PIGURA

Unjuk Rasa di Argakelasa

Ahad, 26 February 2017 01:15 WIB Penulis: Ono Sarwono

SETIDAKNYA lima kali dalam lima bulan terakhir, Ibu Kota Jakarta dibuat 'panas-dingin' oleh unjuk rasa yang meraksasa. Demonstrasi memang hal lumrah di alam demokrasi. Namun, karena aksi itu melibatkan begitu banyak warga, itu jadi tidak biasa sehingga menimbulkan was-was. Meski dikemas dengan jargon aksi damai, tetapi karena demonstrasi berkekuatan masif dan dilakukan berulang kali, gelaran yang dijamin konstitusi tersebut tetap menghadirkan kecemasan. Dikhawatirkan itu akan berefek destruktif yang justru meleset dari tujuannya. Sejatinya, yang paling hakiki dalam demonstrasi ialah bagaimana pesan dan targetnya tercapai. Jadi, bukan besarnya peserta aksi yang menimbulkan kemirisan berbagai pihak. Unjuk rasa sederhana tapi efektif itulah yang pernah dilakukan Gathotkaca dalam cerita wayang. Gonjang-ganjing Syahdan, tanpa sepengetahuan pepundennya (Pandawa), Gathotkaca meninggalkan Kesatrian Pringgondani. Ia menuju dan kemudian memondok di Gunung Argakelasa yang terletak di pinggiran Negara Astina. Sebelumnya, tempat itu pernah digunakan bapaknya, Werkudara, sebagai 'ponpes' ketika menjadi pendeta peparap (bernama) Bimasuci. Di pertapaan tersebut Gathotkaca berunjuk rasa secara superdamai, yakni hanya menjalani laku prihatin dan bermunajat. Jadi yang diunjukkan memang rasanya, bukan aksi fi sik.

Dalam aksi 'diam'-nya itu tentu tanpa dukungan (melibatkan) banyak orang serta tanpa pula orasi. Oleh karenanya kalis dari kegaduhan dan tidak membuat pihak lain ngeri. Uniknya, di tempat itu pula Gathotkaca seolah membuat 'kahyangan tandingan'. Semua saudara yang mendampinginya diberi 'gelar' bathara di depan namanya. Maka, tersebutlah ada Bathara Antareja, Bathara Antasena, Bathara Wisanggeni, Bathara Abimanyu, Bathara Irawan, Bathara Sumitra, dan lainnya. Selain para saudara, tampak juga begawan dari Kendalisada Resi Mayangkara alias Anoman dan senapati Dwarawati Setyaki. Anoman yang mengaku diundang untuk memberkahi aksi Gathotkaca tersebut sejujurnya tidak mengerti tujuan gerakan tersebut. Anoman bertanya kepada Gathotkaca apa yang diingini dengan berunjuk rasa. Dijawab bahwa aksinya semata-mata ditujukan kepada para dewa di Kahyangan, khususnya Bathara Manikmaya, pemimpin Kahyangan Jonggring Saloka. Pesannya, ia menagih janji Manikmaya tempo dulu yang akan memberikan hadiah takhta Kahyangan. Anoman bertanya lagi, apakah tuntutannya itu tidak bertentangan dengan jati dirinya sebagai kesatria. Apalagi, Gathotkaca dititahkan di dunia sebagai kesatria bukan menjadi raja dewa.

Gathotkaca menegaskan bahwa tuntutan sejatinya hanya mempertanyakan, apakah raja dewa yang derajatnya tinggi dengan titah lain, memiliki komitmen akan janjinya. Pada bagian lain, di Kahyangan Jonggring Saloka, Bathara Manikmaya terpaksa menggelar sidang mendadak. Mereka yang diundang hanya kalangan terbatas, para petinggi dewa, di antaranya Bathara Narada dan Bathara Indra. Pertemuan membahas gonjangganjing Kahyangan. Narada melaporkan, berdasarkan 'radar' yang ia gelar, bahwa yang mengakibatkan Kahyangan panas ialah Gathotkaca yang sedang berunjuk rasa di Argakelasa. Putra Werkudara- Dewi Arimbi itu menagih janji Manikmaya yang akan mengangkatnya sebagai raja di Kahyangan. Manikmaya mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. Narada lalu mengingatkan bahwa Manikmaya pernah menjanjikan itu pasca- Gathotkaca sukses mengembalikan ketenteraman Kahyangan yang ketika itu diobrak-abrik Sekipu dan rajanya, Prabu Kalapracona, dari Kerajaan Gilingwesi. Kali ini Manikmaya ingat.

