Polkam dan HAM

Indonesia Sasaran Empuk Serangan Siber

Rabu, 22 February 2017 07:40 WIB Penulis: Agus Utantoro

Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia, Yudi Prayudi -- MI/Agus Utantoro

SERANGAN siber atau cyber attack yang mengarah ke Indonesia, terus mengalami lonjakan tajam. IDSIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure) mencatat, selama 2015 terjadi serangan siber ke Indonesia sebanyak 28.430.843 kali dan melonjak hingga hampir lima kali lipat pada 2016 mencapai 135.672.984 kali.

Anehnya, dalam menghadapi serangan siber itu, tidak ada institusi negara yang berwenang untuk menangkal dan menanganinya. “Seperti misalnya kalau untuk pencarian dan pertolongan ada Basarnas, kalau menghadapi bencana alam ada BNPB, dan saat menghadapi terorisme ada BNPT demikian pula untuk narkoba ada BNN. Sedangkan untuk menganangi serangan siber sejauh ini belum ada,” kata Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia, Yudi Prayudi, Selasa.

Menurut Yudi serangan siber ke Indonesia ini banyak mengarah ke institusi pemerintah termasuk di dalamnya KPU. Sedangkan ke institusi swasta, tidak terlihat catatannya, karena kebanyakan swasta menutup diri.

Ia menyebutkan, dampak serangan tersebut sangat beragam meski yang terbanyak masuk dalam kategori tidak diketahui atau unknown. “Dampak lainnya adalah account hijacking, DDOS, malware, malvertising dan sebagainya,” imbuhnya.

Serangan siber tersebut, ujarnya, terbanyak adalah phising atau mengambil data pribadi seseorang hingga menyamar sebagai orang atau organisasi, disusul identity theft atau pencurian data pribadi seseorang melalui pengisian formulir daring. “Serangan lainnya berupa hacking dan online harassment,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, saat ini dilihat dari sisi keamanan, Indonesia berada di urutan ke-13 di dunia dan urutan kelima di kawasan Asia Pasifik. Untuk kawasan Asia Pasifik ini, katanya, Indonesia berada di atas Tiongkok. Sedangkan teraman Asia Pasifik adalah Australia, disusul New Zealand, India, Jepang, Korea, Singapura dan Hongkong.

Padahal, lanjutnya, penetrasi internet di Indonesia ini mencapai rata-rata 51 persen atau sedikit di atas rata-rata dunia yang mencapai 50 persen. Sedangkan kecepatan internet di Indonesia rata-rata mencapai 6,4 Mbps sedangkan dunia rata-rata 6,3 Mbps. “Kecepatan terbaik di Korea yang mencapai 26,9 Mbps,” jelasnya.

Sementara penetrasi media sosial di Indonesia mencapai 40 persen atau di atas rata-rata dunia yang mencapai 37 persen, dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 34 persen atau di atas rata-rata yang mencapai 21 persen.”Orang Indonesia, rata-rata bermedia sosial selama tiga jam 16 menit per hari,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Yudi Prayudi juga menyorot terjadinya serangan siber terhadap KPU khususnya KPUD DKI Jakarta. Ia menyebutkan, dalam serangan siber ke KPU DKI Jakarta itu, sempat muncul adanya kiriman dari seseorang yang memberi petunjuk bagaimana mengatasinya. Namun, lanjutnya, jika itu dilakukan justru akan menyebabkan server down.

Pada laman KPU DKI Jakarta, tambahnya, terjadi sesaat dan diperkirakan maintenance internal dengan cepat bisa menanganinya. Ia menambahkan, pada serangan itu, ada indikasi beberapa domain sempat kena deface. “Namun tidak sampai masuk ke sistem internal atau database utama,” ujarnya.

Disebutkan, dalam serangan itu terjadi adanya manipulasi data lokal website. Sehingga sempat muncul data pasangan calon dengan nomor urut 1 mencapat 5.487.816 suara, pasangan calon nomor urut 2 mendapat 9 suara dan pasangan nomor urut 3 mendapat 0 suara.

Dengan adanya peningkatan serangan siber itu, Yudi mendesak pemerintah agar segera membentuk lembaga atau badan yang menangani serangan siber itu. Pentingnya badan tersebut juga karena selama ini belum ada koordinasi lintas sektoral dan multidimensi diantara lembaga yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas siber, misalnya Lembaga Sandi Negara, Kominfo, Cybercrime Polri, Kementerian Pertahanan, Kemenko Polkam dan sebagainya.(OL-4)

Komentar