KICK ANDY

Penyemangat Meraih Prestasi sang Ibu

Sabtu, 25 February 2017 00:00 WIB Penulis: Imania Kamila

MI/ SUMARYANTO BRONTO

PERJUANGAN ibu dimulai sejak ia menggandung, lalu membesarkan, dan mendidik anak untuk menjadi sosok yang membanggakan kelak.

Salah satu ibu yang pantang menyerah mendukung buah hatinya ialah Elbriani Sinaga.

Demi mewujudkan cita-cita kedua putranya menjadi atlet, Elbriani rela bekerja serabutan untuk menopang kehidupan keluarga, mulai berdagang buah kedondong, pisang goreng, es buah, hingga berjualan kopi.

Selama 10 tahun Elbriani tak pernah absen menemani kedua anaknya berlatih dan bertanding di cabang olahraga renang.

Awalnya perempuan berusia 51 tahun itu mengikutkan putra pertamanya, Reinhard Thomel, di kompetisi renang.

Ternyata jejak Reinhard menjadi atlet renang diikuti putra bungsunya, Yohanes Richard Aditya.

Selama mereka berlatih, perempuan yang akrab disapa Edel itu memilih berjualan kopi. Uang yang dikumpulkannya digunakan untuk membeli peralatan renang dan memenuhi nutrisi sang anak.

"Semangat mama yang paling luar biasa dan rasanya jarang dan enggak akan menemukan ada ibu yang rela melakukan segala apa pun demi memfasilitasi anaknya supaya bisa menjadi seseorang dan itu ada di mama saya," ujar Reinhard.

Perjuangan Edel berbuah manis ketika kedua putranya sukses menjadi atlet kebanggaan DKI Jakarta, bahkan Indonesia.

Sebanyak dua medali emas di PON 2015 direbut Reinhard.

Sementara itu, sang adik mendapatkan dua perunggu di ajang yang sama.

Rasa lelah dan perjuangan Elbriani terbayar sudah dengan prestasi anak-anaknya yang sangat membanggakan.

Dalam audisi PON bahkan kakak beradik itu bertanding dalam satu seri untuk jarak 400 m dan 800 m.

Meski sang ibu harus berjualan kopi, ia tak pernah merasa malu.

"Saya enggak pernah malu karena mama kan jualan itu untuk memfasilitasi kami berdua. Bagaimana mama bekerja mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Jadi, apa yang harus dimalukan dari kerja keras mama," kata Rheinard.

Teriakan penyemangat

Demi memberikan semangat kepada kedua putranya saat berlatih maupun pertandingan, tak jarang Elbrina berteriak dengan lantang dari tepi kolam.

Aksi yang penuh semangat itu menjadikannya diingat panitia dan suporter lainnya.

"Saya teriak-teriak biar lebih semangat biar lebih cepat, pokoknya bagaimana dia bikin yang terbaik buat DKI buat setiap ada ajang," ujar Elbriani.

Kedua putranya tak pernah malu saat melihat aksi sang ibu.

Malah Rheinard mengatakan dirinya kerap kalah pamor dengan sang ibu.

"Pernah ada pengalaman di kejuaraan nasional di Kalimantan saya dapat lima medali emas di sana. Bukan saya yang diwawancarai wartawan, tapi malahan mama," katanya.

Serupa dengan kakaknya, Yohanes Richard Aditya tidak pernah merasa malu dengan kebiasaan mamahnya.

"Justru itu sebagai penyemangat dalam bertanding. Selalu berpikir kalau capek dalam pertandingan, selalu mikir pasti mamah di atas heboh. Jadi saya enggak kalah semangat hebohnya di kolam," ujar atlet berusia 17 tahun itu.

Teriakan sang ibu memberikan prestasi bagi keduanya.

Rheinhard berhasil mewakili DKI Jakarta untuk selam kolam.

Kemudian prestasi tertingginya ialah peringkat ketiga dunia, peringkat ketiga asia, hingga pemegang rekor SEA Games 2011 untuk selam kolam yang diukur kecepatan.

Prestasi luar biasa pun dapat ditorehkan sang adik.

"Prestasi saya awalnya dari kejuaraan nasional dua tahun terakhir perenang terbaik nasional kategori junior. Setelah itu peringkat tiga Asia dan terpilih membawa nama Indonesia pada ajang kejuaraan dunia junior di Prancis dan menduduki peringkat 19 di dunia," kata Richard.

Bonus-bonus yang diperoleh keduanya digunakan untuk membeli rumah yang saat ini ditinggali keluarnya.

Elbriani tidak lagi menjual kopi sejak suaminya Thomson Lumban Gaol meninggal pada 2015.

Reinhard melarang sang ibu berjualan kopi agar bisa fokus mendukung anak-anaknya bertanding.

Namun, kebiasaannya bekerja membuatnya membuka warung makan yang dimodali anak-anaknya.

Semua prestasi tentu tak luput dari doa sang ibu yang dilakukan tiap tengah malam.

Meski kini kehidupan keluarga sudah jauh membaik, kebiasaan berdoa malam tak lantas ditinggalkan Elbrina.

Untuk menambahkan nutrisi terbaik sang buah hari, Elbrina memelihara satu ayam jantan dan enam ayam betina di rumahnya.

Pelihara untuk mendukung anak bisa jadi atlet berprestasi.

Baik telur dan dagingnya.

"Kita kan mengambil telurnya juga daripada kita beli di pasar kan kurang terjamin. Kalu kita pelihara sendiri kan pasti lebih terjamin karena kita kan makannya itu mentah kuningnya aja," tutup Elbrina. (M-4)

Komentar