Untuk menjaga muruah dan kewibawaannya sebagai raja dewa, Manikmaya lalu menyatakan akan segera memenuhi janjinya. Ia meminta Narada mengatur kapan waktu terbaik untuk menobatkan Gathotkaca sebagai Raja Kahyangan. Keputusaan Manikmaya tersebut secepat kilat sampai ke seluruh pelosok Kahyangan. Tidak terkecuali sampai ke telinga Bathari Permoni, mantan istri Manikmaya, yang berdiam di Kahyangan Setragandamayit. Permoni lalu mengajak putranya, Dewasrani, menghadap Manikmaya. Permoni terus terang menentang rencana pengangkatan Gathotkaca sebagai raja dewa. Selain derajatnya titah marcapada, perbuatan Gathotkaca di Argakelasa merupakan sikap mirong kampuh jingga (memberontak) kepada dewa. Karena itu harus dihukum. Menurutnya, yang pantas menggantikan kedudukan Manikmaya ialah anaknya sendiri, Dewasrani. Seperti yang sudah-sudah, Manikmaya selalu goyah pendiriannya ketika 'ditangisi' Permoni. Maka, tidak aneh, bila saat itu pula ia bersedia menuruti kehendak Permoni. Namun, syaratnya Permoni dan Dewasrani mesti bisa mengenyahkan Gathotkaca.

Dikisahkan, Permoni dengan bala tentara silumannya menggeruduk Argakelasa. Anoman, Setyaki, dan para putra Pandawa tidak mampu menghadapi musuh aneh yang tidak mereka ketahui asalnya itu. Setiap ditumpas, lawan hidup kembali dan begitu seterusnya. Wisanggeni yang sejak awal hanya menjadi penonton, kemudian maju ke garis depan setelah semua anggota kelompoknya, dan bahkan Gathotkaca, menyerah. Wisanggeni paham betul bahwa musuh yang menggempur Argakelasa ialah bala tentara Setragandamayit. Tanpa banyak waktu, Wisanggeni yang sejatinya ialah Sanghyang Wenang yang sedang mangejawantah, dengan gampang mengusir makhluk siluman tersebut. Permoni, sang komandan, pun dibuat takluk dan menyembah. Setelah tuntas, Wisanggeni terbang ke Kahyangan Jonggring Saloka. Di sana ia mejang (menasihati) Manikmaya akan sucinya janji. Untuk mengembalikan ketenteraman Kahyangan, tidak ada cara lain Gathotkaca harus dinobatkan sebagai raja para dewa.

Menjaga muruah dewa

Singkat cerita, Manikmaya melantik Gathotkaca sebagai raja di Kahyangan bergelar Prabu Anom Guru Putra. Namun, hanya sejenak Gathotkaca di singgasana. Ia segera turun dan kemudian mempersilakan Manikmaya kembali menduduki takhta Kahyangan. Gathotkaca matur (bicara) bahwa dirinya tidak ingin menjadi raja Kahyangan. Ia berkomitmen mengabdikan diri di marcapada karena jati dirinya seorang kesatria. Di saat para dewa masih bengong mendengar ucapan, Gathotkaca meminta pamit dan kemudian turun ke marcapada.

Suasana di Kahyangan pun kemudian kembali seperti sedia kala, tenteram. Nilai dari kisah ini ialah unjuk rasa tanpa menimbulkan kegaduhan dan kekhawatiran. Tidak ada pula tekanan dan bertujuan mulia. Unjuk rasa itu bukan untuk kepentingan rendahan, melainkan justru untuk menjaga muruah dewa sebagai pimpinan Tribuana. (M-1)

Komentar