PIGURA

Bukan Suket Teki

Ahad, 19 February 2017 13:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

MENCARI Negarawan. Demikian acara di Metro TV terkait dengan pilkada serentak yang baru lalu. Sehubungan dengan itu pula, seorang pembaca rubrik ini bertanya, adakah model negarawan dalam pakeliran?

Bicara negarawan, perlu diperjelas apa artinya terlebih dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, negarawan ialah ahli dalam kenegaraan; ahli menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.

Dalam pengertian lain, negarawan selalu mengutamakan negara (rakyat). Kalis dari urusan pribadi ataupun keluarga dan kelompok. Di sana inheren pengorbanan diri demi kepentingan yang lebih luas.

Di negeri ini, faktanya berjibun pemimpin dan pejabat, selaras dengan banyaknya posisi jabatan negara yang tersedia. Namun, mirisnya, mereka yang menjadi negarawan sejati sungguh sangat terbatas. Sejujurnya, negeri ini memang lagi dilanda paceklik negarawan.

Tidak cawe-cawe

Bila mengulik dalam jagat pakeliran, cukup banyak tokoh yang memberikan keteladanan sebagai seorang negarawan. Salah satunya pemimpin atau raja yang bernama Kresna Dwipayana. Titah sekualitas dewa ini juga bernama Abiyasa, Wiyasa, dan Rancakaprawa alias Sutiknaprawa.

Langkah besarnya yang membuat dunia kagum ialah ketika ia mengakhiri kekuasaannya dengan adagium lengser keprabon madeg pandhita. Maknanya, melepaskan kekuasaaan dengan baik-baik untuk kemudian mendekatkan diri kepada Sanghyang Widhi.

Menurut sejarah hidupnya, Abiyasa tidak memiliki gambaran bakal bersinggungan dengan dunia politik, apalagi menjadi penguasa (pemimpin). Dari kecil hingga dewasa, ia hidup di pertapaan Retawu dengan segala keterbatasannya. Pergaulannya banyak bersama para cantrik dan jauh dari lingkaran kekuasaan dan urusan negara.
Trahnya, Abiyasa merupakan anak begawan Palasara dengan Durgandini (Lara Amis), putri Prabu Basuketi, Raja Wiratha. Perpisahannya dengan sang ibu kandung disebabkan pernikahan orangtuanya tidak direstui Basuketi. Akhirnya Palasara terpaksa berpisah dengan Durgandini.

Selama hidup di Retawu, Abiyasa banyak menjalani hari-harinya seperti kebiasaan sang ayah. Gentur laku prihatin dan bersemedi. Tampaknya Abiyasa memang berbakat dan tertarik pula mengikuti jejak bapaknya.

Uniknya, selain tekun membaca kitab suci, Abiyasa mempelajari berbagai 'ilmu duniawi', di antaranya ilmu tata negara dan ilmu pemerintahan. Ia pun belajar ilmu politik. Semua itu ia timba demi menyempurnakan pengetahuannya tentang hidup sejati.
Pada suatu ketika, seiring dengan berjalannya waktu, Durgandini yang saat itu telah menjadi janda Raja Astina Prabu Sentanu memanggil Abiyasa. Putranya itu diperintahkan untuk menjadi Raja Astina.

Durgandini mengambil keputusan radikal itu karena dua putranya dari benih Sentanu, yakni Citranggada dan Wicitrawirya, yang berhak menjadi raja, meninggal dunia tanpa memiliki keturunan. Karena itu, untuk mengisi kekosongan takhta Astina, Abiyasa mesti menggantikannya.

Abiyasa tidak pernah membayangkan akan bersinggungan, apalagi memegang kekuasaan yang begitu besar, menjadi raja. Sejatinya, ia juga tidak tertarik dengan kedudukan tersebut. Hanya karena baktinya kepada sang bunda, ia menyanggupi amanah tersebut. Abiyasa dinobatkan menjadi raja Astina bergelar Prabu Kresna Dwipayana.

Selama menjabat, Kresna Dwipayana sangat dekat dengan rakyat. Sang raja sering blusukan ke seluruh pelosok untuk menemui rakyatnya. Dari sana ia menyerap aspirasi yang kemudian diejawantahkan dalam kebijakan. Singkat cerita, di bawah pemerintahannya, Astina mencapai zaman keemasan. Negara yang besar, adil, dan makmur.

Setelah Astina tertata dan mencapai keagungannya, Kresna Dwipayana merasa saatnya untuk menyerahkan estafet kepemimpinan kepada penerusnya. Ia memiliki tiga putra dari tiga istri yang berbeda. Yang sulung bernama Drestarastra dari istrinya yang bernama Ambika, kemudian Pandu (Ambika), dan yang bungsu Yama Widura (Datri).

Kresna Dwipayana akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Pandu sebagai raja Astina berikutnya. Penunjukan anak keduanya itu disebabkan Drestarastra, yang sesungguhnya yang berhak, menolak karena merasa dirinya tidak mampu akibat menderita cacat netra, buta.

Setelah semuanya beres, Kresna Dwipayana pamit. Ia kemudian kembali ke pertapaan Retawu di lereng Gunung Saptaarga untuk menekuni 'hobi' lamanya menjadi petapa, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Di pertapaan, Abiyasa membuka pintu kepada keturunannya dan siapa saja yang meminta nasihat baik yang menyangkut tentang urusan bangsa, pemerintahan negara, maupun soal kepribadian.
Dalam perjalanannya, yang paling sering sowan ialah para cucu dan cicitnya, yakni Pandawa dan anak-anaknya. Meski demikian, Abiyasa tidak pernah mencampuri langsung urusan keturunannya. Ia hanya memberikan nasihat, sedangkan keputusan diserahkan kepada mereka.
Karena itu, ketika keturunannya (Pandawa-Kurawa) berperang di Kurusetra untuk memperebutkan kekuasaan atas Astina, Abiyasa tidak pernah cawe-cawe atau ikut campur tangan. Ia baru muncul setelah Bharatayuda berakhir. Di sana ia menyempurnakan sukma-sukma yang bergentayangan untuk bisa kembali ke alam keabadian.

Dalam hal ini, Abiyasa benar-benar telah menempatkan diri sebagai bapak bangsa. Bukan hanya bagi bangsa Astina, melainkan juga dunia. Dalam bahasa lain, Abiyasa juga memamu hayuning bawana, membuat peradaban dunia semakin baik.

Menaman harapan

Hikmah kisah Kresna Dwipayana alias Abiyasa ini ialah bahwa ia seorang negarawan tulen. Ketika menjabat, ia mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara dengan tulus dan ikhlas. Kemudian, setelah tidak menjabat (lengser), ia benar-benar melepaskan diri dari kepentingan kekuasaan. Hidupnya total dipersembahkan untuk kebaikan dunia.

Dalam konteks ini, pilkada yang baru saja berlangsung sejatinya memang ajang mencari negarawan. Dengan kata lain diharapkan, di 101 pilkada muncul (terpilih) negarawan-negarawan tulen.
Bila pilkada diibaratkan lahan, rakyat telah menanam benih dengan harapan bisa memanen, bukan tumbuh hama yang merusak. Seperti diibaratkan dalam syair lagu Suket Teki gubahan penyanyi campursari Didi Kempot, tak tandur pari jebul thukule malah suket teki (ditanam padi ternyata yang tumbuh malah rumput teki). Filosofinya, yang diharapkan ternyata hampa, tidak memberikan kesejahteraan dan malah menimbulkan masalah alias nyampah. (M-4)

Komentar