannya kali ini. Dia memadukan lukisan abstrak dengan aksara Jawa yang merupakan budaya asli Indonesia. "Selain saya memang berasal dari Jawa (Kudus), perpaduan aksara Jawa dan lukisan abstrak ini juga saya pilih agar bisa tetap menggunakan budaya asli Indonesia dengan harapan budaya sendiri tidak dilupakan," jelasnya. */M-2

Komentar