KICK ANDY

Jangan Tolak Kami

Sabtu, 25 February 2017 00:15 WIB Penulis:

MI/ SUMARYANTO BRONTO

SELINTAS tak ada yang berbeda dengan fisik Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso.

Namun, perbedaan akan tampak saat ia berbicara.

Putri ialah penyandang tunarungu yang tidak bisa mendengar dan hanya bisa membaca bahasa bibir.

Sejak lahir, Putri sudah tidak bisa mendengar.

Saat dalam kandungan di usia dua bulan, sang ibu Hanny Kusumaningtyas mengalami demam tinggi.

"Ibu saya tahu waktu saya satu tahun pada waktu saya ulang tahun. Jadi orang-orang tepuk tangan, tapi saya diam saja dan ibu mulai curiga kenapa kok diam saja. Akhirnya saya dibawa ke dokter dan ternyata dokter bilang saya mengalami tuli. Ibu kaget berat dan menangis bahkan marah-marah sama dokternya," ujar Putri.

Sarjana desain komunikasi visual itu sadar, kaum disabilitas memang masih dipandang sebelah mata dan terpinggirkan, terutama dalam kompetisi di dunia kerja.

Ratusan lamaran kerja yang dikirimnya ditolak.

"Rasanya mau bunuh diri karena berat. Setelah tamat sampai melamar kerja 500 kali dan belum ada return. Ada satu perusahaan yang memberi return, tapi kemudian menolak secara halus. Pada waktu interview di perusahaan, mereka nanya kenapa saya ngomongnya seperti ini dan saya bilang kalau saya tuli," ujarnya.

Tidak mau diam diri, perempuan berusia 26 tahun itu mendirikan Yayasan Sampaguita pada 2 Agustus 2016.

Di bawah payung Yayasan Sampaguita Dhaya Foundation ia membekali teman disabilitas siap kerja agar tidak mengalami penolakan seperti dirinya.

Yayasan ini berdiri karena dukungan pengusaha dermawan bernama Donda Lucia.

Ia percaya kaum disabilitas Indonesia mampu mandiri secara ekonomi. Berbagai pelatihan keterampilan diselenggarakan secara gratis, seperti pelatihan tata boga, membuat aksesori, dan menjahit.

Materi pelatihan diberikan para relawan sesuai bidang masing-masing.

Tidak sampai di situ, Sampaguita Foundation menyalurkan para penyandang tunarungu yang sudah mengikuti pelatihan menjahit ke perusahaan-perusahaan garmen.

Hasil karya mereka dijual ke berbagai perusahaan besar atau dipasarkan secara daring hingga Kanada.

Sang ibu mengaku sedih melihat anaknya berbeda.

Sebagai orangtua, ia tidak bisa terima kondisi Putri kala itu.

"Dokter bilang saya enggak usah khawatir dan sebagai solusi dia menyarankan agar anak saya dimasukkan ke Yayasan Santirama, sekolah untuk tunatungu. Ternyata begitu lulus dari latihan itu, kepala sekolahnya bilang Putri potensinya sebenarnya di sekolah biasa," ungkap Hanny.

Akhirnya Hanny menyekolahkan Putri di sekolah biasa.

Meski Putri dipandang sebelah mata, ia berkomitmen, bila Putri tidak mampu mengikuti pelajaran dari kelas 1-3, ia akan mengeluarkannya.

Ternyata hingga kelas 6 ternyata Putri bisa mengikuti pelajaran bahkan hingga sarjana. (Ima/M-4)

Komentar