Tifa

Tarian Panglima Penyambut Sultan

Ahad, 19 February 2017 17:00 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

Tarian Kapita ialah tarian yang menceritakan perlawanan masyarakat Tidore atas penjajah portugis. Tarian ini menggambarkan sambutan selamat datang kepada Sultan yang dilakukan panglima.

TIGA lelaku mengambil sikap. Mereka mengenakan atasan dan bawahan sebawah lutut berwarna putih, berlingkar kain merah kecil yang diikat mengelilingi leher mereka. Ketiganya sama dengan kain leher itu. Tidak ada banyak pembeda dari ketiganya. Hanya, salah satu dari mereka agak berbeda dengan kain merah yang dikenakan menutup kepala. Sementara itu, dua yang lain menggunakan kain tutup kepala berwarna warna putih.

Mereka bersiap diri dengan posisi berjongkok. Kedua kaki menekuk dengan tumpuan berat pada kaki kanan. Jemari kaki kanan menekuk sehingga posisi betis dan paha bertemu. Tekukan itu menepis habis rongga sehingga seolah paha dan betis saling bertumpu dan beradu berada pada satu garis. Kaki kiri ditekuk dengan sedikit longgar. Masih ada ruang tersisa. Ada beda tinggi antara lutut kanan dan kiri. Posisi kedua kaki seperti itu dengan pembagian berat badan tentu memudahkan untuk bangkit dan berdiri.

Sementara itu, kedua tangan bersilang tepat di atas tanah. Keduanya tidak kosong, tangan kanan menggenggam parang, sedangkan telapak kiri memegang parang.

Itulah posisi awal yang digunakan untuk menarikan tari Kapita Juanga. Tarian ini berasal dari Tidore, Maluku Utara. Mereka menarikan itu bukan tanpa sebab. Kala itu mereka menyambut kedatangan Sultan Tidore H Husain Sjah di Fola Barakati Leuwinanggung Jawa Barat pada 12 Februari 2017.

Acara itu juga dihadiri Wali Kota Kota Tidore Kepulauan Ali Ibrahim dan Jejau (Perdana Menteri) Kesultanan Tidore Amin Faruq. Kedatangan Sultan Tidore berkenaan dengan acara peluncuran lomba menulis blog bertema Tidore untuk Indonesia.

Semangat perjuangan

Tarian Kapita Juanga ialah jenis tarian perang. Tema yang dibawakan dalam tarian ini juga tentang semangat perjuangan dan karakter pejuang yang dimiliki masyarakat Tidore. Tarian itu memiliki beberapa gerakan yang melambangkan gerakan perlawanan terhadap penjajah. Nama kapita yang berarti seorang pemimpin perang atau panglima.

"Kalau di daerah kami, Kapita Juanga. Tarian itu tarian perang. Tariannya Sultan Nuku, Sultannya kita di Tidore," terang salah satu penari Abdullah Muhammad, 25, yang akrab dipanggil Om Gogoo.
Om Gogoo tidak sendirian dalam menarikan Kapita, masih ada Agung Firmansyah, 21, dan Ahmad Dzulfikar, 18.

Untuk menyajikan tarian itu, mereka bertiga harus mempersiapkan segalanya. Dari kostum sampai properti tari. Terutama gerakan.
"Butuh persiapan, harus dilatih lagi," tambah Agung Firmansyah.
Menurut Om Gogoo, tarian itu punya dua gerakan utama, yakni gerakan dasar dan gerakan bunga. Gerakan dasar merupakan sikap perang dengan posisi badan agak ke bawah. Gerakan itu menempatkan sikap tubuh bersiap, mirip dengan gerakan kuda-kuda. Kedua kaki sedikit ditekuk dengan salah satu berada di muka serta parang yang disiagakan menghadap depan. "Gerakan pertama dasar, kalau ada yang variasi. Kalau yang potong-potong itu disebut bunga," imbuh Om Gogoo.

Sementara itu, gerakan bunga ialah gerakan yang merupakan kembangan dari gerakan dasar. Gerakan bunga pun terbagi menjadi tiga. Pertama, bunga potong, yakni gerakan memotong menggunakan parang, sekaligus menggerakkan parang sebagai penangkis serangan musuh.

Kedua, bunga jalan yakni gerakan saat maju menyerang musuh. Ketiga adalah bunga saling potong. Bunga terakhir ini yang hanya dipentaskan hanya dalam pentas. Sebab bunga ini mengharuskan dua pemain berhadapan dan saling potong. "Bunga ada tiga, kalau bahasa daerah kami itu bunga potong, bunga jalan. Ketiga itu hanya dipakai pada pentas saja. Itu berhadapan lalu saling potong-potong," lanjutnya.

Sebab ini tarian perang, jangan harap disuguhkan sikap hangat dan wajah manis, ataupun senyum yang menyungging bibir dari para penari. Sebaliknya, mereka akan menampilkan wajah sangar dan beringas saat menari. Dari yang sebelumnya mereka hangat di luar pentas, menjadi sosok yang sangat berbeda saat masuk dalam arena tari. "Karena karakter kita kaya gitu. Karakternya keras. Jadi kita mau tampilkan ini lho kita," sahut Agung.

Tarian perang

Tari itu merupakan tari perang yang serumpun dengan Tari Soya-Soya dan Cakalele. Lalu mengapa tarian perang malah digunakan untuk melakukan penyambutan terhadap Sultan. Ternyata arti kapita ialah panglima. Jadi tarian ini menggambarkan sambutan selamat datang kepada Sultan yang dilakukan panglima.
"Kalau Kapita sebenarnya tarian panglima. Kapita itu panglima," tegas Budayawan Tidore Sofyan Daud, 45.

April mendatang, Tidore bakal menyelenggarakan hari jadi. Itu saat yang pas untuk melihat tari Kapita di negeri asalnya. Apalagi akan banyak acara budaya yang bisa dinikmati sembari berkunjung ke tempat indah bersejarah di Tidore. Selain itu, Hari jadi Tidore selalu didatangi orang-orang yang pernah secara historis punya ikatan-ikatan kultural dengan Kesultanan Tidore. "Ini merupakan potensi pariwisata yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu, di Hari Jadi Tidore ini, kita ingin memperkenalkan Tidore itu secara umum ke seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia," begitu menurut Sultan Tidore ke-37 H Husain Sjah.

Tidore menjadi saksi keagungan kerajaan yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi. Pada masanya, Tidore ialah kerajaan besar yang mampu membangun hubungan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris.
Pulau cantik dengan segudang potensi wisata, baik wisata sejarah, wisata budaya, wisata religi, maupun wisata alam. Tidore punya itu semua. Jadi, jangan ragu mengenal budaya sekaligus menikmati alam Tidore. (M-2)

Komentar