MI Muda

Mari Berlomba Anak Muda!

Ahad, 26 February 2017 00:45 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

DOK PRIBADI

Ikut lomba harus jadi kultur kekinian mahasiswa Indonesia.

Kuliah di kampus tak cukup buat Muhammad Ihza Muzakki. Ia mempraktikkan apa yang didapat di kampus di berbagai arena lomba. Selama 3 tahun kuliah, sudah 20 kompetisi ia ikuti, baik regional, nasional, maupun internasional.

Yang paling kekinian, Zakki dan tim bertanding di Seoul, Korea Selatan pada Youngstar AD Competition with Samsung. Meski belum berhasil membawa pulang medali pada lomba empat hari itu, Zakki mengaku memupuk percaya diri, membangun jaringan, dan belajar banyak hal baru.
Simak diskusi Muda dengan Zakki ya!

Apa sih yang bikin kamu hobi ikut kompetisi?
Awalnya, aku cari wadah untuk mengapresiasi dan mengaplikasikan ilmu-ilmu teori yang aku dapatkan selama di kampus. Soalnya menurutku, komunikasi dan kreativitas perlu praktik supaya terus berkembang.

Nah, ternyata setelah aku mengikuti berbagai jenis perlombaan, aku dapat lebih. Selain mendapatkan wadah apresiasi, juga ruang berlatih dan belajar hal baru dari berbagai sudut pandang. Selain itu, bisa juga memperluas networking, baik dengan juri maupun sesama peserta, plus jadi punya portofolio.

Menurutku, semua aspek tadi sangat berguna saat aku kerja nantinya. Jadi, sekarang aku sudah lumayan pede-lah buat bersaing di dunia kerja atau bahkan buat lapangan pekerjaan sendiri. Amin... hehehe

Apa saja jenis kompetisi yang kamu ikuti, dan ada enggak bidang khusus yang jadi fokus kamu?
Tidak ada fokus khusus sih, aku suka semua kompetisi yang menuntutku kreatif dan selalu berinovasi untuk mengatasi segala masalah dilingkungan sekitar. Kalau dari jenisnya, ya pernah ikut lomba kehumasan, jurnalistik, manajemen komunikasi, bahkan yang terakhir aku ikut perlombaan soal aplikasi smart city.

Kamu lebih suka berkompetisi secara individu atau tim?
Masing-masing beda sih. Bisa dibilang aku nyaman sama keduanya. Soalnya lomba individu itu biasanya jadi tempat aku menggali kreativitas dan mengeluarkan ide-ide gila.
Namun, saat berkelompok aku dapat teman debat sehingga saling melengkapi. Kadang saat berkelompok itu juga aku bisa menahan ego dan melatih kerja sama tim.

Ceritakan dong berbagai pencapaian kamu dalam berbagai kompetisi?
Sejak 2014 hingga saat ini, aku sudah mencoba 26 jenis lomba. Ada yang tingkatnya regional Jawa Barat, nasional, juga internasional, kebanyakan sih tingkat nasional.

Sejauh ini aku baru memenangi delapan perlombaan. Sisanya ada yang memang hanya menjadi finalis dan ada juga yang baru sampai tahap submit karya. Banyak surutnya sih daripada pasang, tapi itu juga jadi salah satu nilai yang bisa dipelajari.

Kompetisi yang paling menantang?
Kemarin aku ikut Youngstars AD Competition with Samsung pada Festival AD STARS 2016 di Seoul, Korea Selatan. Yang dilombakan ialah ide untuk membuat iklan terintegrasi tentang permasalahan remaja Korea yang terlalu adiktif dengan smartphone.

Perlombaan ini diikuti sembilan negara, yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, USA, Rusia, Spanyol, dan tentu Indonesia. Perwakilan dari Indonesia hanya ada dua tim, yaitu kami dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan satu lagi dari Universitas Diponegoro (Undip).

Kegiatannya berlangsung selama empat hari tapi waktu pengerjaan karyanya hanya 30 jam sudah termasuk waktu tidur dan makan. Karena ini juga perlombaan tingkat internasional pertama lumayan tegang sih. Namun, setelah tahap akhir ternyata secara penilaian dan diskusi dengan para juri ide dari anak bangsa juga tidak kalah kok!

Menurutmu apa yang membedakan ADstar 2016 dengan kompetisi yang pernah kamu ikuti?
Yang berbeda sebenarnya ada pada tahap apresiasi karya, dalam kompetisi ini semua peserta mendapatkan kesempatan untuk menerima apresiasi juga kritik. Bukan hanya karya yang unik atau yang menang saja. Mungkin itu yang paling membedakan.

Selain mengikuti perlombaan, apa lagi kegiatanmu?
Aku jadi ambassador untuk Tokopedia, aku juga sempat jadi salah satu penggagas kompetisi komunikasi tingkat nasional di Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, plus menjadi pencetus dan ketua di komunitas Kujang Ranger.
Kujang Ranger itu salah satu usahaku supaya mahasiswa lain juga mulai memahami fungsi lomba itu dan juga membuka kesempatan mereka buat mengikuti bergam kompetisi.

Cara bagi waktu antara lomba, kuliah, dan kegiatan di Kujang Ranger?
Bisa dibilang cukup sibuk, tapi selama punya skala prioritas, aku rasa semua masih bisa diselesaikan. Mungkin tips dariku, susun deadline atau agenda kegiatan berdasarkan tingkat kesulitan dan masa pengerjaan. Setelah itu, kerjakan dari yang paling mudah dulu. Supaya otak tetap fresh dan bisa menyelesaikan tugas lain.

Agenda kamu berikutnya?
Sejauh ini, aku tuntaskan dulu kuliah. Setelah itu, aku bekerja sambil cari-cari beasiswa. Kalau sudah, aku ingin lanjut sekolah lagi di bidang industri kreatif dan literasi komunikasi di Belanda atau Inggris.

Karena menurutku di Indonesia terutama daerah-daerah pelosok, komunikasi antara orangtua dan anaknya sering kali terhambat sehingga sering kali banyak orang tua yang tidak bisa membimbing anak-anaknya dalam mengonsumsi media sehingga sering kali sikapnya bertentangan dengan norma. Itu sih yang ingin aku ubah kedepannya. Untuk waktu dekat ini aku dengan Kujang Ranger ingin memberikan pemahaman dulu tentang pentingnya berkompetisi di kalangan mahasiswa agar manfaat yang aku dapatkan bisa dirasakan juga sama mereka. Dimulai dari lingkungan kampusku dulu. (M-1)

Komentar