Tifa

Maestro Cat Air yang Mendunia

Ahad, 26 February 2017 01:30 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

MI/FURQON ULYA HIMAWAN

Kala mayoritas seniman lukis menggores dengan cat minyak, dia memilih jalan sunyi menekuni cat air. Dan ketekunannya mengantarkannya ke pentas dunia.

KERTAS putih berukuran 68x136 cm terbujur di atas meja. Mula-mula ditorehkannya cat berwarna hitam ke sejumlah tempat di kertas itu. Coret-coret tak beraturan, namun pelan dan penuh kehati-hatian. Cat merah menyusul, lalu putih dan kuning yang tidak begitu dominan. Berhenti sebentar, lalu kembali lagi ia menggoreskan tinta hitam ke bidang-bidang yang masih kosong.

Sidik Martowidjojo, dialah yang sedang menggoreskan cat ke kertas, itu. Dia pelukis yang piawai menggunakan cat air. Sebuah seni lukis yang masih langka di Nusantara. Lukisan yang dibuat itu, rencananya dipamerkan di Jakarta, pada Maret mendatang.
"Maret saya akan pameran di Jakarta, katanya kepada Media Indonesia saat berkunjung ke rumahnya, Senin (20/2).

Dalam pameran bertemakan Kebersinaran Cahaya Budaya Dan Seni Rupa Di Indonesia, Dan Kebangkitan Maritim, Sidik memamerkan 80 karyanya di Museum Nasional selama 22 hari, mulai 2-3 Maret.
80 lukisan Sidik yang dipamerkan merupakan karya seni lukis yang masih jarang dijumpai di Indonesia karena semuanya menggunakan cat air. Dan ini merupakan karya seni yang tidak menjadi arus utama seni lukis di Indonesia.

Sebut saja deretan nama pelukis terkenal di Indonesia, mulai Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, S Sudjojono, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, dan Joko Pekik. Mereka pelukis legendaris di Indonesia yang menggunakan cat minyak. Sementara itu, Sidik Martowidjojo, sejak pertama belajar melukis sampai sekarang, tetap saja menekuni cat air. "Saya memang sejak awal sampai sekarang menekuni seni lukis cat air, ujar Sidik.

Ciri khas karya Sidik adalah tentang alam, dan itu bisa didapati dalam pameran tunggalnya di Museum Nasional. Bagi Sidik, alam memiliki keindahan yang luar biasa istimewa. Alam mampu menunjukkan ketenangan, keheningan, maju dan mundurnya sebuah negara. "Kita diberi alam bukan untuk dirusak, tapi dinikmati dan dipelihara. Itulah mengapa saya lebih suka melukis tentang alam, katanya.

Jika melihat pameran karya seni lukis cat air Sidik yang dipamerkan di Museum Nasional, beberapa perubahan akan ditemui. Dan itu merupakan ekspresi perkembangan gaya seni lukis dia. Dari tahun ke tahun selalu ada perkembangan seni lukisnya. Mulai kecerahan warna, gradasi, dan dimensi dalam karya seolah gambar benar-benar hidup. "Tidak hanya karya baru, tapi karya lama juga saya sertakan sehingga terlihat perbedaannya," katanya.

Diakui dunia

Meski karya lukis cat air karya Sidik Martowidjojo masih luput dari perhatian sejumlah kolektor di dalam negeri, dunia luar malah mengapresiasinya. Pada 2014 lalu, Sidik mendapat tempat khusus untuk memajang karyanya di pameran lukis Louvre Internationals Arts di Carrousel du Louvre, Paris, Prancis.

Ada 20 karya Sidik yang bisa dipajang di tempat itu, sedangkan seniman lain hanya bisa memajang 1 karya, dan waktu itu ada 600 karya lebih dari seniman berbagai negara yang ikut. Saat itu pula, Sidik mendapat dua penghargaan sekaligus: medali emas sebagai lukisan terbaik, dan juara umum dari seluruh karya yang ikut.

Sebagai seniman yang menekuni lukis cat air sejak kecil, Sidik sudah memiliki karya yang tidak sedikit, terbilang sudah ada ribuan karyanya. Dan sudah 20 kali melakukan pameran di dalam maupun luar negeri, seperti di The China Millennium Monument Beijing, National Art Museum of China (NAMoC) Beijing, Liu Haisu Art Museum, Shanghai, Fuzhou National Gallery, Fuzhou, dan Huafu Tiandi, Shanghai. Dan tahun ini, Sidik juga berencana menggelar sejumlah pameran di luar negeri lagi, salah satunya di Rusia atau Amerika.

Seni lukis cat air memang masing langka dan mungkin tidak begitu diminati sebagian seniman lukis karena tekniknya yang susah, dan tidak begitu dikenal. Berbeda dengan cat minyak yang sudah banyak dikenal. Namun ketekunan menggeluti cat minyak sejak kecil sampai sekarang membawa Sidik ke pentas dunia.

"Saya ingin memadukan antara khas timur (cat air) dengan khas barat (pewarnaan), dan menjadi ciri khas seni lukis di Indonesia, ujar Sidik.

Yah, di galeri Museum Nasional kali ini, pengunjung akan mendapati uniknya puluhan lukisan Sidik tentang keindahan alam. Sapuan-sapuan kuas yang memiliki teknik khusus, bagaimana mencampur warna dan membuat gradasi. Dan seperti temanya, Sidik ingin menjadikan seni lukis cat air bisa bersinar sebagai ciri khas seni lukis Indonesia. (M-2)

Komentar