Khazanah

Tuah Rumpun Padi di Ladang Dayun

Ahad, 19 February 2017 14:30 WIB Penulis: Aries Munandar

Dayun membudidayakan berbagai jenis padi lokal untuk menyiasati topografi dan kondisi lahan di ladangnya. Tradisi ini pun sarat pantangan dan lelaku ritual.

SEBUTIR melon dibelah Marsiana Dayun untuk disajikan kepada tamu. Buah tersebut dipetik dari ladang yang berjarak sekitar 1 jam dengan berjalan kaki dari kediamannya. Melon yang dipanen Dayun berasa segar dan berdaging buah empuk serta aman untuk dikonsumsi karena bebas dari residu pestisida.

Dengan bangga, dia pun memperkenalkan dirinya sebagai warga satu-satunya yang berhasil membudidayakan melon di kampung mereka. "Melon tidak bisa tumbuh di ladang lain karena menggunakan pestisida," kata Dayun saat ditemui di kediamannya, Januari lalu.

Dayun merupakan peladang di Dusun Ukit-Ukit, Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dia menerapkan pola tumpang sari dengan menanami sayuran dan buah-buahan di ladangnya. Ada yang ditanam dan dipanen sebelum ladang ditanami padi. Ada pula ditanam di sela-sela padi yang telah membesar.

Perempuan 47 tahun itu memilih jenis padi lokal untuk ladangnya. Selain menganggap rasanya lebih enak setelah dimasak menjadi nasi, perawatannya relatif mudah dan lebih tahan terhadap serangan hama ataupun penyakit. "Padi unggul semacam cibogoh dan ciherang pernah juga ditanam tapi tidak mau tumbuh," ujarnya.

Dayun membudidayakan lebih dari satu jenis padi lokal. Ada sekitar 6-7 dari belasan jenis padi lokal yang ditanam dalam sekali musim perladangan. Ada jenis rabe, barok, ase uwe, tutongadong, bonyak, dan pit batu. Selain itu, dia biasa membudidayakan ase banjar, bugis, semakau, tasik, lawang, dan varietas lokal lainnya.

Ladang milik Dayun menempati hamparan lahan yang tidak rata. Ada di dataran tinggi, landai, hingga dataran rendah dan berawa. Itu sebabnya dia mengunakan berbagai jenis padi untuk menyiasati tofografi dan kondisi lahan tersebut. Lahan paya atau berawa, misalnya, ditanami dengan varietas tasik yang toleran terhadap genangan air.

Setiap varietas juga menghasilkan beras dengan tekstur dan cita rasa berbeda. Ada yang pulen, ada pula yang pera atau bertekstur keras dan lebih mengembang setelah ditanak menjadi nasi. Jenis padi berberas pulen, di antaranya ialah ase uwe, pit batu, dan barok, sedangkan beras pera, contohnya ialah jenis rabe. "Nanti memasaknya dicampur agar nasinya tidak lembut, tapi tidak juga terlalu keras dan kembang," jelas Dayun yang menghasilkan sekitar 2,8 kuintal gabah setiap panen.

Waktu dan tenaga saaat menanam dan memanen pun lebih efisein dengan beragam varietas yang ditanam. Varietas lokal rata-rata berusia panen sekitar enam bulan setelah ditanam. Namun, ada beberapa varietas yang berselisih hingga dua minggu usia pemanenannya. Bisa lebih cepat atau lebih lama ketimbang yang lainnya. Dengan selisih usia panen itu, penanaman bisa dilakukan bergilir. Varietas yang berusia lebih panjang ditanam lebih dahulu daripada padi yang berumur singkat atau pendek. Begitu pula saat pemanenan, waktunya bisa diatur hingga tidak serempak dalam satu hamparan ladang.

Ritual adat

Pembukaan lahan dan penanaman hingga pemanenan padi di Ukit-Ukit dilakukan secara bergotong royong. Tradisi ini mereka sebut beduruk atau situlis. Peladang yang lahannya telah dibersihkan harus ikut membersihkan ladang milik warga lain.

Tradisi perladangan di perkampungan Dayak Tamambaloh ini juga sarat dengan lelaku spiritual melalui serangkaian ritual adat. Ritual pertama ialah pamindara pada saat pembukaan lahan untuk memohon izin kepada arwah leluhur atau penunggu lahan. Peladang menuangkan tuak sebanyak tiga kali ke lahan dan disertai rapalan mantra.

Dayun mengaku pernah mengabaikan ritual ini sehingga mendapat teguran dari arwah leluhur melalui mimpi. "Saya langsung terbangun dan bergegas menyiapkan sesajian untuk pamindara pada keesokan paginya," kenang ibu tiga anak itu.

Pamindara kembali digelar saat hendak menanam padi agar tumbuh subur. Sesajiannnya kali ini lebih lengkap, yakni berupa lemang dan nasi beserta ikan salai sebagai lauk, rokok daun, dan sirih-pinang. Setiap bahan yang disajikan harus berjumlah delapan sebagai simbol arwah yang baik. Ikan salai harus berasal dari ikan tidak bersisik.

"Kalau tujuh itu simbol arwah tidak baik (jahat). Jadi, kami meminta tolong arwah yang baik untuk mengusir arwah jahat," lanjut Dayun yang selalu menyisihkan sekitar 5-7,5 kilogram hasil panen untuk setiap varietas sebagai benih.

Ritual adat juga dilakukan apabila padi diserang hama atau penyakit. Sesajiannya berupa lemang dan daun kulombok atau penganan sejenis ketupat. Daun kulombok beserta lemang kemudian digantung pada kayu dan ditancapkan di ladang. Peladang memanggil dan mempersilahkan arwah untuk mencicipi sesajian tersebut dengan merafalkan mantra.

Daun kulombok beserta lemang juga menjadi sesajian utama dalam ritual saat panen padi. Ritual ini sebagai isyarat pemberitahuan kepada para penunggu lahan sehingga mereka tidak terganggu oleh berbagai aktivitas pemanen. Semangat atau keberkahan padi diharapkan juga tidak menyasar atau lari ke tempat lain.

Selain lelaku ritual, ada berbagai pantangan dalam tradisi perladangan di Ukit-Ukit. Peladang, misalnya, dilarang beraktivitas apa pun selama tiga hari di ladang yang baru dibuka. Masa pantang berladang pun berlaku ketika ada warga meninggal dunia hingga jenazahnya dikebumikan.

"Pantangan lain ialah ketika mendengar suara ketupung, burung sejenis pelatuk yang berukuran kecil dan tak berekor. Itu pembukaan lahan harus dihentikan. Begitu pula ketika ada pohon tumbang, peladang harus pindah dan mencari lokasi baru," jelas Antonius Sadau, 58, suami Dayun.

Pembukaan lahan untuk berladang juga tidak boleh dilakukan perempuan yang sedang berhalangan (haid). Bahkan saat menanam dan memanen pun sebaiknya tidak melibatkan mereka.

Musim perladangan di Ukit-Ukit ditutup dengan pamole beo sebagai pesta panen. Upacara adat ini digelar pada Februari atau Maret selama tiga hari-tiga malam di balai adat. Pamole beo merupakan wujud syukur warga atas hasil panen. Mereka membawa hasil ladang untuk dipersembahkan dan dikonsumsi bersama dalam pesta adat tersebut. (M-2)

Komentar