Teknopolis

Mesin yang Belajar Sendiri

Sabtu, 25 February 2017 02:15 WIB Penulis: Hera Khaerani

Ilustrasi

BAGI sebagian orang, masa sekolah kerap terasa penuh dengan tekanan. Setiap anak diharuskan mempelajari semua mata pelajaran, tak peduli bakat dan minatnya.

Tidak mengherankan, ada yang memilih berhenti dari institusi pendidikan atau memilih melanjutkan ke jurusan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau minatnya.

Watson Education secara spesifik menawarkan solusi untuk masalah itu.

Dalam ruang kelas berisi banyak siswa sekalipun, setiap guru bisa membekali dirinya dengan Watson yang akan memberi tahu hal-hal yang disukai muridnya, bakat, dan minatnya.

Dengan begitu, murid pun bisa belajar dengan cara yang paling sesuai untuk dirinya menemukan jalan hidup terbaik.

Pengajarannya dipersonalisasi untuk tiap murid karena guru tahu apa yang dibutuhkan setiap anak berbeda.

Watson merupakan salah satu produk dari International Business Machines (IBM).

Perusahaan teknologi informasi itu mulai beroperasi di Indonesia sejak 26 Mei 1937, memulai bisnisnya dengan menjual mesin pemroses data ke perusahaan kereta api Staat Spoorwagens.

Nah Watson sendiri diklaim melebihi artificial intelligence (AI), bekerja dengan sistem machine learning dan cognitive computing.

Machine learning memungkinkan mesin atau sistem mempelajari data tanpa pemrograman dan mengambil keputusan sendiri.

Semua lini

Selain di sektor pendidikan, layanan Watson mencakup sektor-sektor lainnya seperti kesehatan, perdagangan, bisnis, dan IoT.

Pada intinya, machine learning bisa menunjang segala lini kehidupan.

Di Amerika Serikat, contohnya, ada supermarket yang tak memerlukan kasir di pintu keluarnya.

Pelanggan cukup melakukan scan barcode saat masuk ke toko.

Tiap kali ada barang yang diambil dari rak, akan langsung terhitung ke dalam tagihan.

Kalau barang dikembalikan ke raknya, otomatis dihapus dari tagihan.

Lalu mereka bisa langsung ke luar dari toko tanpa mengantre di kasir untuk membayar karena pembayaran lewat sistem elektronik.

"Teknologi (machine learning) ini sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu, tetapi kembali menjadi perhatian berkat kemajuan infrastruktur TI, seperti kemampuan computing yang makin baik dan data storage semakin murah," ujar Direktur PT Computrade Technology International (CTI) Group Rachmat Gunawan dalam konferensi pers kick-off CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Jakarta, Rabu (8/2).

CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar 8 Maret mendatang di Hotel Ritz Carlton Pacific Place.

Tema besar perhelatan yang memasuki tahun keempat itu ialah Machine learning: capitalizing the information of everything to drive your digital business.

"Dengan begitu dahsyatnya pertumbuhan data di seluruh dunia, dengan sekitar 2,5 kuintiliun data digital tercipta perhari, bisnis tidak lagi mampu menganalisis data tersebut secara tradisional untuk memperoleh insight penting," jelas Rachmat Gunawan.

Dia berkeyakinan machine learning diperlukan untuk menganalisis data secara otomatis dan memprediksi masa depan untuk mendongkrak pemasukan.

"Sekitar 80% data yang tersebar adalah dark data tidak teridentifikasi, tidak hanya berupa teks tapi juga gambar, video, dan suara," imbuh Presiden Direktur IBM Indonesia Gunawan Susanto dalam kesempatan yang sama.

Makanya mereka membuat solusi kognitif yang memiliki kemampuan untuk membuka data-data yang tidak teridentifikasi tersebut.

Dengan memahami data dengan lebih baik, perusahaan bisa mengambil keputusan untuk lebih maju lagi.

Di Indonesia, sayangnya teknologi ini belum diterapkan.

Melalui ajang itu, CTI berharap bisa menemukan rekan bisnis yang mau bekerja sama dan mewujudkan hal yang sama di Tanah Air.

Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut soal pemanfaatan machine learning untuk infrastruktur bisnis TI Anda?

Tak ada salahnya mendaftar ke CTI IT Infrastuktur Summit mendatang. (Her)

Komentar