Hiburan

Salawaku Angkat Tradisi dan Budaya Maluku

Kamis, 23 February 2017 13:34 WIB Penulis:

Ist

PERKEMBANGAN perfilman Indonesia kini sangat menarik. Ini terlihat dengan berbagai macam genre film yang dibuat dan dikemas dengan sangat apik. Tidak hanya menyajikan hiburan semata, film dijadikan sebagai ajang untuk lebih mengenal dan mencintai tradisi dan budaya Indonesia.

Salawaku, film Indonesia bergenre road movie yang diproduksi oleh Kamala Films dan disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Film ini juga menjadi film layar lebar pertama bagi Pritagita. Berlatar belakang di Maluku, tepatnya Pulau Seram Bagian Barat, film ini menghadirkan eksotisme keindahan alam Indonesia bagian Timur yang memanjakan mata.

Kisah tentang perjalanan dua manusia yang berbeda usia yaitu Salawaku (Elko Kastanya) dan Saras (Karina Salim). Pertemuan Salawaku dan Saras dimulai saat Salawaku mencuri sampan dan berlayar untuk mencari dan menemukan kakaknya. Sewaktu di tengah laut, ia bertemu dengan Saras, si gadis Jakarta di sebuah perahu yang hanyut terbawa arus pasang.

Petualangan mereka pun dimulai dengan mengelilingi pulau seram. Hingga hadir sosok Kawanua (JFlow Matulessy ), kakak angkat Salawaku. Kawanua pun menyusul Salawaku dalam pencarian sang kakak Salawaku, Binaiya (Raihaanun) berada. Berbagai konflik dan drama menyertai kisah perjalanan mereka sebelum bertemu Binaiya. Dua sosok itu kini melangkah menjauh sebagai dua manusia yang tidak lagi sama.

Salawaku bukan hanya tercatat membawa pulang tiga piala pada Festival Film Indonesia pada 6 November 2016 lalu, yaitu Pemeran Anak Terbaik (Elko Kastanya), Pengarah Sinematografi Terbaik (Faozan Rizal), dan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik (Raihaanun), tetapi juga mendapatkan nomine Film Terbaik (Kamala Films, produser Ray Zulham, Mike Julius), dan empat nominasi FFI lainnya, yaitu Sutradara Terbaik (Pritagita Arianegara), Pemeran Pembantu Pria Terbaik (Jflow Matulessy), Penata Musik Terbaik (Thoersi Argeswara), dan Lagu Tema Film Terbaik (Imaji Sunyi, Musik: Niko Veryandi, Lirik: Siska Salman).

Tak hanya itu, Raihanun juga mendapatkan penghargaan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik versi Majalah Tempo 2016.

Film perdana sutradara Pritagita dengan rumah produksi Kamala Films ini memiki beragam keunggulan. Tidak hanya gambar indah yang mengekspos eksotisme tanah Maluku yang digarap apik oleh sinematografer Faozan Rizal, dan juga jalan cerita yang ditulis Iqbal Fadly yang siap mengaduk-aduk emosi penonton sepanjang film.

Salawaku juga didulat menjadi Film Pembuka pada festival tahunan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF 2016) ke-11 dengan tiket yang terjual habis dan berhasil membuat antrian panjang pencinta film pada malam pembukaan.

Salawaku diperkuat oleh sejumlah pemain tidak hanya dikenal khalayak tetapi berhasil memainkan peran dengan baik. Mereka ada Karina Salim, Raihaanun, JFlow, Shafira Umm, dan pendatang baru Elko Kastanya. Sebagai film yang berlatar di desa di timur Indonesia, Salawaku tak akan sukses tanpa keterlibatan 80% pemain Maluku di dalamnya yang seluruhnya berdialog dengan bahasa daerah.

Sebenarnya, apa arti sesungguhnya dari ‘Salawaku’?. Salawaku merupakan perisat atau alat perang tradisional di Maluku, yang kemudian dipilih untuk menjadi nama karakter dalam film.

"Maluku mempunyai ratusan bahasa dan etnis sehingga membutuhkan tradisi besar dengan satu simbolik yang diwujudkan pada Salawaku. Salawaku berarti bertahan, bersabar, taeng dan psikologi orang Maluku dalam menahan amarah," ucap Executive Producer, M Ikhsan Tualeka, melalui keterangan tertulis, Kamis (23/2).

Salah satu alasan produser memilih lokasi syuting di Kota Piru, Seram Bagian Barat, Maluku yaitu tempat tersebut bukan hanya menakjubkan tetapi juga menjaga kearifan lokal. Proses syuting dilakoni selama 2 bulan penuh pada Juni-Juli 2015 silam saat bulan puasa dan faktor cuaca yang acap kurang bersahabat membuat aktris Karina Salim mengakui jika proses syuting lumayan berat.

"Syuting nonsetop, cuacanya panas banget,” tuturnya. Namun, dia berhasil menghadapi berbagai tantangan di lokasi dan sukses membawakan perannya dengan sangat baik.

Film Salawaku mendapat kehormatan menjadi film Indonesia pertama yang didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam rangka meningkatkan dan memajukan industri perfilman Indonesia. (RO/OL-6)

Komentar