Jendela Buku

Era Baru Disruption

Sabtu, 25 February 2017 05:51 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MASIH lekat dalam ingatan ketika gaya bertransportasi mengalami perubahan hebat dalam tahun belakangan ini, ketika gaya transportasi lambaikan tangan berbalik penuh menjadi model sentuhan jari, tak lagi berdiri dipinggir jalan untuk menumpang taksi, tetapi cukup dengan duduk santai menghadap ponsel pintar.

Perubahan itu ternyata membawa pula dampak sosial yang cukup besar. Pergeseran itu memantik respons dari semua kalangan. Pro dan kontra merebak. Konflik horizontal pun mudah sekali disulut. Akhirnya bentrok antara transportasi konvensional dan transportasi daring pun tak terelakkan. Tentu masih ingat kejadian maret 2015, kala demo taksi konvensional berubah menjadi tak terkendali.

Itu hanya sepenggal peristiwa, masih banyak peristiwa lain dengan pola yang sama. Ketika perusahaan-perusahaan besar harus kelimpungan ketika berhadapan dengan lawan-lawan tak kasat mata, tak jarang mereka pun berakhir dengan menggulung tikar sendiri.

Itulah peradaban uber. Istilah itu merujuk pada dunia baru dengan pembedaan dengan dunia lama. Peradaban itu dikenali dengan perubahan ruang, waktu, pola ekonomi, dan lawan yang tidak kelihat­an. Perubahan yang terjadi diawali dengan hal kecil sedemikian kecil sehingga terabaikan oleh mereka yang besar. Perubahan itu bahkan tidak terlihat, terjadi dari pintu ke pintu, langsung kepada pelanggan, tanpa tanda-tanda yang bisa dibaca.

Sulit untuk dibantah, bahwa saat ini adalah peradaban uber dengan sokongan utama internet. Ketika berada di dalamnya dan ingin bersaing sekaligus menang dalam pertarungan peradaban itu, buku Disruption; Tak Ada Yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi Motivasi Saja Tidak Cukup; Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber karya Rhenald Kasali wajib dibaca.
Peradaban uber menciptakan peluang sekaligus menjadi ancaman bagi usaha. Dalam peradaban Uber, semua lawan menjadi tidak terlihat, tak kasatmata. Perubahan dalam peradaban uber membuat petahana menjadi usang dan kehilangan relevansi dalam menghadapi dunia baru. Lalu bagaimana menghadapinya? Jawabannya adalah disruption.

“Kita menghadapi sebuah era baru-era disruption. Era ini membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing,” (hal 13).

Bukan rahasia lagi, kini dunia tengah menyaksikan perpindah­an mobil ke self driving car yang dikendalikan teknologi informasi (internet) melalui smartphone. Petugas bengkel kelak bukan lagi seorang montir yang dikenal pada abad ke-20, melainkan para ahli IT yang bekerja dengan perangkat lunak. Suka tidak suka, internet of things membentuk peradaban hari ini.

Berkualitas, tetapi harganya lebih dan semakin murah. Itulah disruption. “Singkat saja, disruption adalah sebuah inovasi. Inilah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disruptionberpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disruption menggantikan teknologi lama yang serbafisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat,” (hal 27)
Saat dunia berubah, industri lama pun terdisrupsi tanpa bisa terelakkan lagi. Merasa tak berdaya, banyak orang lama memilih untuk tidak menghadapinya. Mereka memilih untuk bertarung di dalam, bertengkar dengan sesama mereka sendiri, ketimbang berpikir dan berinovasi menghadapi lawan baru di luar sana.

Motivasi

Bahkan banyak yang berpikir solusi untuk menghadapi disruption adalah motivasi. Dan motivator pun menjadi profesi yang tumbuh menjamur. Kini kita temukan bahwa motivasi saja tidak cukup. Sebaliknya, yang diperlukan adalah strategi untuk membaca ‘where we are’ dan “where we are going to”.

Disruption menjadi berat karena banyak orang, termasuk wirausaha dan regulator, tidak tahu apa yang tengah terjadi. Semua orang berpikir bahwa mereka telah melakukan cara-cara terbaik. Tak hanya langkah-langkah manajerial yang sistematis, prinsip-prinsip strong brand dan inovasi pun telah diterapkan. Untuk itulah buku ini ditulis. Untuk membuka mata kita dan melihatnya bersama-sama dengan kacamata baru, membaca proses, lingkungan, dampak regulasi, strategi, dan akibat dari disruption.

Dalam buku setebal 497 halaman ini, pembaca akan menemukan jawaban dari soalan ekonomi yang menjadi sentral saat ini. Seperti misalnya, apa jadinya ketika kaum muda kesulitan berkompetisi melawan incumbent yang sudah berusia puluhan tahun dan memiliki sumber daya yang besar? Apakah saran untuk menghadapi para incumbent yang sudah telanjur mempunyai merek yang kuat? Bagaimana cara bertarung dengan bisnis model?

Selain itu, buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini bakal memaparkan soalan terkait banyak perusahaan mengalami dilema dalam peradaban uber. Seperti Kodak yang tidak berhasil mengembangkan temuannya sendiri dalam industri kamera digital, keresahan Blue Bird ketika menghadapi gelombang taksi daring, kedatangan Uber yang disambut demo besar-besaran di seluruh dunia. Bahkan, berbagai contoh tentang keberhasilan melakukan disruption dalam dunia pemerintahan pun turut ditunjukkan. Seperti Ridwan Kamil mewajibkan pegawai Pemkot Bandung menggunakan media sosial untuk pelayanan publik, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang membuat ruang pelayanan seperti VIP lounge di bandara kelas dunia.

Pola pikir baru

Dalam buku ini pembaca akan menemukan pencerahan tentang pergumulan internal dalam setiap episode disruption, alasan tentang harus ada pola pikir baru dalam disruption. Lebih penting, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi zaman baru yang tak lagi terikat waktu dan tempat? Bagaimana kita membaca dunia baru ini?

Semua soalan tersebut dijelaskan dengan runut dalam lima bagian oleh Rhenald Kasali. Alur dalam buku ini disusun sedemikian rupa sehingga yang enak dibaca dan mudah dipahami struktur logikanya.
Mengapa buku ini penting? Sebab saat ini, alih-alih menyadari era peradaban uber dan mendisrupsi. Sementara banyak orang-orang yang masih berada di dalam terperangkap dalam pertempuran internal yang rumit. Pertempuran yang membuat banyak incumbent bisnis sulit merespon. Jangan pernah meremehkan pertempuran internal. Sebab pertikai­an seperti ini sungguh tak menguntungkan.

Akhirnya, mereka yang sibuk mencari pembenaran dalam pertempuran internal, lalu terjerembap dalam era peradaban uber dan tenggelam dalam era disruption. Padahal disruptionmerupakan tantangan untuk bertumbuh dan berinovasi. Pilihannya hanya menyerang (disrupting) atau diserang (disrupted).

“Lebih baik kita berdamai dan menciptakan cara-cara baru untuk menyambut era baru yang lebih inklusif pada hari esok, pada abad 21 yang baru kita mulai,” (hal 469). (M-2)

Komentar